Membaca tulisan-tulisan Tuan Murtadha Muthahhari memang selalu menyenangkan. Penjelasannya yang terang memperlihatkan betapa luas pemahaman beliau atas tema-tema filsafat secara keseluruhan. Begitu pula penjelasan beliau terkait dengan fitrah. Berikut penjelasan awal -sekedar pangantar- yang dapat aku sampaikan. Untuk mengetahui lebih terang agar membaca buku Bedah Tuntas Fitrah, Mengenal Jati Diri, Hakikat dan Potensi:

Secara hemat dapat dikatakan bahwa fitrah merupakan konsep yang dibangun dalam Islam (dikarenakan memang konsep asli dalam Al Quran) terkait dengan potensi bawaan yang dimiliki manusia sejak penciptaannya. Pada dasarnya konsep fitrah hampir-hampir serupa dengan naluri atau insting yang dimiliki oleh hewan. Namun demikian adalah kesadaran akan pemahaman dan pengetahuan itulah yang membedakan keduanya.

Bila binatang melakukan sesuai tanpa menyadari kenapa dan mengapa, hal ini tidak demikian pada manusia. Contoh, saat lebah atau pun semut berkoloni, kedua komunitas binatang tersebut tidak menyadari mengapa mereka harus demikian itu? Hanya saja mereka harus mengikuti dorongan nalurinya untuk berbuat demikian.

Namun tidak demikian dengan manusia. Manusia pada hakikatnya merupakan makhluk yang tercipta melalui perpaduan dua potensi. Yakni materi dan ruh. Maksudanya adalah bahwa di satu sisi memiliki dorongan-dorongan materi sebagaimana binatang, di sisi lain memiliki aspek-aspek ketuhanan (spiritual).

Konsep fitrah ini pula sesungguhnya mengeliminasi pandangan filasafat idealisme plato dan empirisme yang bersumber dari aristoteles.  Yakni menolak pandangan yang menyakini bahwa manusia terlahir dengan memiliki pengetahuan (dalam dunia ide) sebelumnya sekaligus menolak konsep manusia semata-mata adalah tabularasa (yakni seperti kain putih polos).

Pada dasarnya konsep fitrah yang diyakini para filsuf muslim salah satunya meyakini bahwa manusia dalam penciptaannya telah memiliki potensi-potensi bawaan yang “dicelupkan” oleh Tuhan, Allah Azza Wajalla. Salah satunya buktinya adalah seperti konsepsi-konsepsi berpikir manusia. Konsepsi berpikir manusia adalah sesuatu yang khas dan tidak dimiliki oleh binatang.

Pada mulanya, ketika bayi, manusia memang tidak memiliki pengetahuan apapun. Namun jangan pula lupa bahwa ketika di alam “rahim”, manusia telah mengakui kebenaran tentang Tuhan. Sehingga selanjutnya dalam proses pendewasaan serta pembelajarannya, manusia perlu dibimbing dan “diingatkan”. Hal ini juga mengacu pada risalah kenabian yakni untuk “mengingatkan manusia”, bahwa Nabi SAW adalah sebagai pembawa peringatan.

Hal ini pulalah yang seharusnya menjadi fondasi dasar dalam pelaksanaan pendidikan. Sebagaimana konsep yang dicontohkan oleh Socrates dalam memberikan pengajaran.  Bahwa guru seharusnya adalah seperti bidan. Alam telah mengajarkan perempuan untuk melahirkan, dan karenanya seorang bidan hanya membimbing dan membantunya untuk melahirkan. Begitu pula dengan seorang guru yang baik. Hanya sebatas membimbing dan membantu mengeluarkan bakat dan potensi muridnya (al-murid berarti orang yang menginginkan).