Besok pagi, 17 Agustus 2011, masyarakat bangsa ini merayakan hari kemerdekaannya. Tapi apakah benar sudah merdeka? Kemerdekaan macam apa? enggg….

Bila patokannya adalah proklamasi yang dibacakan presiden pertama, Ir. Soekarno, maka setidaknya bangsa ini sudah menjalani 66 tahun kemerdekaan. Tentu sudah banyak asam dan garam yang diimpor (ups..maksudnya asam-garam yang ditelan). Banyak sejarah yang telah dituliskan. Dan juga banyak prestasi yang sudah diraih. Tapi, selalu ada tapi!, lebih banyak hal yang belum dilakukan untuk rakyatnya (wah kayak politisi aja selalu bawa-bawa nama rakyat, ckckckc..).

Memang bila ukurannya adalah penjajahan secara fisik oleh bangsa lain, maka bangsa ini sudah selama itu merdeka. Namun bila kita ganti dengan indikator lain seperti, misalnya, indikator perekonomian, kebudayaan dan gaya hidup dan ideologi (pandangan dunia) apakah benar kita sudah merdeka?

Bukankah sudah menjadi rahasia umum bahwa sumber-sumber ekonomi yang menyangkut hajat hidup orang banyak dikuasai pemodal asing? Bukankah budaya dan gaya hidup masyarakat kita semakin “kebarat-baratan”? Bukankah standar hidup kita selalu diukur dengan “neraca” materi dan fisik? Bukankah kita sudah lupa dengan jati diri dan ajaran nilai-nilai luhur para leluhur? bukankah kita lebih banggan up date status di facebook dengan bahasa inggris daripada bahasa lokal? Yup! (jangan-jangan cuma aku yang setuju #clingak-clinguk.)

Memang seolah menjadi sebuah ironi. Tapi begitulah realita yang ada hari ini. Kemerdekaan kita nampaknya belum sepenuhnya menjadi kemandirian. Belum benar-benar dimaknai sebagai kebebasan dari bangsa oleh bangsa dan, minimal, untuk bangsa sendiri.

Lalu bagaimana seharusnya? enggg…..

Mari kita renungkan kembali dalam-dalam malam ini!

oh ya! Tapi Sholat Tarawih dulu ya, hehehe…