Bagai senjata makan tuan. Berkat citra meraih kuasa, karena citra pula Partai Demokrat (PD) merana.

Performa partai barlambang bintang mercy memang terhitung fenomenal pada penyelenggaraan pemilu terakhir. Dibandingkan dengan pemilu 2004, partai yang dimotori oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini memperoleh lonjakan suara hampir 300 persen (dari hanya 7,45 persen pada Pemilu 2004 menjadi sekitar 22 persen pada Pemilu 2009).

Perolehan suara tersebut kemudian berhasil menggusur dominasi dua partai mapan lainnya, yakni Partai Golkar (15 persen) dan PDI-Perjuangan (14 persen). Sehingga kemudian menjadikan partai yang baru berumur sekitar 8 tahun pada waktu itu (didirikan pada 9 September 2001) sah keluar sebagai partai pemenang pemilu dan berhak atas kursi mayoritas di parlemen (baca: DPR).

Tingginya lonjakan perolehan suara tersebut tak lain dikarenakan keberhasilan strategi politik pencitraan yang gencar dilakukan kala itu, baik dari SBY sebagai individu ataupun PD sebagai lembaga.

Melalui iklan politik yang bertubi-tubi, waktu itu, SBY dicitrakan sebagai sosok jendral berkharisma, religius, cool, penuh kehati-hatian, serta pemurah (benevolent) melalui berbagai program populisnya, sebut saja seperti BLT dan PNPM mandiri.

Sedangkan PD secara kelembagaan, juga melalui iklan politik yang sangat gencar, dikesankan sebagai partai reformis anti korupsi melalui jargonnya yang sangat memikat, yakni “Katakan TIDAK pada KORUPSI!”.

Sayangnya citra hanyalah sekedar citra bila tidak ada wujud dan konsistensinya dalam kehidupan nyata. Bahkan kini citra tersebut justru terkesan berbalik seratus delapan puluh derajat.

Sayangya, sebagaimana yang telah banyak diramalkan oleh para pakar politik bahwa partai yang sekedar mengedepankan citra sebagai sarana utama mendulang suara pada pergelaran pemilu -tanpa didukung basis sosial ideologis yang mengakar dan lembaga yang solid- sangat rawan mengalami keguncangan dan kemerosotan dalam waktu relative singkat. Dan nampaknya hal inilah yang mengemuka dalam tubuh PD.

Logikanya, dengan hanya mengandalkan strategi politik pencitraan, berarti sebuah partai hanya mengantongi suara para pemilih mengambang (swing voter) saja. Padahal, karakter pemilih mengambang ini cenderung lebih pragmatis dalam menentukan pilihannya. Sehingga elektabilitas partai dengan karakter seperti ini cenderung pasang-surut (fluktuatif) tergantung situasi dan kondisi politik yang berkembang.

Tak bisa dipungkiri bahwa konstruksi citra yang berkembang di masyarakat dewasa ini sangat dipengaruhi oleh kuasa media massa. Kontruksi citra yang dibangun melalui pemberitaan media massa menjadi sarana paling ampuh dalam membentuk persepsi masyarakat modern sekarang ini.

Sederhananya, apa yang termuat dalam laman media massa hampir-hampir dipercayai kebenarannya bak kitab suci oleh mayoritas khalayak. Padahal, sejatinya media massa tidaklah terbebas dari nilai dan kepentingan para pemilik modalnya.

Terkait dengan hal ini, Newman dan Sheth dalam Adman Nursal (2004) mengatakan bahwa media massa merupakan faktor yang paling berpengaruh dalam mempegaruhi perilaku memilih masyarakat saat ini. Bila suatu partai diwartakan secara negatif terus-menerus -dan dalam banyak media massa sekaligus- maka nasib buruk partai tersebut hanya tinggal menunggu waktu.

Dalam banyak pengalaman, agaknya -atau sayangnya- awak media sering kali tidak “berpihak” pada partai yang sedang berkuasa.

Terlebih dengan merebaknya dugaan kasus penggelapan dana talangan Bank Century serta kasus suap tender wisma atlet, yang ditengarai melibatkan beberapa kader dan pimpinan PD, belakangan ini.

Berlarutnya penyelesaian kasus hukum tersebut kini mennjadi sasaran empuk yang “seksi” dan bernilai jual tinggi bagi media untuk terus direproduksi. Imbasnya, hal ini kemudian memunculkan kegaduhan yang kian menggembosi kepercayaan dan dukungan terhadap PD.

Kasus wisma atlet, misalnya, yang diduga melibatkan nama-nama para petinggi PD, seperti Angelina Sondakh (kini telah ditetapkan sebagai tersangka meski belum di tahan oleh KPK), Mirwan Amir, Andi Malarangeng dan Anas Urbaningrum tak henti-hentinya mengisi laman-laman utama media massa. Hal ini tentu menjadi pukulan telak, bahkan bertubi-tubi, terhadap citra bersih PD yang selama ini dibangun dengan biaya iklan yang tidak murah.

Karenanya wajar bila hasil survei terakhir yang dirilis oleh Lingkaran Survei Indonesia menunjukkan bahwa elektabilitas PD mengalami terjun bebas. Perolehan suara Partai Demokrat diprediksi terus mengempis hingga hanya mencapai 13,7 persen bila pemilu diselenggarakan pada saat wawancara dilakukan. Tertinggal dari Partai Golkar yang diprediksi unggul dengan raihan 18,9 persen suara,

Hasil survei tersebut mengambarkan betapa dahsyatnya pengaruh citra yang dibangun melalui media terhadap nasib sebuah partai politik. Sewaktu-waktu dapat menjadi pompa angin yang segar, tetapi di lain kesempatan dapat berubah menjadi ancaman yang amat mematikan.

Faktor Kepemimpinan SBY

Selain hal tersebut di atas, surutnya dukungan terhadap PD sejatinya turut disebabkan oleh turunnya legitimasi dan pamor SBY di mata masyarakat pemilih. Ketidaktegasan SBY dalam menyelesaikan pelbagai kisruh yang membelit negeri ini secara umum dan PD secara khusus secara perlahan menggerogoti kepercayaan masyarakat terhadap presiden yang menjabat untuk kali kedua melalui pemilihan langsung ini.

Sebagai top leader di negeri ini, SBY justru sering terlihat gamang dalam mengambil langkah dan kebijakan strategis. Padahal dalam kondisi yang penuh ketidakpastian sekarang ini, masyarakat lebih membutuhkan karakter pemimpin yang mampu menghadirkan harapan (hope) serta keteladanan. Namun, agaknya, dalam periode kedua kepemimpinannya ini, SBY kurang berhasil memenuhi tuntutan tersebut.

Bahkan, tak jarang masyarakat malah dibikin geregetan menunggu langkah dan tindakan apa yang akan diambil seorang SBY. Dan sayangnya, setelah sekian lama dinanti, sikap dan keputusan yang diambil seringkali tidak kongruen dengan harapan  mayoritas masyarakat.