Waow.. Hari ini seolah menjadi pengalaman “pertamaku” mudik. Karena rasanya baru benar-benar berada dalam arus mudik lebaran yang tersohor  padat dan merayap. Walaupun sebenarnya tak lebih dari 2 jam perjalanan saja. hahaha…

Memang, sebenarnya, hampir seminggu sekali aku pulang ke kampung halaman. Tapi hari ini benar-benar berasa beda. Jalanan kali benar-benar “dirajai”  motor dan mobil ber-plat B atau D. Tentu lengkap dengan bawaan super banyak di atas kap mobil maupun  motor.

Selain itu, di emperan jalan mulai diramaikan oleh para pedagang, terutama pedagang es kelapa muda, yang menggoda ketahanan berpuasa. Memang bagi para pemudik yang menempuh perjalanan jauh, membatalkan puasa bukanlah hal yang diharamkan, asalkan diganti di lain waktu di luar bulan ramadan. Tapi bagiku yang belum cukup ampuh disebut musafir, hal ini cukup menggoda. Terlebih ditengah teriknya mentari musim kemarau. Atau malahan bisa jadi aku yang lemah niat, hehehe…

Rasanya ada sesuatu yang lain saat melihat para pemudik beristirahat di pinggir jalan, entah di warung ataupun di trotoar. Meski wajah-wajah mereka terlihat letih dan lelah, tapi rona kebahagiaan juga terpancar jelas. Entah rona kebahagiaan ramadan, rona kebahagiaan menjelang ftrahnya lebaran, rona kebahagiaan akan segera temu-kangen pada sanak saudara, atau sekedar euforia kebahagiaan  perjalanan biasa tak begitu jelas tergambar. Tapi rona kebahagiaan itu nyata ada di sana. Memancar bersama tetesnya peluh dan teriknya kemarau.

Sungguh mudik kali ini terasa berbeda. Lebih berwarna. dan bermakna Dan sungguh berasa mudiknya. hahaha..