Just because you do not take an interest in politics

doesn’t mean politics won’t take an interest in you 

Pericles (Jendral Keemasan Athena 495-429 SM)

Tidak semua orang tahu banyak tentang perpolitikan. Meski tak sedikit orang aktif terlibat dalam asiknya  permainan politik kekuasaan, tapi ternyata sebagian lain justru memilih menjauh dari dunia ini.

Hampir setiap saat warga negara yang telah memasuki usia dewasa terlibat dalam obrolan bertema politik. Entah itu politik di tingkat nasional (negara) maupun lokal (desa). Entah profesional atau pun amatiran. Bahkan mereka yang alergi politik sekalipun pasti pernah terlibat dalam perbincangan politik.

Tak hanya dalam obrolan dan perbincangan, setiap orang yang merupakan warga negara atau anggota masyarakat tak akan pernah bisa lepas dari “pelukan” dunia politik. Bahkan di lingkup keluarga pun pada dasarnya setiap orang berpolitik. Sebagai contoh, setiap orang tua dimanapun pasti menginginkan anaknya berhasil. Entah itu berhasil menurut kacamata para orang tua atau pun berhasil sesuai kehendak sang anak. Karenanya dalam mendidik anaknya orang tua seringkali memaksa agar sang anak masuk di sekolah tertentu atau mengambil jurusan tertentu. Mungkin bila sang anak adalah seorang penurut, maka tak akan banyak timbul persoalan. Tapi bila sang anak memiliki kehendak sendiri yang bertentangan,  terjadilah konflik kepentingan. Dan dari sanalah selanjutnya proses politik mengemuka. Proses negoisasi dan konsensus dibutuhkan. Hingga akhirnya diambillah sebuah kebijakan.

Saking dekatnya kehidupan manusia dengan politik itulah, maka arsitoteles menyebutnya sebagai zoon politicon, yakni binatang yang berpolitik. Tak peduli itu politik tingkat dewa atau pun politik tingkat dasar, semua orang pasti terlibat dalam politik. Baik itu sebagai subjek aktif atau hanya sebatas objek pasif.

Sebagai subjek, jelas orang tersebut akan terlibat aktif dalam berpolitik. Entah itu politik dalam kekuasaan formal atau sekedar informal. Kekuasaan formal di sini maksudnya adalah kekuasaan (pengaruh) dalam organisasi formal yang memiliki kewenangan atau pun hak dan kewajiban tertentu terhadap anggotanya. Sedangkan kekuasaan informal berarti pengaruh yang tidak dalam ikatan organisasional tertentu, misalnya dalam hubungan pertemanan atau jual-beli.

Begitu luasnya dimensi dunia politik menyebabkan manusia tak perbah bisa lepas darinya. Kecuali jika ia hidup soliter (sendiri) dalam sebuah gua yang terasing.  Selama masih dalam komunitas, seseorang tak akan pernah bisa steril dari politik. Karena itulah kalimat Pericles di atas demikian relevan.

Namun demikan, sebagaimana telah dipaparkan di muka bahwa tidak semua orang mau dan berani terlibat aktif dalam dunia politik praktis. Sebagian orang lebih merasa nyaman dan aman berada di luar lapangan politik. Adalah dikarenakan perspektif mayoritas yang memandang bahwa dunia politik itu kotor. Politik selalu penuh dengan intrik.

Tak bisa dipungkiri bahwa politik selalu penuh dengan intrik. Dalam proses perebutan kekuasaan (pengaruh) selalu terjadi manuver-manuver liar yang tak seratus persen bisa diprediksi. Kawan menjadi lawan dan lawan menjadi kawan sangat jamak ditemui. Bahkan seringkali juga berlaku anomali-anomali perilaku para pelakunya. Dalam bahasa yang lebih populer dikenal dengan istilah “pagi kedelai, sore tempe”. Demikian dinamisnya dunia politik kemudian juga menyebabkan apa yang dikenal sebagai pedoman “tak ada teman abadi melainkan kepentingan”. Begitulah adanya dunia politik, sangat cair dan penuh intrik. Sehingga tak jarang menmunculkan drama yang sangat menarik.

Orang yang lebih positif dalam memandang politik dapat melihatnya sebagai sebuah ikhtiar dalam mewujudkan kebaikan bersama. Melalui kekuasaan yang digenggamnya, sesorang dapat menghadirkan kesejahteraan dan kemakmuran bagi anggota dan masyarakatnya secara keseluruhan. Bila dikelola dengan baik dan benar, politik kekuasaan dapat mendatangkan kebahagiaan. Mengubah dan memperbaiki keadaan akan lebih mudah bila memiliki kekuasaan dalam genggaman. Karenanya politik dipandang sebagai sesuai keutamaan.

Dua wajah kontroversial itulah yang menyebabkan politik dikenal sebagai “pedang bermata ganda”. Di satu sisi dapat mewujudkan kesejahteraan, tapi di sisi lain dapat menghadirkan malapetaka. Semua tergantung pada subjek pelakunya semata. Apakah akan digunakan untuk kebaikan bersama atau menindas sesama demi kepentingan pribadinya. Yang jelas, sejauh apapun kita mengisolasi diri dari dunia politik, dia akan tetap mengejar dan memeluk kita dengan erat. Wallahualam..