Cari

Ruang Sunyi

Museum Tanya, Tawa dan Semesta yang Lekas Terlupa

Ulama dan Kontrol atas Politik Hukum

Demo 411 masih menarik diulas. Dari berbagai analisa,  rasanya masih belum banyak yang menyentil akan pentingnya kembali kontrol atas politik hukum  di negeri ini. Terutama setelah sekian lama aktor-aktor vokal OSM Jakarta banyak terabsorsi pusat kekuasaan,  dan asyik menikmati privilege dan jabatannya sehingga lebih banyak bungkam atau bahkan menjustifikasi apapun langkah pemerintah,  ulama (silahkan dilabeli konservatif atau bahkan fundamentalis tapi itu bukan poin pentingnya) hadir sebagai lokomotif atas kontrol publik yang kian sepi dan ditinggalkan beberapa tahun terakhir. Selebihnya perlu juga ditengok bagaimana ulama-ulama yang dikenal moderat sekalipun cukup tegas bersikap, mengenai manuver yang tidak pantas sang gubernur, dalam berbagai pernyataannya mereka di media baik sebelum ataupun setelah 411.

Boleh saja menilai isu yang diusung primordial, yaitu soal penistaan agama, tapi akan lebih menyehatkan jika ditempatkan sebagai kontrol atas politik hukum yang semakin tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Dalam hal ini saya menyarankan tulisan Harper Lee dalam bukunya How to Kill a Mockingbird yang menggunakan latar isu rasial sebagai proxy bercokolnya ketidaksetaraan hukum di negeri Paman Sam kala itu sebagai rujukan.

Ketika bahkan KPK seolah tak lagi banyak diharapkan menjaring ikan-ikan besar dn justru sibuk memancing di kolam kecil, pun demikian kejaksaan yang banyak dipertanyakan manuvernya,  terbaru soal Dahlan yang jika dibanding kasus sumber waras,  lahan sendiri yang dibeli pemprov DKI atau kasus transjakarta sekalipun terasa kental motif di luar penegakan supremasi hukum apalagi keadilan.

Terlalu dini jika berkesimpulan bahwa Demo 411 sebagai kembalinya legitimasi ulama dalam preferensi politik umat,  dan teralu jauh jika memadankan aksi jumat lalu sebagai langkah awal mendorong uapaya yang serupa dengan gerakan ulama yang memimpin revolusi Islam Iran.

Tapi yang pasti bahwa problem politik hukum dan alpanya kontrol publik di sana, perlu terus mendapat perhatian dan didorong.  Ulama sudah mengawali dan menendang bola untuk pertama kali,  siapa yang akan memainkannya?

Karakter dan Cara Kita Mengajarkannya Pada Anak

Belakangan dunia pendidikan kita penuh sesak oleh beragam polemik. Mulai dari rentetan kriminalisasi guru, bongkar-pasang menteri yang menggawangi, hingga wacana sekolah sehari penuh yang disodorkan oleh menteri baru.

Polemik sekitar dunia pendidikan tersebut begitu bising kita dengar dari layar kaca, baik layar yang menyiarkan siaran berita di tengah ruang keluarga ataupun layar kaca yang kita genggam, tempat kita bersosialisasi secara digital.

Tak sedikit dari kita terpancing, dan  secara suka rela memang menyukai, untuk menyelam sembari minun air dalam kegaduhan demikian ini. Apapun topiknya. Tak peduli kalau sebetulnya tak kita kuasai permasalahannya. Pokoknya hajar dulu urusan bisa belakangan.

Awalnya secara pribadi saya tidak terpikat untuk ambil peran dalam kegudahan-kegaduhan serupa ini. Selain tidak punya cukup bekal kedalaman pengetahuan, debat kusir macam begini lebih banyak berujung pada menengangnya otot saraf leher dan tangan yang kencang mengepal karena kram alih-alih mengalirkan air jernih nan suci mensucikan. Kuldesak. Tak sampai dimana-mana.

Sementara itu tulisan ini memaksa dilahirkan, sebagaimana tulisan-tulisan sebelumnya yang seringkali membuat saya sulit tidur jika tidak segera dibariskan. Mungkin karena hati saya tergelitik, terutama lebih untuk menertawakan diri sendiri, ketika banyak orang kemudian menyentil soal pendidikan karakter. 

