Rasanya kurang afdhol bila aku tidak ikut komentar tentang kekalahan TimNas malam tadi. Ini (kekalahan 0-2 atas Bahrain di Gelora Bung Karno) adalah kekalahan untuk kali ke dua setelah 2 september kemarin juga di “gunduli” oleh Iran 3-0 di Teheran.

Selama pertandingan berlangsung, sebenarnya , pertandingan berjalan seru. Terjadi  “jual-beli” serangan yang amat seru. Namun seringkali justru gawang TimNas sendiri, yang dijaga Markus, terancam kebobolan. Dan akhirnya, singkat kata, gawang TimNas kebobolan 2 gol hingga akhir peluit dibunyikan.

Terjadi hal yang menarik ketika paroh kedua berjalan. Pertandingan sempat dihentikan, sekitar 15 menit,  dikarenakan adanya gangguan petasan yang dilakukan oleh para supporter. Banyak pihak menyayangkan kejadian ini. Dikarenakan adanya, kemungkinan, sanksi yang akan di dapat karena kejadian tersebut.

Namun apa boleh dikata, nampaknya para supporter fanatis, termasuk aku, tak lagi sabar menanti kemenangan dan prestasi TimNas. Pasalnya dengan segala keletihan, kegaduhan dan kontroversi dalam proses panjang pergantian kepemiminan di PSSI, para supporter tentu mengimpikan hadirnya sebuah perubahan (red: perbaikan).

Terlebih bahwa, dengan tiba-tiba, kepengurusan baru PSSI yang terbentuk memecat pelatih lama (Alfred Riedl) yang belakangan digantikan oleh Wim Riejsbergen. Dan, sayangnya, pergantian ini tidak menampakkan hasil yang signifikan. Bahkan, seolah-olah, para supporter, terlebih aku, mulai merindukan polesan Riedl.

Namun demikian, tentu, tidak elok bila kita menapak ke belakang. Masih ada peluang untuk memperbaiki performa TimNas pada laga-laga selanjutnya. Selalu ada harapan dan optimisme untuk hari esok.  Tak layak bila pasukan garuda, yang sudah, masih dan akan terus didukung oleh jutaan pendukungnya, menyerah “sepagi” ini. Perjuangan belum berhenti sampai di sini. Tetaplah bermimpi dan bekerja keras. Kesempatan untuk merumput di laga Piala Dunia pasti akan datang.

Jayalah Garudaku!