Apa yang akan aku tulis hari ini bukanlah suatu hal yang biasa tetapi tidak pula luar biasa. Tak pernah terbayangkan sedetikpun dalam perjalanan hidupku untuk membahas persoalan ini secara “lebih ilmiah”. Namun, semoga apa yang terbesit dalam benakku saat ini dapat membantu barang sedikit untuk memperjelas persoalan ini. Setidaknya sekedar menjadi pembahasan yang lain untuk memahami persoalan ini secara lebih logis.

Ya! Aku ingin menulis tentang CINTA. Suatu persoalan yang cukup menggelikan tetapi selalu menggelitik benak manusia. Persoalan ini memang sangat mendasar dan relevan bagi setiap manusia, sejak jaman kaum adam hingga akhir cerita pewayangan (manusia) nanti. Karena itulah beberapa golongan manusia berkeyakinan bahwa apa yang kita sebut sebagai CINTA adalah sesuatu yang hakiki. Benarkah demikian?

Mayoritas manusia sepakat akan keistimewaan dari “benda” yang satu ini. Sejarah telah memperlihatkan bahwa CINTA memiliki daya dan kekuatan yang luar biasa besar untuk membelokkan dan mengukir sejarah itu sendiri. Karena CINTA ini pula milyaran kubik darah manusia tercecer di atas dunia sebagai harga yang harus dibayar. Sedemikian mulyakah CINTA itu?

Aku, sebagaimana manusia pada umumnya, tak pernah mengerti CINTA sebagai mana adanya. Hanya bisa mengerti secara meraba-raba. Mengira-ngira dengan rasa (hati) atau menilai dengan logika (akal). Meski demikian mayoritas manusia akan lebih sepakat bila CINTA hanya dapat dinilai dengan yang pertama saja (hati), karena alat ukur yang ke dua (akal) dianggap tak pernah akan sampai untuk menyelaminya. Karena CINTA memanglah sebuah rasa bukan benda yang dapat di ukur nilainya!

Mungkinkah CINTA itu ada (bereksistensi)? Tentu tak perlu dipertanyakan lagi bila setiap insan manusia mengidamkannya. Bahkan sebagaimana yang telah disinggung di muka bahwa CINTA dianggap sebagai hakikat yang hakiki. Tetapi untuk memperolehnya tentu manusia membutuhkan pengetahuan terhadapnya. Permasalahannya sekarang adalah bahwa mungkinkah CINTA dapat menjadi sebuah pengetahuan? Padahal CINTA bukanlah sebuah benda yang bereksistensi secara material.

Sepakat atau tidak, pengetahuan secara epistemologis terbagi ke dalam dua hal, sebagaimana yang dirumuskan oleh para filosof muslim terdahulu. Pengetahuan dengan perolehan (husuli) serta pengetahuan melalui kehadiran (huduri). Terkait kedua jenis pengetahuan tersebut dapat dicari penjelasannya tersendiri, tetapi tidak untuk saat ini. Sedangkan persoalan yang kita bicarakan saat ini termasuk dalam golongan pengetahuan melalui kehadiran (huduri). Karakteristik pengetahuan ini tidak dapat diperoleh melalui pengalaman ataupun observasi indra  (pengamatan). Tetapi seperti hadir secara tiba-tiba begitu saja. Dan kehadirannya tak mungkin dapat ditunda atau bahkan diingkari.

Pada dasarnya CINTA yang sedang dibicarakan sekarang ini adalah merupakan akibat. Dia bukanlah merupakan sebab murni. Namun demikian merupakan akibat yang dapat menjelma sebagai sebab bagi akibat-akibat selanjutnya. Misalnya adalah perbuatan-perbuatan yang dilakukan setelah menyadari kehadirannya. Oleh karena itu, berdasarkan argumen ini, dia bukanlah sesuatu yang azali (kekal). Melainkan sesuatu yang baru dan berpotensi untuk memiliki akhir (fana). Mungkin hal ini akan sangat mengecewakan bagi sebagian besar manusia yang terlalu mengagungkannya, termasuk juga para sufi itu, tetapi begitulah keadaannya.

Sebagaimana telah disinggung bahwa CINTA adalah suatu akibat bukan sebab murni. Karenanya keberadaannya hampir sama halnya seperti WAKTU. Mengenai waktu semoga masih diberikan kesempatan untuk mengulasnya secara mendalam. Keduanya adalah suatu akibat dari suatu sebab yang memunculkannya. Sebagai gambaran singkat bahwa apa yang manusia pahami sebagai WAKTU dewasa ini adalah merupakan suatu satuan kesepakatan untuk menunjukkan suatu gerak materi saja. Sebagaimana siang dan malam merupakan suatu akibat dari gerakan bumi mengelilingi rotasinya sendiri. Sedangkan angka tahun sebagai penunjuk gerak evolusi bumi. Karenanya keberadaan WAKTU hanyalah sebagai akibat. Sesungguhnya ia tidak benar-benar bereksistensi. Namun demikian ia kekal selama adanya gerak, baik materi (fisika) maupun yang melampauinya (metafisika).

Kembali ke pokok persoalan, bahwa CINTA hanyalah suatu akibat saja. Yakni bahwa ia ada dikarenakan adanya sebab yang memunculkannya. Karenanya, jika sebab-sebab itu tak penuhi maka “keberadaannya” tidak akan pernah “ada”. Persoalan dia akan berubah menjadi sebab selanjutnya itu merupakan hal yang lain. Setidaknya ada beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk menghadirkan atau menumbuhkan CINTA itu sendiri.

Pertama, harus ada subjek yang akan memberikan CINTA (mencintai) dan objek yang menerima CINTA (dicintai). Namun demikian sangat dimungkinkan untuk adanya hubungan timbal balik diantara keduanya (saling mencinta). Hal ini dikarenakan objek yang menerima dapat pula berupa sukjek yang lainnya selama memenuhi kriteria selanjutnya. Kedua, subyek yang memberikan rasa CINTA haruslah makhluk berkesadaran (berakal) dan berkehendak. Dia bukanlah benda mati ataupun makhluk hidup yang mengandalkan insting. Karenanya dalam hal ini CINTA hanya dirasakan oleh manusia. Dalam hal ini perlu ditegaskan bahwa manusia tidaklah sama dengan hewan sebagaimana yang dipahami oleh Darwinisme. Ketiga, setiap CINTA mensyaratkan kriteria-kriteria tertentu (khusus dan unik) yang harus dipenuhi, baik dari sisi subjek maupun objek. Kriteria-kriteria ini dapat berupa bentuk, karakter (personality), ataupun fungsi. Keempat, CINTA dapat berubah (tumbuh semakin lebat atau bahkan semakin rusak atau hilang). Yaitu sesuai dengan adanya potensi perubahan diri subjek ataupun objek itu sendiri.

Keniscayaan yang diakibatkan dari kemunculan rasa CINTA ini adalah potensi serta hasrat untuk menyatu. Kenapa demikian? Karena esensi dari CINTA adalah penyatuan itu sendiri. Analogi terkait persoalan ini adalah sebagaimana esensi api yang membakar ataupun es yang membekukan. Lalu bagaimana dengan CINTA yang “bertepuk sebelah tangan”? Simple saja, hal ini disebabkan karena objek yang menerima CINTA tidak berubah menjadi subyek yang memberi CINTA pada subyek pertama. Ini sebagaimana manusia memberikan CINTA pada hal-hal diluar yang berkesadaran dan berkehendak, misalkan benda-benda mati. Sedangkan pada hewan hanya memiliki insting saja.