Ada yang merujuk pada pola pendidikan Finlandia, Jepang, dan negara lain sebagainya, yang seringkali seolah ingin mentasbihkan diri kita sebagai bangsa yang inferior dan bagian paling menyedihkan lagi ketika kita lihat bahwa faktanya memanglah demikian. Nasib.

Saya tidak tahu bagaimana sistem dan pola pendidikan yang paling tepat untuk kita terapkan bagi seluruh sekolah di pelosok tanah tumpah darah. Seharian penuh atau sekelebat hari, berbasis kompetensi atau berbasis imajinasi, bertaraf internasional atau bertarif internasional, banyak PR atau banyak les, dengan ujian nasional atau tidak.

Yang saya yakini bahwa semestinya bukan sistem tunggal yang harus diterapkan untuk seluruh sekolah dari Aceh hingga Papua. Mesti ada yang diperlakukan secara prioritas berdasar kebutuhan masing-masing wilayah. Sulit? Bukankah sudah tugas pendidikan untuk memudahkan segala kesulitan hidup manusia?

Kembali soal pendidikan karakter, yang  memicu kelahiran tulisan ini, yang konon lebih dibutuhkan dan mendesak. Menurut keyakinan saya, yang seringkali goyah dan meragu, lebih banyak dipelajari anak-anak kita di rumah dan pergaulan sosial -sekarang juga digital- ketimbang di ruang kelas sekolah. Anak-anak kita lebih banyak menduplikasi praktek kehidupan keseharian ketimbang doktrin-doktrin moralitas ala bangku sekolah.

Celakanya seringkali  ruang-ruang tersebut bertolak belakang satu dengan yang lainnya, dan doktrin moral sekolahan paling rentan terpinggirkan.

Sebagai contoh:

1. Sekolahan mengajarkan anak-anak untuk membuang sampah pada tempat sampah melalui ilustrasi cerita atau tugas mencongak mengisi titik-titik dalam sebuah mata pelajaran yang berisi banyak petuah-petuah lainnya yang mesti dihafal satu persatu dalam waktu bersamaan dan tempo sesingkat-singkatnya. Sementara kita, orang tuanya, memberikan pengalaman praktek kerja lapangan harian dengan membuang sampah di pinggir jalan, di aliran sungai atau melalui lubang jendela kaca mobil. Pyaarrrr….

2. Guru sekolah mengajarkan anak kita untuk menaati aturan rambu lalu lintas, dengan cara yang belibet sebagaimana diutarakan dalam poin sebelumnya. Lalu kita, lagi-lagi orang tuanya yang cuma bisa ngomong doang tapi tidak memberi contoh baik, mengajak jalan-jalan berkeliling kompleks tanpa mengenakan helm dengan alasan dekat dan seringkali menerabas lampu merah dengan alasan tidak ada petugas. Brrrrr….

3. Pelajaran sekolah mengajarkan betapa luhurnya berkata jujur dan nistanya sebuah kebohongan, sementara lagi-lagi tiada lain dan tiada bukan kita orang tuanya, meminta anak-anak kita berbohong tentang keberadaan kita ketika misalnya, ada tamu yang tak diinginkan datang. Entah penagih hutang kreditan, tetangga yang suka ngutang atau peminta sumbangan yang kita yakini abal-abal. Pyuuhhh….

4.  Buku sekolah mengajarkan agar kita bisa saling menghargai pendapat orang lain, toleransi. Sementara kita, orang tua yang paling tahu apa yang terbaik bagi anak-anaknya, seringkali tanpa babibu memaksakan ini-itu kepada anak-anak kita yang juga punya dunia, imajinasi dan obsesinya sendiri. Melarang begini-begitu tanpa penjelasan dan diskusi yang masuk akal, atau setidaknya mendengarkan keinginan dan argumentasi anak terlebih dulu. Nyumnyumnyum…

5. Bangku sekolah mementingkan betapa anak-anak kita mesti menepati janji, pentingnya menjaga integritas dengan membenamkan nilai moral bahwa janji adalah hutang. Sementara di rumah kita banyak memberi janji-janji palsu sekedar untuk membuat anak tidak merengek dan menangis, sementara kita tak pernah berniat benar-benar menepatinya. Sudahkah menghitung berapa gunung hutang yang telah kita bangun untuk mereka tanpa sedikitpun rasa bersalah mempertaruhkan integritas di mata mereka?

