Akhir-akhir ini konflik di tanah air dan juga dunia internasional makin marak. Penyebab utamanya tak lain dan tak bukan adalah urusan label (identitas).

Memang urusan label ini terbukti sangat amat sensitif. Terlebih bila sudah tercampur aduk dengan urusan politik kepentingan. Semakin brabe dah, kata orang Betawi.  Hal yang remeh temeh bisa meledak bak bom atom. Masalah kecil langsung jadi besar. Meledak!

Manusia memang sangat suka memberi label. Karena begitulah adanya fitrah akal manusia. Masih ingat kisah tentang Nabi Adam a.s? Sekedar refresh sejenak, yaitu ketika beliau berada di surga, Tuhan mengajarkannya nama-nama sesuatu. Kemudian mendemonstrasikan kemampuannya tersebut di depan para malaikat dan iblis sebagai sebuah kelebihan yang dimilikinya. Nah, saat itulah Tuhan menyuruh malaikat dan iblis untuk bersujud menghormat (bukan menyembah) kepada Adam (red: manusia). Dan seterusnya -dan seterusnya.

Melalui cerita di atas nampak juga bahwa menyebutkan nama-nama (identitas) pada dasarnya adalah karunia Tuhan yang diberikan kepada manusia. Dan dengan fitrah akal itulah manusia dapat membedakan (mengidentifikasi dan mengklasifikasi) antara tumbuhan dengan hewan, bintang dengan bulan, malam dengan siang, lapar dengan haus, panas dengan dingin,  mamalia dengan serangga dan banyak  hal lain sebagainya.

Kemampuan menyematkan label (identitas) ini kemudian semakin kompleks dengan berkembangnya kebutuhan peradaban dan ilmu pengetahuan. Manusia tak hanya membeda-bedakan secara keseluruhan tetapi membaginya secara lebih dan semakin mendetail. Tak hanya membedakan manusia dengan binatang, tetapi bahkan antar manusia itu sendiri. Apakah arab atau persia, lelaki atau perempuan, hitam atau putih, botak atau keriting, gemuk atau kurus, mancung atau pesek, penganut agama ini atau itu, pendukung si x atau si z, penggemar rock atau jazz, sosialis atau kapitalis, sunni atau syi’ah dan lain-lain.

Dan sudah menjadi fitrah pulalah bahwa manusia selalu lebih merasa nyaman dan cenderung memilih berkelompok bersama dengan mereka yang memiliki label/identitas/kepentingan yang sama atau setidaknya merasa sama dengan dirinya dalam hal-hal tertentu. Lalu kemudian timbullah komunitas-komunitas berdasarkan kesamaan jenis, seperti komunitas rapper, himpunan mahasiswa islam, genk motor gede, partai republik, ibu-ibu PKK Rt 5, klompencapir, jama’ah al qaedah, Klhu Klhuk Klhan dan sebagainya. Tak ubahnya seperti koloni ubur-ubur atau semut merah.

Kecenderungan tersebut semakin menguat dengan memberikan prejudice terhadap kelompok lain di luar kelompoknya, sebagai the other/liyan/kafir. Untuk mempertegas garis batas antara aku/kita dengan mereka. Dan kemudian menganggap mereka/kelompok lain tak sekedar sebagai kompetitor melainkan juga sebagai ancaman bagi eksistensi kelompoknya.

Merasa paling benar, menjadi klaim yang paling mujarab untuk memperteguh ikatan dalam kelompok. Bila sudah begitu gesekan sekecil apapun dapat menyulut bara dalam beda label/identitas itu. Ujung-ujungnya konflik meledak dengan disertai fanatisme akut. Dendam tertanam. Kebencian ditumbuhkembangkan. Perang tak pernah terhindarkan.

Dalam kondisi demikian, hanya perbedaan yang selalu nampak, bahkan semakin tegas. Kita tak pernah bisa jeli dan terang melihat bahwa dalam semua perbedaan yang kita sematkan, selalu bermula dari sebuah kesamaan. Sama-sama manusia, sama-sama makhluk ciptaan dan sama-sama berasal dari sumber yang sama, yakni Tuhan.  Wallahualam…