Setelah sekian lama tak ada ide untuk “curhat” di halaman ini, akhirnya aku ingin berbagi cerita mengenai novel yang beberapa lalu telah habis kubaca. Judul novel tersebut sama dengan judul halaman kali ini. Penulisnya adalah seorang Amerika Latin bernama Paulo Coelho.

Novel tersebut berlatar festival Chanes, Prancis. Mengisahkan seorang lelaki setengah baya yang sukses ambisius, Igor namanya, namun harus menerima kenyataan bahwa istri yang teramat dicintainya meninggalkannya. Istrinya yang cantik, anggun dan “lemah”, bernama Ewa, dengan alasan yang matang memutuskan untuk meminta cerai dan kemudian menikah dengan seorang desainer ternama, keturunan timur tengah, bernama hamid Husein (HH).

Igor yang merupakan bekan tentara Rusia yang terlatih pernah bertugas di Afghanistan berhasil membangun bisnis telekomunikasinya dari nol. Itulah masa-masa bahagia keluarga Igor-Ewa. Namun demikian dengan semakin berkembangnya bisnis yang dijalankan Igor akhirnya bangun keluarga itupun mulai goyah. Igor kian sibuk dengan berbagai rutinitas bisnisnya, meeting,  ekspansi bisnis, dan berbagai aktivitas lainnya.

Ewa, sebagaimana wanita kebanyakan, yang lebih  membutuhkan keberadaan Igor disampingnya mulai merasa kesepian. Dirinya hanya ingin menikmati waktu-waktunya bersama sang suami, untuk sekedar dinner atau menghabiskan liburan di sebuah villa sederhana di tepian danau. Namun dengan semakin berkembangnya bisnis Igor, harapan tersebut tak pernah terwujud. Igor bahkan meminta agar Ewa bersabar sebentar lagi. Namun begitulah harta dan kekuasaan, tak akan pernah habis dikejar. Kekuasaan absolut hanya akan menghasilkan perbudakan absolut, tulis sang penulis. Mengejar kekuasaan adalah ibarat mendaki gunung. Tak akan pernah merasa terpuaskan karena akan selalu ada gunung lain -yang lebih tinggi- yang menunggu untuk ditaklukkan.

Igor menjadi semakin ambisius. Dirinya tak pernah merasa cukup dan berhenti. Kekuasaan dan kekayaan telah menjadikannya candu. Rutinitas dan kesibukannya telah menjadikannya budak. Dan parahnya, dia menikmati itu.

Meski telah menikah beberapa lama, tapi Ewa selalu merasa Igor adalah sosok yang misterius dan siap melakukan apa saja. Awalnya Ewa beranggapan bahwa itu adalah dampak yang ditanggungnya karena pengalaman perang di Afghan dan optimistis hal tersebut akan sembuh dengan sendirinya. Ewa memaklumi hal tersebut. Namun, suatu kejadian makan malam di sebuah restauran menjungirbalikkan anggapan terseb Peristiwa tersebut adalah kala Igor menyeret keluar seorang pengemis yang “mengganggu” sedikit dari makan malam yang dapat merelakukan bersama. Ewa “mencemaskan” nyawa pengemis yang diseret Igor dengan wajah beringas. Tapi Ewa tak pernah berani mempertanyakannya pada Igor. Ya, Ewa semakin merasa ketakutan pada sosok Igor, suaminya. Ewa merasa terancam. Di saat seperti itulah Ewa bertemu dengan HH yang dinilainya dapat meyelamatkan dirinya.

Singkat cerita Akhirnya Ewa meninggalkan Igor dan menikah dengan HH. Di saat seperti itulah Igor masih berharap ewa menyesali keputusannya dan kembali pada Igor. Igor yang merupakaan seorang penganut Kristen ortodox siap menerimanya kembali dan melupakan segalanya. Namun penantian tersebut juga tak menghasilkan bagi Igor.

Karenanya Igor berniat untuk mengirimkan pesan bahwa dirinya masih siap menerima Ewa kembali tanpa pertanyaan. Pesan awalnya adalah bahwa Igor siap menghacurkan dunia untuk mempertahankan seorang yang dicintainnya. Ewa sesesungguhnya menerima pesan tersebut, tetapi dia acuh. Selah semua akan baik-baik saja. Tapi dalam hati Ewa sesungguhnya cemas. Dalam lubuk hatinya Ewa tahu bahwa Igor adalah sosok yang dapat melakukan apa saja.

Alur cerita semakin asyik di sini. Konflik semakin memuncak. Dan berbagai kejadian tak terduga terjadi.

Igor semakin menunjukkan keseriusannya. Yang lebih menarik adalah bahwa dirinya merasa semua yang dilakukannya adalah demi sesuatu yang suci, bahkan Tuhan pun dianggap telah merestuinya. Tapi bagaimanakah Igor menyampaikan pesan-pesannya tersebut? Itu adalah hal yang luar biasa menarik dan merampas seluruh rasa penasaran kita. Tapi aku kira akan lebih menarik dan menjiwai jika pembaca membaca sendiri saja novelnya. Sebagus apapun aku bertutur, tapi kenyataannya tak bagus bukan, tentu rasanya akan berbeda dengan membaca versinya secara nyata. Bukan bermaksud promosi, karena memang aku tak memperole royalti sesenpun. Hanya berniat membagi sedikit pengalaman membacaku yang juga sedikit. heuheu…

Happy reading!