Beberapa daftar bisa anda tambahkan sendiri, sejauh anda mau jujur bercermin melihat buruk muka sendiri -dan jika boleh saya sarankan sebanyak mungkin mentertawakannya dibanding berupaya membelah cermin yang dapat berpotensi melukai tangan atau menambah buruk muka sendiri.

Begitulah adanya, sudah sering kita bandingkan perbedaan sistem pendidikan negeri ini dengan negara lain, tapi alpa kita bandingkan cara orang tua di sana mendidik dengan yang kita lakukan di rumah.

Tapi bukankah memang begitu fungsi adanya sekolahan? Untuk bisa kita persalahkan atas ketidakbecusan kita mendidik anak-anak kita sendiri.

Saya dan Kekonyolan Lainnya

Konyol. Kata paling presisi untuk merangkum peristiwa yang baru saya lakoni. Dan maaf, sebelum melanjutkan barisan kalimat selanjutnya,  perkenankan saya untuk menertawakan diri sejenak.   
            
                    ******************

Alkisah pagi ini adalah jadwal penerimaan penghargaan komperisi menulis opini/feature yang diselenggarakan oleh Bapermades Provinsi Jawa Tengah dalam rangka memperingati bulan Gotong Royong. Saya tidak mau menyebut ini sebagai kebetulan,  tetapi lebih senang jika kita sebut saja sebagai peruntungan,  bahwa tulisan saya ~yang kacau dan tanpa bentuk~ saya meraih tempat ketiga terbaik kategori umum/PNS.

Kenapa peruntungan?  Menurut perkiraan bukan karena tulisan saya bagus hingga menang di posisi tiga, hanya saja kompetisi demikian memang seringkali sepi peminat. Ya begitulah! Tak perlu menyebut ini ironis,  biasa aja dan mungkin sudah sepantasnya demikian.

Menurut surat undangan yang saya peroleh,  baik melalui email ataupun telepon,  dan tentu juga semua penerima penghargaan lain peroleh,  acara baru dimulai jam 9 setelah jadwal konfirmasi peserta dimulai jam 8.

Sebagaimana acara pada umumnya di negeri ini,  molor dan baru dibuka jelang pukul 10 pagi.  Dengan dimulai seremonial pembukaan dan sambutan dan blablabla. Tibalah kami dipanggil untuk menerima reward secara simbolik.  Setelah dibacakan nama dan judul tulisan masing-masing, pemberian plakat dan voucher dan sertifikat. 

Dua peringkat di atas saya menerima dan menggenggam ketiga items yang saya sebut dengan mulus. Selama prosesi itu pula,  saya cukup salah tingkah dan tak tahu mesti berdiri bagaimana sebelum menerima printilan-printilan di atas.

Saya memasang sedikit senyum kikuk, berdiri agak sempoyongan seperti pohon kering yang diombang-ambing angin.  Pun dengan seragam yang saya balutkan dalam tubuh,  berwarna coklat pucat,  membuat saya seperti seorang Office Boy yang beridiri di tempat tak semestinya. Terjadilah peristiwa canggung itu,  saya merasakan detik demi detik berdentum ditelinga saya dan seolah darah terpompa perlahan ke otak dengan adegan very slow motion.

Situasi bertambah parah saat, beberapa orang mengambil citra diri kami melalui kamera ataupun gawai cerdas dengan jarak yang menurut saya tidak proporsional.  Terlalu dekat. Menghalangi pandangan saya ke depan.  Saya merasa semakin canggung saja.  Padahal berdiri di depan khalayak seperti itu tidak terlalu memberatkan biasanya.  Hanya saja hari ini hari memang terasa lain,  mungkin karena firasat adanya reshuffle kabinet.  Oh ya maaf tak ada hubungannya, setidaknya secara nalar.

Singkat kata,  tibalah giliran saya. Menerima plakat dan bersalaman,  Menerima lembaran sertifikat dan satu item sisanya.  Awalnya masih cukup lancar juga. 

Hingga saya kaget saat pejabat pemberi items tersebut menjulurkan tangan kanannya lagi, meminta kembali bersalaman. Tak ingin mengecewakan dan mempermalukannya,  saya berinisiatif menumpuk segala items di tangan kiri dan saat berjabat tangan plakat terlepas dari tangan kiri dan gubraaakkkk.

