“A leader is a dealer in hope”

(Napoleon Bonaparte)

            Wacana kepemimpinan selalu menarik untuk kembali diperbincangkan. Terlebih di tengah kondisi masyarakat yang belakangan ini seolah mengidap frustasi sosial dikarenakan sindrom kealpaan kepemimpinan. Eksistensi kepemimpinan yang ada tetapi meniada.

Figur seorang pemimpin seharusnya gampang ditemukan di sekitar kita. Baik di lingkungan terkecil layaknya rumah, hingga ruang publik paling luas sekalipun, yaitu negara. Pada struktur jabatan formal maupun komunitas informal. Namun, kondisi day to day  masyarakat Indonesia kekinian ternyata tidak sedemikian ideal. Kehidupan sosial  masyarakat justru semakin ruwet dan centang-perenang tanpa arah (red: kepemimpinan).

Sebut saja, misalnya, konflik dan kekacauan semakin rawan terjadi di sana-sini. Kekerasan kian lumrah di temui. Praktik tipu-tipu menjadi primadona kehidupan sehari-hari. Sampai-sampai laku koruptif dianggap “wajar” di berbagai lini.

Kenyataannya, ketiadaan figur panutan menjadi titik awal efek domino yang terus berkelindan. Keteladanan seorang pemimpin menjadi barang langka yang terus-menerus sirna. Para pemimpin seringkali “lepas tangan” ketimbang “turun tangan” menuntaskan berbagai permasalahan yang kian menggurita. Bahkan, para pemimpin yang seharusnya menjadi the problem solvers, tak jarang justru terjerembab menjadi the root of the problems itu sendiri. Ironis.

Sirkulasi kepemimpinan, politik maupun birokrasi, paskareformasi masih terkesan mentok di tataran artifisial. Bongkar-pasang kepemimpinan nyatanya belum banyak memihak kepentingan masyarakat.

Buktinya tidak sedikit para tokoh pemimpin, politik maupun birokrasi, itu silih berganti duduk di kursi pesakitan. Pelesiran di tengah kondisi masyarakat yang serba kesulitan. Atau memperkaya fasilitas pribadi dengan menghambur-hamburkan anggaran pembangunan. Sungguh bukan nilai keteladanan yang dicontohkan, melainkan keculasan, keserakahan dan kelancunganlah yang terus-menerus dipertontonkan.

Kondisi demikian semakin diperparah dengan lemahnya (atau dilemahkannya?) pengawasan dan penegakan hukum secara formal. Hukum terkesan “tajam” ke arus bawah, tetapi mandul saat berhadapan dengan pemilik modal dan kekuasaan. Keadilan dipermainkan. Dan lagi, kepemimpinan hanya menutup mata dan meringkuk di balik jubah mewah kekuasaan.

Pertanggungjawaban Kepemimpinan

Kursi kepemimpinan dan jabatan publik belum sepenuhnya dipandang sebagai kepercayaan (amanah) yang harus dipertanggungjawabkan. Adapun bila dikatakan telah dilakukan demikian, direduksi hanya sebatas lips service ataupun sekedar lembaran kertas laporan pertanggungjawaban semata. Tidak lebih. Itupun serigkali masih dimanipulasi di banyak sisi.

Padahal, seharusnya tidak demikian. Pertanggungjawaban seorang pemimpin pada hakikatnya adalah langsung kepada Tuhan.  Ibaratnya, pemimpin adalah wakil Tuhan, yang dipilih dan digaji oleh masyarakat, untuk memangku, mengatur, dan mengurus urusan kemasyarakatan.  Karenanya sudah barang tentu bahwa ihwal kepemimpinan bukanlah hal yang sepele dan bersifat duniawi semata.

Seorang pemimpin haruslah memiliki kesadaran tinggi akan pertanggungjawaban ini. Menjadi pemimpin berarti menanggung amanah (kepercayaan) yang letakkan di atas pundak. Mereka tak hanya bertanggung  jawab terhadap jajaran, bawahan ataupun kawan sejawat. Melainkan bertanggung jawab, sekali lagi, kepada Tuhan, melalui masyarakat secara luas.

Mereka memikul tanggung jawab terhadap para petani. Mereka bertanggung jawab pada buruh migran. Dan mereka juga bertanggung jawab terhadap anak yatim serta gelandangan. Bukan malah ongkang-ongkang aji mumpung memperkaya diri dengan segala privilege yang melekat pada jabatan dan kekuasaan yang digenggam.

Memang terkesan normatif juga klise. Boleh juga dikatakan sebagai pandangan yang konservatif bahkan fundamentalis. Namun, bukankah bangsa ini sejak awal dibangun berdasarkan fondasi Ketuhanan Yang Maha Esa?  Dan bukankah suara masyarakat adalah (mewakili) suara Tuhan (vox populi, vox dei)? Mengapa kini, timbul kesan, Tuhan dilokalisir di tempat-tempat ibadah semata?

Kembali Menjadi Panutan

Sudah saatnya fungsi kepemimpinan kembali ditempatkan pada maqamnya yang tinggi dan terhormat. Kepemimpinan yang menjadi panutan dan inspirasi bagi masyarakatnya secara wajar dan pantas. Yakni menjadi para pemimpin yang nyata menerbitkan fajar harapan bagi masa depan gilang-gemilang, sebagaimana diajarkan oleh Sang Pemimpin Besar dari Perancis, Napoleon Bonaparte, di muka.