Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Tengah 2013 segera bergulir. Penjaringan calon dari berbagai partai politik telah marak digelar. Siapakah kira-kira yang paling berpeluang menjadi orang no 1 di Jawa Tengah?

Banyak nama-nama tokoh, baik lokal maupun nasional, yang mulai beredar menjelang pilgub  2013 ini. Diantaranya yang paling santer adalah Bibit Waluyo (calon petahana), Rustriningsih (wakil gubernur sekarang),  Ganjar Pranowo (anggota DPR dan politisi PDI-P),  Firman Subagyo (anggota DPR dan politisi P. Golkar), Arief Mudatsir Mandan (Ketua DPW PPP Jateng), Wisnu Hardono (Ketua DPD Golkar Jateng).

Diantara tokoh-tokoh tersebut, tak bisa dipungkiri, nama Bibit Waluyo adalah figur yang paling populer dan diperhitungkan. Kedudukannya sebagai seorang petahana membuat popularitas dan jaringannya menjadi senjata pamungkas “miminang” dukungan masyarakat. Namun demikian hingga kini belum ada satupun partai politik yang resmi meminangnya untuk maju kembali sebagai calon gubernur setelah “ditolak” oleh PDI-P, partai yang dulu mengantarkannya menjadi seorang gubernur.

Kabar-kabur paling mutakhir adalah bahwa Bibit akan dikukuhkan sebagai calon gubernur dari Partai Demokrat pada Musyawarah Daerah (Musda) yang segera akan dilakukan sabtu depan (21-9-2012). Meski demikian kabar ini masih cukup kabur untuk dijadikan rujukan. Belum ada satu pun pihak dari partai berlambang bintang mercy ini yang membenarkan kemunculan wacana tersebut.

Terlepas dari siapapun yang mengusungnya, Bibit adalah sosok yang paling sentral dalam peta politik menjelang pilgub. Meski PDI-P merupakan partai penguasa di Jateng (dengan perolehan sekitar 20% suara pada Pemilu 2009 lalu) namun posisi Bibit sebagai petahana sangat mungkin menjadi batu sandungan dan pesaing terberat.

Terlebih bila akhirnya PDI-P menjatuhkan pilihan pada Rustrininsih untuk maju sebagai calon gubernur yang akan diusungnya. Dan kemudian memasangkannya dengan sutradara kondang Garin Nugroho. Hal ini sungguh akan menambah sengit pagelaran pilgub 2013 mendatang. Sebagai kader terbaik PDI-P di Jateng saat ini, figur Rustriningsih harus diakui memang belum sepopuler Bibit Waluyo. Namun dengan dukungan mayoritas masyarakat Jateng yang terhitung loyal pada “si moncong putih”, akan menghadirkan persaingan yang ketat.

Terlebih belakangan Bibit Waluyo seringkali melakukan “blunder” yang berkontribusi negatif terhadap citra dirinya. Perseteruannya dengan Walikota Surakarta dan pernyataannya yang “melecehkan” kesenian jatilan menjadi raport merah tersendiri dalam pemberitaan media massa terhadap dirinya. Bila tidak dikelola dengan baik, citranya sebagai gubernur yang merakyat dengan slogan “Bali Ndeso, Mbangun Ndeso” dapat segera luntur. Dan ini akan sangat merugikan dan mengurangi peluangnya untuk kembali duduk sebagai orang ni 1 di Jateng.

Berapapun calon yang dinyatakan resmi sebagai calon gubernur nantinya, pusat perhatian dan perebutan simpati masyarakat diperkirakan akan berpotensi mengerucut pada kedua figur ini. Popularitas dan jaringan birokrasi yang dimiliki oleh Bibit Waluyo, akan menguji loyalitas dan kesetiaan masyarakat Jateng terhadap partai pimpinan Megawati ini.

Sementara itu, mesin partai juga akan diuji keefektifannya. Hal ini akan menjadi ajang pemanasan kedua (setelah Pilgub DKI Jakarta) bagi partai-partai politik menjelang pagelaran pemilihan raya yang jatuh pada tahun 2014 nanti. Mampukah partai politik menjelma menjadi “kuda troya” yang berhasil mengantarkan “penunggangnya” keluar sebagai pemenang? atau partai politik kini tak ubahnya hanya menjadi “perahu sewaan yang ternyata bocor” di tengah jalan? Wallahualam..