Lebaran tahun ini kembali terjadi “dualisme”. Dalam artian bahwa dalam satu wilayah NKRI terdapat dua hari lebaran (sebenarnya ada juga hari lebaran lain seperti yang dianut komunitas aboge dan tarekat naqsahbandiyah, tetapi karena jumlah penganutnya yang tidak terlalu signifikan maka tidak lterlalu banyak menjadi perbincangan di akar rimput meski selalu mendapat porsi pembaritaan di media massa). Yaitu 1 syawalnya kalangan ormas muhammadiyah yang jatuh pada hari selasa 30 agustus dan lebaran yang ditetapkan  pemerintah serta ormas-ormas lainnya (terlebih yang beraliran NU) sehari setelahnya, 31 agustus.

Berdasar pengetahuan yang saya peroleh ternyata perbedaan ini bukanlah perbedaan pada metode hisab. Sebagai catatan sebenarnya kedua pihak sama-sama menggunakan metode hisab pada awalnya. Namun terjadi perbedaan kriteria pada penetapan 1 syawal (maaf, bukan kapasitas saya menerangkan perbedaan kriteria tersebut, namun informasi terkait hal ini dapat dan mudah di cari di google). Meski permasalahannya nampak sesederhana tetapi ternyata membawa dampak yang tidak sederhana.

Bagi masyarakat Indonesia, yang mungkin sudah terbiasa dengan perbedaan, hal ini memang tidak sampai memicu konflik horisontal. Alhamdullah..

Namun ternyata dampak sosialnya cukup kentara. Terlebih dengan kalender, hasil ketetapan bersama tiga menteri (SKB tiga menteri) yang menuliskan bahwa libur 1 syawal berada pada tanggal 30 agustus. Sehingga banyak masyarakat, terutama ibu-ibu, yang telah menyiapkan segala pernak-pernik  dan hidangan lebaran pada tanggal 29 agustus. Dan ketika hasil sidang isbat diumumkan, mereka sedikit kecewa karena ternya lebaran diundur dan hidangan yang telah mereka siapkan terancam berkurang kesegarannya. Karena harus diawetkan di lemari pendingin. hmmmm….

Kegelisahan terbesar masyarak awam sebenarnya bukan sesederhana itu. Melainkan akan adanya rasa was-was bila mereka memilih hari yang keliru dalam lebaran. Pasalnya, ketika 1 syawal sesungguhnya jatuh pada tanggan 30 agustus, misalnya, maka bagaimana hukumnya bagi  mereka yang berpuasa pada hari tersebut? Padahal umat muslim di larang berpuasa pada 1 syawal. Sedang bila lebaran, misal, benar jatuh pada 31 agustus maka bagaimana dengan yang berlebaran sehari sebelumnya? Karena mereka jelas kurang sempurna jumlah puasanya. Nah loh…

Di sini aku ingin mengajak sedikit “nakal” untuk berlogika namun secara historis. Sesungguhnya penanggalan adalah sebuah hasil budaya manusia yang diciptakan oleh generasi leluhur, nenek moyang. Hal ini adalah untuk mempermudah aktifitas mereka dalam keseharian (berdagang, beribadah, berkreasi dan berkebudayaan). Dengan memperhatikan keberulangan fenomena alam yang ada, kemudian mereka menyusun pengetahuan. Dan tentu sebagaimana hasil kebudayaan lainnya, sistem penanggalan sangat dipengaruhi oleh kondisi dan peradaban masyarakat setempat.

Islam sebagai agama yang awalnya diturunkan di suatu komunitas berkebudayaan, tentu akan “meminjam” kebudayaan setempat, tentu yang tidak bertentangan dengan misi dan ajaran yang dibawa, untuk mempermudah menyebarluaskan ide dan pemahamannya. Karena itu pula Al Quran menggunakan bahasa arab sebagai pengantarnya. Wallahualam…

Karena itu pula, tentu kriteria yang diperdebatkan oleh para ahli astronomi kedua pihak tak terlepas dari hal ini. Penetapan 1 syawal, se-ilmiah, se-metodologis apapun, tentu tak bisa dilepaskan dari konteks kesepakatan konsep kebudayaan. Dan karena memang di dunia Islam secara keseluruhan tidak mengenal otoritas tunggal yang menentukan, maka sangat dimungkinkan terjadi perbedaan penafsiran secara terus menerus berdasar kesepakatan masing-masing pihak. Selama tidak ada komitmen untuk menentukan kesepakatan yang lebih luas. Wallahualam…