Tanpa disengaja aku melihat dialog Tv-One dengan Azyumardi Azra. Ada yang menarik di sana. Adalah pernyataannya bahwa menurut survey salah salu lembaga internasional -sayang sekali aku tak jelas mendengar nama lembaga/institusinya, maaf- bahwa muslim Indonesia merupakan yang paling banyak (ta’at)  menjalankan ritual agama. Tapi yang jadi kegelisahannya adalah mengapa, jika benar, demikian angka korupsi di negeri ini termasuk yang tertinggi?

Sebuah fakta yang tentu menggelitik bukan? Yup! Dan sebagai muslim Indonesia tentu, dan sudah sepantasnya, kita merasa tertampar akan adanya fakta tersebut -kalau belum aku bersedia nampar kok, heheheh…. Bukankah Islam, sebagaimana yang kita yakini, adalah agama yang paling benar di sisi Allah dan merupakan rahmatan lil alamin?

lalu kenapa ya bisa demikian? emmmm…berdasar hipotesis yang dikemukakan Azra, kalau tak salah dengar dan tak salah menyimpulkan,  adalah bahwa ternyata ada semacam kekeliruan berpikir masyarakat muslim tanah air, kita, terhdap permasalahan ini. Seolah-olah dalam Islam ada yang dinamakan “penebusan dosa”, yaitu semacam pemberian keistimewaan pertobatan kepada ummat muslim setelah melakukan perbuatan dosa. Dalam hal itidak bermaksud mengesampingkan kebenaran adanya penerimaan taubat ummat muslim. Namun terdapat kesalahan penarikan kesimpulan bahwa seolah setiap pertobatan ummat muslim akan lebih mudah diterima tanpa mperhitungkan muatan dan intensitas perbuatan dosa tersebut -nah loh? nambah bingung kan?

Dengan paradigma berpikir seperti ini menjadikan kita, ummat muslimIndonesia, seolah membenarkan prinsip “ibadah dan maksiat dapat berjalan seirama” -loh? aku banget tuh, astagfirullah. Karenanya sekarang ini bahkan korupsi menjadi  massif dan berjamaah -na’udzubillah. Bahkan sudah menjadi rahasia umum adanya jual beli kursi CPNS -betul…betul…betul…

Padahal bila dipikir secara mendalam, maka aktifitas-aktifitas negatif tersebut sama halnya dengan mengambilatau menghilangkan hak orang lai alias mencuri -serem n? Coba saja bayangkan, misal, ada orang yang “membayar” untuk sebuah kursi CPNS. Padahal nilai ujian tes yang dijalaninya jeblok, dan tentu ada peserta tes lain yang nilainya lebih bagus, tapi karena membayar sejumlah uang yang tentu secara ilegal maka ia diloloskan. Dan kemudian orang yang curang tersebut akhirnya memperoleh jabatan sebagai pegawai negara. Dan karena kelulusannya bukan karena kapasitas, kredibilitas dan integritasnya maka ia juga akan menjadi “duri dalam daging” di dalam korps kepegawaian -sejauh ini sepakat? Namun ia tetap memperoleh gaji secara reguler, hingga suatu saat nanti gaji tersebut digunakan untuk menghidupi keluarga dan bahkan naik haji -what? Meskipun ia seolah memang telah bertobat, banyak beribadah segala macam.

Nah hal ini yang sesungguhnya ingin, sangat ingin, aku tanyakan pada Pak Azra. Sayangnya hal itu tidak mungkin. Dan yang lebih disayangkan mengapa tidak pernah ada fatwa MUI terkait hal semacam ini -atau sudah ada tapi kurang disosialisasikan?

Bukan bermaksud sok suci, ku akui banyak dosa pula yang sudah aku lakukan selama ini, tapi hal-hal semacam ini sering mengganggu pikiran dan saat-saat tidurku. Karena ini juga terkait kelangsungan bangsa dan negaraku. Serta jua menjadi pertaruhan nama agamaku.