Plakat terlepas dari pelukan hingga menggelinding cukup keras dan terbelah menjadi dua. Semua hadirin tampak memusatkan pandangannya pada kecerobohan itu,  seseorang entah dari mana mendesis seolah saya anak umur tiga tahun yang terlalu banyak tingkah.  Saya menghibur diri dan menyelubungi rasa malu saya dengan sedikit mengembangkan senyum dan mengucap beberapa kata penglipur.

Tetapi dalam hati saya sungguh merasa kacau,  konyol. Dan bagaimanapun terasa kecanggungan situasi dan diri tak bisa saya tutupi.

Malu. Sangat malu. Lebih dari sangat malu. Dan memalukan!!! 

Menuju Bidadari

Bom bunuh diri terasa semakin intens dan karib menjadi bagian dari tindak kriminalitas “berkerudung” agama belakangan hari. Yang mengejutkan bahkan terjadi dalam hitungan jam jelang hari raya Idul Fitri.

Bagi saya hal ini sangat-sangatlah tidak masuk logika. Aksi bom bunuh diri saja, seluas pengetahuan saya yang sempit,  merupakan hal yang terhitung baru di negeri ini,  apalagi di bulan suci mepet hari paling suci. Mungkin karena keawaman saya dan ketakselarasan rasional, filosofis serta emosional terhadap pelaku -yang juga korban. 

Padahal,  menurut tradisi dan keyakinan muslim,  ramadhan adalah termasuk dalam bulan yang disucikan dan karenanya terdapat larangan untuk mengobarkan perang.  Satu-satunya peperangan yang diharuskan adalah dalam rangka memerangi nafsu biologis -juga ego- diri sendiri.

Tapi entah mengapa tradisi dan keyakinan ini begitu mudah dikangkangi, dengan tindakan bunuh diri jelang idul fitri.  Sebagaimana diyakini bunuh diri adalah juga hal yang dilarang keras bagi seorang muslim.  Bahkan dalam kisah-kisah peperangan di masa kenabian,  Nabi tidak membenarkan sahabatnya yang berperang dengan tujuan -menyengaja- mati. 

Saya tak tahu pasti kapan dan dimana aksi bom bunuh diri mulai menjadi bagian dari apa yang diyakini sebagai jihad di kalangan muslim. Hal ini nyatanya telah lebih dulu populer di kalangan milisi dan pemberontak di kawasan Timur Tengah dan Sri Lanka (terutam oleh Macan Tamil). Kawasan Iraq dan sekitarnya mungkin adalah yang paling sering terjadi aksi demikian ini belakangan.  

Sementara berdasar referensi yang paling banyak dikutip, Robert Pape (dalam bukunya Dying to Win: The Strategic Logic of Suicide Terrorism, 2005), professor ilmu politik dari Universitas Chicago, menyebut bahwa Hizbullah-lah yang mempopulerkan bom bunuh diri pada era modern sekarang ini,  sekitar tahun 1980-an, untuk melawan invasi Israel di Lebanon. Para pejuang Hamas pun melakukan hal serupa hingga saat ini. Namun, menariknya, yang lebih sering melakukannya ternyata adalah para pemberontak Macan Tamil di Sri Lanka yang notabene berlatar belakang Hindu.

Melalui studi tersebut,  Pape menunjukkan bahwa mayoritas perjuangan melalui peledakan diri secara global itu, sejauh penelitian masih dilangsungkan, sesungguhnya lebih banyak didorong oleh motivasi yang bersifat non spiritual, yakni perjuangan nasionalisme menentang kolonialisme.

Namun fakta kini terus bergerak. Terutama sejak dideklarasikannya ISIS di Iraq, sekitar lebih kurang dua tahun lalu, teror bom bunuh diri kian intens dan menyebar bahkan ke benua biru,  eropa. Korbannya pun tak lagi spesifik. Pokoknya hajar dulu urusan belakangan. Keji!

Meski keberadaan ISIS sendiri terus menuai kontroversi dan kecaman, bahkan dari komunitas muslim sendiri, simpatisannya ternyata malah tidak surut dan justru terus bergerilnya di berbagai wilayah di dunia,  termasuk di dalam negeri sendiri.

Selama tahun-tahun ini pula, ISIS nyatanya telah menjadi monster yang memakan banyak korban nyawa, bahkan dengan sadis. Memaksa jutaan manusia lainnya meninggalkan kampung halaman, kelaparan dan menimbulkan ketidakpastian masa depan.

Saya tidak yakin jika Tuhan, Allah SWT, Yang Maha Pengasih dan Pemberi Kasih,  menghendaki wajah islam yang demikian bengis dan norak dan konyol.

Seolah surga dengan segala fasilitas mewah juga kemolekan bidadarinya “dijual” oleh ISIS dengan harga yang demikian miring. Mereka tanpa tahu malu mendaku sebagai pemegang otoritas atas surga dan karenanya bisa seenak udel mengobral tiket masuk ke sana.

Tapi, sebagaimana bazar murah dan gebyar diskon pada umumnya,  selalu saja banyak yang terjebak bujuk rayu dan tergoda. Lalu buta. Gila.

Puasa dan Sepak Bola

Jumat terakhir di bulan ramadhan kali ini membawa sedikit berkesan bagi pribadi saya sendiri. Selain tentunya karena hari tersebut adalah hari gajian lalu kemudian langsung disusul liburan, setelah THR-an pula.

Adalah khotbah yang Khotib Jumat kala itu yang menurut saya menarik dan perlu dikekalkan di sini, sekaligus untuk mengejek ingatan saya yang cekak dan aus. Sang Khotib yang menurut “penghakiman” singkat saya merupakan sosok yang cukup moderat dan memiliki wawasan cukup luas dan dalam terkait problematika sosial, harus diakui banyak penghotbah sekarang ini yang hanya sibuk menghapal dalil sehingga lupa wajah masalah  sosial yang sedang mengemuka dan karenanya isi khotbah yang disampaikan cenderung usang dan tidak tepat situasi (out of context)

Saat itu, Sang Khotib, setelah saya edit dan pangkas isinya, menyampaikan bahwa bulan ramadhan -dan juga kehidupan pada umumnya- adalah ajang bagi manusia untuk berlomba-lomba melakukan kebaikan, fastabikul khoirot. Kebaikan dalam rangka apa? Tentunya dalam beribadah pada sang Pencipta, wa maa kholaktul jinna wal insa illaa liyakbuduun.

Ya, menurutnya ramadhan -juga kehidupan- adalah sebuah ajang kompetisi. Layaknya sebuah kompetisi lainnya, yang karena saat ini dan yang lalu-lalu ramadhan selalu tambah menarik saat ramadhan dihibur oleh kompetisi sepakbola, tentunya juga ada wasit sebagai pengadil. Dalam kehidupan, siapa lagi wasitnya kalau bukan Tuhan, menurutnya. Sebagai pengingat dalam Alquran pun, berkali-kali Tuhan disebut sebagai sebaik-baik hakim.

Karena sesama manusia hanyalah sebagai peserta kompetisi, masih menurutnya, Sang Khotib, tidak tepat kiranya manusia saling menghakimi satu dengan lainnya. Karena itu tentunya merebut hak dan yurisdiksi Tuhan sebagai pemegang otoritas sebagai wasit. Tugas manusia, hanyalah mempersiapkan diri dan menjalani kompetisi sebaik mungkin.

Dalam konteks berlomba melakukan kebaikan tentu tidak tepat kiranya jika diisi dengan saling jegal, saling sikut dan daling tunjuk hidung. Karena perlombaan ini bukan untuk saling mengalahkan satu sama lain. Bukan untuk mencari pemenang tunggal. -Argh! Kiranya semua orang berpemikiran demikian, tak perlulah susah-susah Soekarno merumuskan Pancasila.-

Ada semangat yang sama tentunya dengan kompetisi serupa olahraga, misalnya sepak bola -Piala Eropa atau Piala Amerika- yang menghibur saat sahur di malam hari. Meski tentunya tak sepenuhnya sama.

Sering pula dalam kompetisi muncul hasil-hasil diluar prediksi dan perhitungan matematis. Tak selalu yang berpengalaman dan berpengetahuan adalah yang terbaik. Seperti misalnya, tim Inggris yang ternyata tak lebih baik ketimbang Islandia dalam kompetisi Piala Eropa. Tak mesti juga yang pandai ilmu agama dan rutin ibadah ritual lebih baik dalam menjalani kompetisi dari pada yang secara logika manusia nampak baik. Bukankah mata dan logika Wasit, Tuhan, seringkali tak sama dengan logika peserta kompetisi?

Tapi, sangat mungkin tak sesederhana logika seperti itu pula. Maksud saya jika anda berpikir untuk hanya bermodal perilaku sosial yang baik dan tak perlu berpengetahuan dan beribadah ritual agama untuk menjadi lebih baik dan keluar sebagai pemenang, siapa yang bisa menjamin? Saya tidak bisa menggaransi.

