Bukanlah hal mudah untuk selalu dalam jalan kebenaran. Jalan yang diajarkan dan diteladankan oleh Nabi Muhammad SAW. Sebagai manusia biasa masih saja -sering kali malahan-  aku tergelincir melakukan hal-hal yang serta-merta dilarang.

Dalam dunia yang semakin edan sekarang ini tentu bukan hal yang mudah -meski bukan hal yang mustahil- menjadi seorang muslim yang kaffah. Bahkan definisi kaffah  itu sendiri seolah menjadi kabur. Sesuai dengan kebijakan masing-masing lembaga (ormas) keislaman. Tak jarang antara satu lembaga dengan lainnya terjadi perbedaan. Namun demikian, tentu, seharusnya hal ini menjadi rahmat yang harus di syukuri dengan cara terus dikaji untuk mencari kebenaran yang hakiki. Bukan untuk saling bener-beneran dan kemudian menginferiorkan -atau bahkan mengkafirkan- lembaga lain yang tak sepaham. Betul?

Kembali pada permasalahan yang ingin aku utarakan di sini, tak mudah memang menjaga konsistensi (ke-istiqomah-an). Setiap detik, setiap jam, setiap hari dan setiap saat kita selalu dihadapkan pada ujian-ujian kehidupan. Seringkali kita -sengaja dan tak sengaja- melakukan kekeliruan,  kekhilafan. Sehingga seolah terkesan  “sholat terus maksiat jalan” (stmj). Sudahkah disadari? Bila belum mungkin perlu lebih menyadari, hehehe….

Tentu hal ini seharusnya tak perlu -sering- terjadi. Namun seringkali hal ini diluar kesadaran kita (atau mungkin hanya aku? entahlah, semoga Allah mengampuni ku, mengampuni kita). Asalkan kesalahan dan kekeliruan kita bukanlah hal yang menyimpang dari jalan tauhid, insya Allah, Allah akan mengampuni. Sejauh kita mau mengakui kesalahan dan kemudian bertaubat dan bersungguh-sungguh untuk tidak mengulang-ulangi kesalahan yang sama -apalagi yang lebih besar. Amien!