Belakangan ini aku cukup tertarik untuk mengamati perilaku masyarakat Tegal atau yang lebih dikenal sebagai “Wong Tegal”. Hal ini mungkin karena beberapa Wong Tegal, saat ini, sedang menjadi sorotan dan figur publik. Sebut saja misalnya, pemain bulu tangkis nasional Simon Santoso, Pesulap Limbad, dan teranyar adalah finalis Indonesian Idol, Febri.

Wong Tegal yang lebih dikenal karena dialek/bahasanya yang “ngapak-ngapak” ternyata memiliki karakter yang khas. Kekhasan karakter ini banyak dipengaruhi oleh pencampuran antara industrialisasi di wilayah pesisir serta feodalisme di daerah yang lebih dalam.

Industrialisasi, terutama logam, Wong Tegal telah banyak dikenal terutama era 70an. Bahkan Tegal disebut-sebut sebagai jepangnya Indonesia. Tentu bukan gelar yang disematkan tanpa alasan dan menjadi bukti prestasi yang diakui. Di wilayah pedalaman, Tegal adalah tanah yang subur sebagai lahan pertanian sebagai berkah dari lahar kering Gunung Selamet.

Perpaduan dua peradaban tersebut membentuk karakteristik Wong Tegal yang membedakannya dengan masyarakat Jawa Tengah pada umumnya.

Beberapa karakteristik yang nampak diantaranya adalah ulet, kreatif, terbuka, berani, kuat, pragmatis, tetapi seringkali irasional dan konsumtif. Wong Tegal juga sangat bangga terhadap identitas dan budayanya sendiri. Meski seringkali dialek Tegalan dijadikan sebagai olok-olokan masyarakat umum, terutama banyak digunakan dalam acara komedi, tetapi bagi Wong Tegal adalah menjadi sebuah kebanggaan tersendiri dengan dialek yang khas tersebut. Hal ini dapat nampak pada berkembangnya budaya dan sastra Tegalan. Puisi, wayang, musik serta pertunjukan seni teater Tegalan berkembang cukup baik.

Kreatifitas dan keuletan Wong Tegal nampak pada berkembangnya Tegal sebagai kota industri dan perdagangan. Pesatnya perkembangan bisnis Tegal menjadikannya maju secara ekonomi dibandingkan dengan wilayah di sekitarnya. Hal ini turut didukung dengan jiwa konsumerisme masyarakat Tegal yang tinggi.

Sedangkan irasionalitas Wong Tegal adalah terkait dengan hal-hal yang berbau klenik. Wong Tegal terhitung memiliki kedekatan psikologis dengan Kerajaan Mataram Islam di Jogjakarta. Dalam tipologi Clifford Geertz, mayoritas Wong Tegal masuk dalam kategori masyarakat abangan. Meskipun basis masyarakat santri cukup kuat tetapi secara primordial seringkali lebih cenderung pada aliran kepercayaan kejawen. Hal inilah yang mengakibatkan masih berkembang luasnya hal-hal berbau klenik.

Hal inilah yang menimbulkan paradoks karakteristik Wong Tegal. Sebagai komunitas yang memiliki basis industri dan kreatifitas cukup kental ternyata masih memiliki mental klenik yang kuat. Namun demikian, Wong Tegal, diam-diam, rupanya kian menorehkan prestasi-prestasinya di tingkat nasional maupun dunia. Dan, kita pantas untuk menanti terobosan-terobosan apalagi yang akan dilakukan si Inyong. Wallahualam.