Ruang Sunyi

Guru, Peningkatan Kesejahteraan dan Angka Perceraian | 15 Oktober 2012

Ada banyak fenomena menarik beberapa tahun belakang. Salah satunya adalah terkait meningkatnya angka perceraian di kalangan para pendidik, guru. Memang beragam alasan yang melatar belakanginya, tapi tentu menjadi hal menarik berkaitan terjadi di kalangan para pendidik yang diharapkan menjadi panutan di tengah minimnya keteladanan.

Guru, sebagai elemen dasar pendidikan di tanah air, tak ada yang meragukan bila profesinya memiliki peran sentral dan mendasar dalam membangun karakter bangsa secara keseluruhan. Bagaimanapun, seorang guru merupakan “orang tua kedua” bagi para murid/siswa didik.

Oleh karena itulah rezim SBY seolah menyadari  akan pentingnya peningkatan kesejahteraan bagi kalangan guru. Salah satunya dengan menelurkan kebijakan tunjangan sertifikasi guru yang besarannya bisa mencapai satu kali gaji setiap bulannya. Sebagai suatu bentuk “penghormatan” atas jasa-jasa dalam upaya “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Sehingga para guru tak lagi harus merasa dianak-tirikan menjadi “pahlawan tanpa tanda jasa”. Karena saat ini sudah ditingkatkan taraf hidup dan kehidupannya, bahkan seringkali berbalik mengundang “kecemburuan” di kalangan Pegawai Negeri Sipil (PNS) lainnya.

Namun rupanya kebijakan tersebut kini dicurigai sebagai faktor utama munculnya suatu permasalahan baru, yaitu sebagaimana yang telah dibahas di muka. Yakni peningkatan angka perceraian di kalangan para pendidik/guru. Tengok saja misalnya di Malang, Pekalongan, Cirebon, Bandung, Depok, Kendal dan lain sebagainya. Meningkatnya taraf kesejahteraan guru rupanya telah cukup banyak diselewengkan. Meski tentu saja masih banyak guru-guru yang mulia, tentu hal ini menjadi fenomena yang menghawatirkan bagi perkembangan pendidikan bangsa yang saat ini terus menjadi sorotan.

Melemahnya mental dan integritas bangsa tentu sedikit banyak dipengaruhi oleh model pembelajaran di sekolah. Tragedi tawuran pelajar, aksi contek masal, masuknya konten dewasa dalam buku LKS, kasus mark up buku ajar dan alat peraga pendidikan serta berbagai kasus di dunia pendidikan sudah cukup memiriskan hati para orang tua didik.

Bila dunia pendidikan telah ikut sedemikian kelam, bagaimanakah dengan masa depan anak-anak dan bangsa ke depan? Tentu hal ini harus menjadi tantangan dan bahan evaluasi bersama. Bukan sekedar dibebankan pada kementrian pendidikan dan kebudayaan semata.

Janganlah sampai pameo “guru kencing berdiri murid kencing berlari”, menjadi  kambing hitam atas potensi penyimpangan perilaku generasi mendatang. Bagaimanapun, hal ini juga menjadi tanggung jawab semua warga negara. Bukan menjadi “beban di pundak” guru semata.

Meski tak bisa dipungkiri bahwa guru jugalah manusia, yang tentu punya salah dan kekeliruan. Namun demikian tetap saja para guru harus menyadari perannya sebagai seorang pendidik yang sudah pasti dituntut keteladanan dan integritasnya melebihi profesi apapun. Wallahualam…

About these ads

Tinggalkan sebuah Komentar »

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: