Hari-hari ini media massa masih disibukkan dengan pemberitaan “amuk massa” umat muslim yang terjadi di banyak negara. Beredarnya film kontroversial berjudul The Innocence of Muslims menjadi penyebab utama.

Meski bukan yang pertama mendiskreditkan Islam, film yang konon disutradarai oleh orang yang mengaku bernama Sam Bacile ini sungguh kontroversial. Selain karena kontennya yang sangat melecehkan Kanjeng Nabi Muhammad SAW, ternyata juga telah menipu mentah-mentah  para aktor yang bermain di dalamnya.

Berdasarkan penuturan para pemainnya, syuting penggambilan gambar tersebut awalnya untuk film dengan judul Dessert Warrior. Namun, kemudian judulnya diubah dan percakapannya pun diganti (didubbing).

Salah satu korban tewas akibat muk massa yang dilakukan oleh masyarakat muslim adalah Dubes Amerika Serikat untuk Libya, Christopher Stevens di Kota Benghazi. Hingga kini pun gelombang reaksi protes masyarakat muslim terus bergulir, termasuk juga di Jakarta. Dimana kedutaan Amerika Serikat selalu yang menjadi objek sasaran.

Terlepas dari benar-salahnya aksi penyerangan kedutaan besar Amerika Serikat tersebut, siapapun umat muslim di dunia pasti terluka dengan penghinaan tersebut. Pasalnya Kanjeng Nabi Muhammad SAW adalah panutan utama bagi umat Islam. Siapapun pasti rela mengorbankan darahnya untuk menjaga kesucian beliau.

Namun demikian Nabi sendiri selalu memberikan contoh bahwa memaafkan itu tindakan yang jauh lebih baik ketimbang membalas, bagi orang-orang yang mampu membalas. Sebagai catatan, perjalanan hidup Beliau sendiri menjadi teladannya, bukan sekedar himbauan semata. Betapa banyaknya kisah-kisah kesabaran Beliau yang diperlakukan tidak manusiawi oleh orang-orang dari suku Quraisy.

Setidaknya KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dalam bukunya berjudul “Islamku, Islam Anda, Islam Kita”, mencatat dua syarat sehingga diperbolehkannya umat muslim untuk mempergunakan kekerasan. Yaitu ketika akidah terancam (karena boikot dan penyiksaan) dan ketika diusir dari tempat tinggalnya (idzâ ukhriju min diyârihim). Memang hal itulah yang kemudian menyebabkan Nabi diutus untuk mulai memerangi kaum Quraisy Mekkah. Bukan dikarenakan perbedaan dan pelecehan atau penistaan agama belaka.

Adapun Nabi justru seringkali mendoakan orang-orang yang menghina dan mendustakannya agar dibukakan mata dan hatinya serta diberi petunjuk oleh Allah SWT agar dapat menerima kebenaran risalah yang disampaikannya. Wallahualam..