Konflik dengan diwarnai aksi kekerasan kembali menyeruak di negeri ini. Beberapa hari paska masyarakat muslim Indonesia merayakan Idul Fitri (20 Agustus 2012), terjadi aksi penyerangan terhadap warga penganut Syi’ah di Sampang, Madura (29 Agustus 2012). Pelakunya tak lain adalah juga warga muslim, yang berlatar Sunni.

Meski kini konstruksi pemberitaan terkait kasus tersebut lebih mengarah pada konflik berlatar masalah keluarga ataupun bisnis (dicurigai adanya ladang minyak yang tersimpan disana), toh aksi pembakaran hingga tewasnya dua orang korban kembali membuka borok wajah toleransi dan kehidupan beragama bangsa pada umumnya dan umat Islam pada khususnya. Terlebih bahwa beberapa waktu sebelumnya dapat dipastikn hampir seluruh umat muslim Indonesia dengan lantang mengutuk kekerasan terhadap warga muslim Rohingya yang terjadi di wilayah Rakhine, Myanmar. Tentu menjadi sebuah ironi tersendiri bahwa ternyata kita sendiri masih belum lebih baik dari negeri jiran, yang kita kutuk rame-rame tersebut.

Apapun latar belakang yang menyulutnya, namun konflik di Sampang  menjadi bukti kuat betapa kita belum sepenuhnya bisa menerima perbedaan. Meski sebenarnya telah berabad-abad lalu perbedaan ini hidup di tengah-tengah kehidupan kita. Entah itu  perbedaan tafsir keagamaan, perbedaan keyakinan, perbedaan ideologi, hingga perbedaan pilihan politik sekalipun. Padahal selama kita hidup bermasyarakat, perbedaan itu akan selalu ada. Terlebih dalam negara ekstra majemuk seperti tanah air tercinta. Kita seperti selalu jatuh di area lubang yang itu-itu saja. Dan pada akhirnya kita menjadi tak kemana-mana. Karena energi besar kita selalu habis untuk mengurusi hal-hal yang tak berkembang. Tak ada progres yang bisa kita capai sebagai umat manusia.

Padahal andaikan kita mau berpikir dan melihat secara jernih dengan sudut pandang yang tepat, maka perbedaan yang ada tak ubahnya adalah sebuah mozaik yang tersusun menjadi indah. Namun seringkali kitalah yang terlalu kerdil untuk menjangkau keindahan tersebut. Mungkin juga terlalu malas untuk menggapai hikmah keindahan yang terbentang luas di jagad semesta ini. Hingga akhirnya bukan karena perbedaan itulah yang membuat kita saling membenci, tapi kebencianlah yang selalu membuat kita menjadi berbeda. Wallahuallam……