Kata orang tiada hal yang lebih agung selain “kemerdekaan”. Karenanya banyak orang berjuang keras untuk meraih kemerdekaannya masing-masing. Entah merdeka dari kolonialisasi bangsa lain, merdeka berekspresi, merdeka berpendapat, ataupun merdeka menentukan nasib dan pilihannya sendiri. Bebas tanpa ada kekangan serta intervensi dari pihak manapun.

Saking diidamkannya, tema tentang kemerdekaan ini tentu sudah sangat jamak diulas dan kita temui diberbagai kesempatan. Baik diberbagai buku cetakan, khotbah-khotbah di masjid, kampanye-kampanye politik ataupun forum-forum diskusi terbuka dan informal lainnya. Karenanya bukan sebuah rahasia bila setiap orang, apapun latar belakangnya, pasti menginginkan kemerdekaan.

Namun merdeka seperti apakah yang layak kita miliki dalam konteks kehidupan sosial ini? Tema semacam ini seseungguhnya juga telah banyak diulas. Dengan kesimpulan mayoritas yang dianut adalah bahwa dalam konteks sosial kemerdekaan haruslah bertanggung jawab. Dalam artian bahwa kemerdekaan seorang individu tidak menabrak, mengganggu, atau merusak kemerdekaan orang lain.

Sedangkan mereka yang meyakini kebenaran agama, berkeyakinan bahwa kemerdekaan yang bertanggung jawab ini bukan sekedar urusan dengan kebebasan orang lain semata, tetapi juga bertanggung jawab terhadap Tuhan, sebagai pemberi mandat kemerdekaan.  Salah satu bentuknya adalah kemerdekaan yang memakmurkan alam semesta seluruhnya. Bukan sekedar untuk individu maupun kemanusiaan.

Lalu masih banyak lagi tema-tema terkait dengan kemerdekaan lain yang mengemuka. Salah satunya terkait dengan kemerdekaan sebuah bangsa (red: kedaulatan). Yakni tentang apakah sebuah negara bangsa benar-benar telah merdeka secara de facto, tidak hanya de jure. Juga tentang bagaimana kedaulatan sebuah negara tidak berbenturan dengan kedaulatan negara jirannya. Hal ini menjadi bukti bahwa tema kemerdekaan merupakan wacana yang sangat dekat dan nyata dalam kehidupan sosial manusia.

Beberapa peristiwa terakhir yang mengemuka di tanah air adalah terkait sejauh mana kebebasan berekspresi dapat dilakukan di ruang publik. Kasus batalnya konser Lady Gaga menjadi momen yang sangat baik sebenarnya untuk kembali merumuskan batas kewajaran sebuah ekspresi di ruang publik. Hal ini berkait erat dengan budaya masyarakat sendiri yang masih akrab dengan aksi panggung para penyanyi dangdut yang seringkali bahkan lebih vulgar ketimbang diva amerika tersebut. Selain itu, ekspresi keagamaan “aliran sempalan” seperti halnya Ahmadiyah juga patut juga dirumuskan dalam sebuah konsensus bersama yang mengikat, seperti undang-undang ataupun piagam madinah, misalnya.

Sebagaimana telah dibahas di muka, bahwa  kemerdekaan merupakan impian setiap manusia.  Maka sesungguhnya ada hal yang menggelitik di sana. Ketika setiap orang mengangankan kemerdekaan, dengan demikian berarti setiap orang sebenarnya sedang “terjajah”. Baik itu sekedar terbatasi oleh kondisi material dan norma-norma (aturan) yang ada, ataupun terkekang oleh sistem kehidupan secara keseluruhan?

Dengan demikian, memang, perlu disadari bahwa sejatinya manusia tidak mungkin bebas seutuhnya. Selalu ada batasan-batasan yang melingkupi dirinya. Mungkin memang demikian itulah fitrah kehidupan. Namun, tentu tidak semua orang berani sepakat dengan asumsi tersebut. Dibutuhkan kejujuran dan kerendahan diri untuk mengakui keterbatasan.

Selanjutnya bila manusia tidak bisa benar-benar bebas merdeka, kemudian apakah sesungguhnya ada yang lebih agung dan mulia bagi keberaaan manusia ada di dunia? Bila benar keberadaan manusia di dunia memiliki maksud dan tujuan, sudah seharusnya jawaban yang muncul adalah “ada”. Dan mungkin, bisa jadi dan pasti, adalah pengabdian. Mengapa pengabdian?

Konsep pengabdian sejujurnya adalah konsep yang jauh lebih mulia ketimbang kemerdekaan. Hal ini dikarenakan jika kemerdekaan sesungguhnya bertolak dari kepentingan diri sendiri, sedangkan pengabdian justru bermula dari kepentingan orang lain. Singkat kata, kebahagiaan dan kesenangan orang lain menjadi prioritas ketimbang pencapaian diri sendiri. Terkesan normatif memang, tapi ini sungguh tak bisa disangkal.

Selain itu, sebagaimana disinggung di muka bahwa ketika seseorang menginginkan dirinya bebas merdeka, berarti dirinya merasa sedang dalam tekanan dan kekangan. Berbeda dengan orang yang ingin mengabdi, sejatinya dia telah merasa bebas dan merdeka untuk memilih dan memutuskan sesuatu. Mereka yang merelakan diri menjalani pengabdian sudah tentu adalah mereka yang telah menemukan kemerdekaannya dan selanjutnya ingin membagikan kebebasannya tersebut kepada orang lain. Bukankah hal ini sungguh agung?

Namun demikian, tidak setiap orang mampu dan mau menjalani pengabdian. Menyingkirkan ego dan kepentingan pribadi demi orang lain, ataupun mungkin Tuhan sekalipun,  adalah hal yang amat berat dijalankan. Nah, mungkin itu pulalah bukti mengapa pengabdian lebih agung ketimbang kemerdekaan. Wallahualam…