Seperti halnya belum ada yang bisa menggaransi kehebatan Italia -kekalahan Spanyol oleh Italia menjadikan tim ini dinilai berpeluang juara- akan membawanya menjadi jawara Pialq Eropa, atau sebaliknya performa pas-pasan Portugal tidak akan membawanya menuju partai puncak dan menang? Siapa yang akan menjamin siapa yang menjadi pemenang diakhir kompetisi yang tinggal sebentar lagi? Anda?

Tempat Dimana Tuhan Tiada

Tiba-tiba saja saya teringat tentang sebuah judul puisi fiktif dalam novel berjudul Salju karya Orhan Pamuk. Judul puisi itulah yang saya gunakan dalam judul tulisan ini.

Novel Salju sendiri masih satu-satunya buku Orhan yang sudah saya baca hingga saat tulisan ini diketik. Saya memang lambat dalam mengenal Orhan, tepatnya terlambat mengenal sastra, lebih-lebih sastra internasional. Lambat sekali, terlalu!

Dalam cerita disebutkan puisi itu lahir dari curhatan seorang pelajar aliyah, Necip namanya, yang dalam hatinya paling dalam mulai meragukan adanya Tuhan. Dan Necip, karenanya, menjadi “ketakutan” memikirkannya.

Saya tak ingin bercerita detail soal novel tersebut ataupun perasaan Necip sendiri, sebagai catatan Necip bukanlah tokoh utama novel itu. Jika anda ingin lebih banyak tahu, bacalah sendiri saja.

Tetapi seperti halnya Ka, penyair yang menjadi tokoh utama dalam novel tersebut dalam menulis puisi, memori soal judul puisi ini tiba-tiba hadir mengusik pagi hari saya yang indah.

Bagi seorang atheis, mungkin mudah menemukan tempat dimana tidak ada Tuhan. Baginya dimanapun bisa menjadi jawaban. Di bumi, di langit, di pasar, di lubang-lubang cacing, di warung remang-remang bahkan di tempat-tempat ibadah.

Namun bagi saya yang berkeyakinan agama, sekalipun sulit dibilang penganut yang ta’at, adalah tidak mudah. Menurut ajaran agama yang saya yakini Tuhan ada dimana-mana. Bahkan dikatakan lebih dekat dari urat leher sendiri. Sekalipun pada hakikatnya Tuhan yang diyakini hanya ada satu, yang karenanya mesti tidak bersifat material.

Ya. Tuhan ada dimana saja. Untuk mencari tempat dimana tiada Tuhan, rupanya tidak semudah itu. Saat saya, misalnya, berbuat hal-hal yang berkonsekuensi dosa pun, saya sesungguhnya sadar ada Tuhan di sana dan tentunya melihat secara terang benderang.

Lalu dimana tepatnya tempat dimana Tuhan tiada? Jika dimungkinkan tempat seperti itu ada, hati para pembenci bisa jadi adalah jawabannya. Yup, di dalam hati orang-orang yang membenci dan memendam dendam, di sanalah Tuhan “tidak sudi” hadir.

Beringin dan Angin

Pengamat sekalipun sampai berbusa membangun opini, politisi akan terus dan selalu bermanuver, liat dan terutama meraih (kuasa).

Begitulah yang terjadi pada Beringin dan Setya Novanto (selanjutnya ditulis Setnov)hari ini. Lebih dari itu kemenangan Setnov, di sisi lain, bisa dibaca sebagai keliatan Beringin dalam membaca dan meliuk sesuai arah angin.

Lihatlah kemonceran Trump di Amerika dan Duterte di Filipina. Sosok kontroversi yang akhirnya justru memikat narasi rakyat masing-masing, tentu juga setelah dipoles citra yang tepat.

Masih ingat juga kan kemunculan Setnov dalam “kampanye” Trump?  Peristiwa politik memang sering hadir tidak dari ruang hampa, selalu di dahului desain dan rencana.

Mungkin Setnov dan timnya juga sudah nonton film “Our Brand is Crisis”, bagaimana sosok Castillo akhirnya bisa menang pilpres di Venezuela dengan bantuan konsultan politik asal Amerika yang diperankan secara paradoks oleh Sandra Bullock.

Indonesia mungkin berbeda, tapi bisa jadi juga tidak. Setidaknya sama banyaknya konsultan politik asal Paman Sam yang direkrut dalam helat pemilihan.

