Kemenangan pasangan Jokowi dan Basuki (sekitar 43%) pada hasil hitung cepat dari semua lembaga survei  yang terlibat pada putaran I Pilkada DKI memperlihatkan betapa sesungguhnya kepemimpinan adalah aset yang sangat besar. Dengan hanya butuh waktu dan dana yang relatif singkat, mereka dapat menggusur pasangan petahana yang memiliki lebih banyak “gizi” dan media pencitraan.

Beberapa waktu belakangan, Jokowi memang dikenal sebagai kepala daerah yang berprestasi dengan menelurkan banyak terobosan. Di bawah kepemimpinannya Solo menjadi daerah yang dikenal dan memperoleh banyak penghargaan. Keberaniannya mempromosikan mobil Esemka menjadikannya sosok yang dikenal luas dalam waktu singkat. Prestasinya mengangkat Kota Solo sebagai tuan rumah berbagai event nasional maupun internasional banyak memperoleh pujian. Karenanya tak salah jika Jokowi masuk dalam kandidat walikota terbaik di dunia.

Demikian pula dengan Basuki. Dikenal sebagai sosok muda yang bersih dan transparan. Merupakan bupati terpilih Tionghoa pertama di era demokrasi langsung. Yaitu ketika menjadi bupati terpilih Belitung Timur. Ketokohannya yang menginspirasi membuatnya pernah diundang sebagai bintang tamu dalam acara bertajuk Kick Andy. Meskipun melompat dari P. Golkar ke P. Gerindra untuk maju sebagai calon wakil gubernur, hal tersebut tidak lantas mencoreng citra positifnya.

Gebrakan kedua figur muda tersebut seolah menjadi oase bagi rendahnya moral dan kapasitas kepemimpinan yang melanda bangsa ini. Karena itulah sosok pasangan ini menjadi media and middle-class darling. Kedua figur ini semakin mendapat tempat di hati masyarakat. Walhasil tanpa diduga berhasil menjadi pemenang sementara pada putaran I ini, setelah dalam berbagai survei prapilkada selalu menempatkan Foke-Nara (sekitar 32%) di puncak perolehan dukungan.

Figur dan popularitas Foke sebagai petahana memang belum luntur. Namun demikian, minimnya perubahan yang dilakukannya selama periode pertama memimpin membuatnya kurang diminati kalangan kelas menengah. Bahkan berbagai akun berpengaruh di Twitter justru menyudutkannya sebagai gubernur gagal. Bahkan berbagai tuduhan korupsi pun sering ditujukan padanya.

Faktor kicauan di arena Twitter memang memiliki andil yang cukup besar dalam kemenangan Jokowi. Masyarakat jakarta yang melek teknologi dan sosial media memperoleh banjir informasi terkait kekurangan dan kelebihan masing-masing calon selama berlangsungnya pilkada. Bahkan di masa tenang sekalipun kicauan Twitter, baik dari pendukung maupun calon sendiri, terus memenuhi layar timeline.  Dan memang dari para pengguna Twitter yang mayoritas adalah kelas menengah banyak yang memberikan gambaran positif terhadap figur Jokowi. Meski beberapa calon lain, seperti Faisal-Biem dan Hidayat-Didik juga memiliki banyak pendukung di sana. Namun demikian Jokowi tetap menjadi primadona bagi kelas menengah ini.

Dari hasil ini, adalah sebuah hikmah yang dapat dipetik sebagai bahan pelajaran terutama bagi para pemimpin politik. Yakni bahwa kepemimpinan yang mereka jalankan selama berkuasa merupakan aset immaterial yang membawa berpengaruh besar dalam kesuksesan pemilihan selanjutnya. Bagaimana seorang pejabat politik menggunakan kekuasaan yang digenggamnya selalu menjadi pusat perhatian rakyat.

Mayoritas masyarakat pun kini semakin cair secara politik. Politik aliran cenderung melemah. Dan, figur serta rekam jejak kandidat yang bertarung menjadi pertimbangan yang lebih menentukan ketimbang nama besar parpol pengusung sekalipun. Masyarakat yang kian hari semakin rasional akan dapat memberikan pelajaran bagi mereka yang tidak menyelenggarakan kekuasaan dengan baik. Masyarakat semakin mampu membedakan antara pemimpin yang hanya pandai berjanji/berslogan dengan yang ahli merealisasikan keinginan masyarakat.

Kegagalan dalam memimpin adalah “bunuh diri” dalam politik. Terlebih bagi para pemimpin yang masih suka coba-coba untuk bertindak korup. Jangan  harap masyarakat akan sudi memilih kembali. Wallahualam..