Pada hari penutupan pendaftaran partai politik 7 september 2012 kemarin setidaknya terdapat sebanyak 46 partai politik (parpol) yang menyerahkan berkas kelengkapan sebagai calon peserta Pemilu Legislatif  2014. Meski belum tentu ditetapkan sebagai peserta pemilu, dikarenakan harus melalui tahap verifikasi administrasi dan faktual, setidaknya gambaran Pemilu Legislatif 2014 dan roda pemerintahan kelak mulai bisa diprediksi.

Sebagai catatan bahwa semenjak digelarnya reformasi 1998 silam jumlah parpol peserta pemilu selalu mengalami pasang surut. Pemilu 2009 diikuti sebanyak 44 parpol, Pemilu 2004 sebanyak 24 parpol dan Pemilu 1999 sebanyak  48 parpol. Benang merahnya adalah bahwa fenomena multipartai ini terus berkelanjutan.

Sebenarnya telah banyak pengamat maupun akademisi yang memberikan kritik terhadap persilangan antara sistem presidensiil yang diterapkan di negeri ini dengan sistem multipartai yang mengemuka paskareformasi. Mayoritas sepakat berpendapat bahwa persilangan kedua sistem tersebut cenderung menghasilkan pemerintahan yang kurang efektif. Dikarenakan tingginya frekuensi gesekan politik di parlemen yang mengakibatkan “tersanderanya” Presiden, sebagai kepala pemerintahan, oleh praktek politik di parlemen. Prinsip check and balances kemudian justru bergeser menjadi praktek sandera-menyandera kepentingan yang bermuara pada tukar-menukar kepentingan (politik transaksional). 

Tingginya jumlah parpol yang telah mendaftarkan pada KPU beberapa waktu lalu menguatkan sinyal bahwa praktek anomali politik demikian masih akan terus berlanjut. Meskipun muncul beberapa wajah parpol baru, tetapi melihat aktor-aktor dibelakangnya yang didominasi pemain lama diprediksi belum akan mampu berbuat banyak untuk merubah kondisi politik yang ada. Dalam artian bahwa masih akan dibutuhkan deal-deal politik tingkat tinggi untuk memperlancar gerak roda pemerintahan kelak. Hal ini diperkuat dengan angka ambang batas parlemen (parliamentary threshold) yang meskipun dinaikkan 5% dari pemilu sebelumnya (2,5% menjadi 3%) tetapi diyakini belum akan banyak mengubah komposisi jumlah parpol yang bakal duduk di parlemen. Bahkan sangat memungkinkan justru menambah jumlah parpol di parlemen dikarenakan belum munculnya parpol dominan yang mengakibatkan penyebaran perolehan suara lebih merata. Semakin meningkatnya angka pemilih mengambang (swing voters)  beberapa tahun belakangan menjadi sinyal bagi memudarnya dominasi politik aliran dalam masyarakat.

Memang masih terlalu dini untuk menyimpulkan segala sesuatunya saat ini dikarenakan sangat cairnya kondisi perpolitikan tanah air. Sebuah kondisi yang mengemuka hari ini dapat saja berubah seratus delapan puluh derajat di esok hari.  Tergantung ke mana arah angin berhembus. Wallahualam…