Dengan keluarnya Setnov sebagai Ketua Umum baru Partai Beringin, apakah angin akan menyemai biji-biji Beringin? Atau justru merobohkannya? Waktu yang akan menjawab.

Sastra dan Jatuh Cinta

Belakangan, ketika dunia terasa makin bising oleh pertengkaran apapun -kamu tahu hari ini orang-orang suka mempertengkarkan apapun melalui sosial media?-, dunia sastra diam-diam mengombang-ambing hati saya.

Mungkin karena saya sedang bosan, stagnan, dan tertawan oleh segala macam ribut di luar sana, dunia sastra yang paradoks itu mampu menjadi pintu ke-luar dari segala ini-itu, meski untuk sementara. Dan saya menemukan secuil makna bahagia karenanya.

Mungkin saya sedang jatuh cinta pada sastra, tapi mungkin juga hanya perasaan suka cinta, meminjam frasa yang saya temui kali pertama di blog eka kurniawan, sementara. Tapi peduli apa dengan akurasi dan detail definisi demikian, bukankah dunia menggelinding dengan banyak kekacauan dan ketidakpresisian? Yang penting bagi saya saat ini, saya menikmati momen kedekatan dengan sastra. Dengan dunia dalam imajinasi kata dari mereka yang liat, sangat menikmati.

Saya belum berpikir panjang tentang kemana rasa nikmat akan sastra ini bakal membawa saya. Saya hanya ingin menikmati dan merayakan keintiman ini. Biarlah segala kemungkinan terbentang di jagad waktu, saya tak mau dan tak butuh spekulasi.

(Tidak) Membaca!

Di negeri kami membaca adalah perbuatan tabu lagi sedikit tercela. Kami membaca hanya untuk kebutuhan praktis saja. Seperti menghadapi ujian sekolah, perdagangan, dan kepentingan-kepentingan ekonomis lainnya. Itu pun kami lakukan dengan sembunyi-sembunyi. (karena dicap sebagai kutu buku adalah aib yang mesti kami jauhi)

Menyebarkan bahan bacaan adalah ke-tabu-an yang lebih keji lagi. Dulu tindakan seperti ini akan dicurigai sebagai tindakan subversif. Namun sekarang ini era sedikit berubah, kau hanya akan dituduh radikal jika nekat melakukannya.

Aku tidak tahu benar apa beda subversif dan radikal, hanya saja ku pikir keduanya adalah tindakan yang sebaiknya tidak didekati -apalagi dilakukan- oleh warga negara yang baik. Pemimpin tertinggi kami adalah inspirasi terbaik untuk menjauhi bacaan.

Baginya kerja adalah jauh lebih mulia daripada membaca.

Saking gilanya pada kerja pemimpin tertinggi kami tidak lagi perlu membaca apapun yang akan ditanda tanganinya.

Tidak membaca bahwa negerinya sudah bebas utang dari penyedia dana talangan internasional.

Tidak membaca bahwa bila nyali rupiah menciut, akan banyak perusahaan yang gagal bayar utang yang berakibat pada efisiensi yang berarti akan banyak tenaga kerja yang dirumahkan.

Tidak membaca bahwa saat harga-harga melejit -yang konsekuensinya hidup makin sulit- kriminalitas bakal meningkat.

Tidak membaca apa-apa yang dulu dijanjikannya.

Tidak membaca bahwa warganya telah muak dengan penegakan hukum beserta aparat-aparatnya.

Tidak membaca bahwa warganya telah dipenggal di negeri orang.

Tidak membaca bahwa tidak lebih dari setiap dua hari dalam sepanjang tahun ada bayi yang dibuang begitu saja di jalanan. Dan tidak membaca banyak hal lainnya.

Satu-satunya yang pemimpin tertinggi kami baca adalah naskah pidato, itupun tak pernah di reviewnya lebih dulu.

Meski begitu kami tetap sangat mencintai pemimpin tertinggi kami. Kami bahkan berpegang pada dua prinsip ideologis.

Prinsip pertama bahwa pemimpin tertinggi kami selalu benar. Kedua, jika ada kekeliruan kami akan menutup mata serta telinga dan tetap berpegang pada prinsip yang pertama.

Nb: direpro dari status pada FB saya tertanggal 25 april 2015.

Blog di WordPress.com.

Atas ↑