Adalah sebuah pertanyaan besar yang ingin diajukan  judul di atas? Diantara segala kemajuan ilmu pengetahuan yang di capai manusia kontemporer saat ini, adakah sisi kemanusiaan kita juga mengalami kemajuan besar?

Di sela-sela megahnya gedung-gedung pencakar langit di kota-kota metropolitan itu, adakah mereka telah memiliki nilai-nilai yang lebih luhur dan maju ketimbang para nenek moyang terdahulu? Dengan segala kemutakhiran teknologi yang dirilis belakangan ini, sudahkah peradaban manusia terbangun dengan sistem yang lebih adil dan beradab? Atau, apakah justru terjadi sebaliknya? Kemajuan sains dan teknologi yang ada justru berbanding terbalik dengan capaian kemanusiaan kita?

Adalah sebuah ironi yang mungkin tak pernah menjadi perhatian kita bila saja semua pencapaian tersebut tak membawa manusia mencapai kemajuan sedikitpun dalam sejarah kemanusiaannya sendiri. Atau, sesungguhnya kemanusiaan kita juga mengalami pencapaian-pencapaian tertentu, hanya saja lebih lamban dan tak terasa?

Namun, maraknya aksi kekerasan, korupsi, kolusi, nepotisme, penipuan, penindasan, perang saudara, perbudakan seksual serta perbudakan industri belakangan ini patut untuk menjadi bahan perenungan serius. Agar perahu peradaban yang kita dayung bersama ini tak tersesat dalam berlayar hingga berlabuh kelak.

Kemanusiaan yang dimaksud di sini adalah terkait dengan prinsip-prinsip dari nilai-nilai universal yang utama. Misalnya adalah seperti prinsip-prinsip kejujuran, keadilan, toleransi, kesetaraan, dan lain sebagainya. Memang terdapat banyak pandangan yang berseberangan dalam memandang hal tersebut. Berbagai ideologi atau pun pandangan dunia yang dianut oleh masing-masing kelompok menghasilkan konsekuensi yang berlainan dalam menilai tema-tema kemanusiaan ini.

Mereka yang beraliran materialisme-marxisme tentu berbeda dengan kaum eksistensialisme. Begitu pula dengan aliran filsafat lain, seperti nihilisme, positivisme atau pun filsafat islam (pandangan dunia tauhid). Berbagai perbedaan yang muncul tentu berkaitan dengan titik tolak masing-masing dalam memandang kebenaran dunia (dunia sebagaimana adanya). Mereka yang  menganut materialisme-marxisme, misalnya, secara sederhana memandang segala kebenaran didasarkan pada unsur materialnya.

Bahwa nilai-nilai kemanusian, termasuk juga agama, tidak lain dan tidak bukan sebenarnya tidak ada, karena memang tidak memiliki bentuk materinya. Nilai-nilai tersebut dianggap hanya sebagai konstruksi berpikir dan berperilaku dari kelas berkuasa untuk dapat semakin menindas kelas perkerja. Karenanya dengan demikian kelas pekerja pun disarankan untuk membentuk nilai-nilai kemanusiaannya sendiri untuk digunakan dalam perjuangannnya melawan kelas penguasa. Di sini sebenarnya terjadi sedikit kontradiksi dalam pemikiran materialisme-marxisme. Di sisi lain mereka tidak mempercayai sesuatu yang immaterial, tetapi di sisi lain mereka membangun ilusi immaterialnya sendiri.

Sementara itu filsafat nihilisme hampir-hampir mengajarkan bahwa sesungguhnya dunia ini tidak memiki kebenaran mutlak sama sekali. Semua hanyalah ilusi atau bikin-bikinan manusia semata.  Dan karenanya bersifat nisbi, agar manusia memiliki suatu  kepastian dalam hidupnya. Tak lain bahwa manusia hanyalah mencari zona-zona aman dalam hidupnya. Aliran pemikiran ini sangat lantang diteriakkan oleh filsuf radikal Nietzsche.

Agaknya, tanpa disadari dan diam-diam, kedua aliran inilah yang sedang menggejala di masyarakat internasional saat ini. Hal ini kemudian dikonstruksi sedemikian rupa oleh kekuatan modal (kapitalisme). Karenanya hampir-hampir relativisme dikedepankan menjadi pegangan hidup mayoritas, baik disadari atau pun tidak. Pragmatisme masyarakat global hampir-hampir tak bisa dibendung. Nilai-nilai keutamaan digusur atas nama pasar (market) yang telah menjadi berhala-berhala baru yang diagungkan. Demikian pula dengan kemanusiaan, kita hampir selalu tergadaikan atas nama pasar.

Tak bisa dipungkiri bahwa mayoritas muslim pun, diam-diam, hanyut dalam kedua aliran pemikiran tersebut. Padahal Islam, melalui Nabi Saw, telah mengajarkan pentingnya nilai-nilai keutamaan tersebut dalam kehidupan sehari-hari dalam konsep akhlak. Bahkan Al Qur’an sendiri telah menggolongkannya termasuk dalam fitrah manusia. Dalam arti bahwa prinsip-prinsip kemanusiaan tersebut sejatinya telah tertanam sebagai software bawaan manusia sejak lahir. Dan karenanya prinsip-prinsip kemanusiaan ini harus terus digali terus menerus dalam diri manusia. Bukan malah dipendam dan dicampuraduk oleh kepentingan-kepentingan pragmatis duniawi. Wallahualam..