Umat Islam kembali terusik ketenangannya setelah beredarnya film provokatif bertajuk The Innocent of  Muslims. Film yang mendiskreditkan Nabi Muhammad SAW tersebut telah memicu beragam reaksi dari umat muslim di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Konon, film yang disutradarai oleh seorang imigran Mesir yang bermukim di California, Amerika Serikat, bernama Nakoula ”Sam Bacille” Baselay (beberapa sumber menyebutnya oknum Yahudi dan Kristen Koptik) ini telah didubbing dari versi aslinya tanpa sepengetahuan para aktor yang bermain di dalamnya. Sehingga hal ini turut membuat para aktor yang kebanyakan adalah keturunan arab merasa sangat kecewa karena ditipu.

Film kontroversial tersebut kemudian memicu ledakan reaksi serta protes berbalut kekerasan dari kalangan masyarakat muslim dunia yang terkenal sangat sensitif terhadap tindak  pelecehan terhadap Nabinya ini.

Tragedi terparah terjadi di negara-negara Timur Tengah yang menjadikan kedutaan besar Amerika Serikat dan negara-negara Eropa sebagai sasaran protes massa. Aksi protes dengan kekerasan yang telah memakan korban jiwa, diantaranya adalah Christopher Stevens, Duta Besar AS untuk Libya beserta tiga staf diplomatiknya di Kota Benghazi.

Padahal Stevens dkk, belum tentu mendukung konten film bermotif melecehkan Islam tersebut. Namun demikian tindakan amuk massa seringkali memang sangat rawan lepas kendali untuk dapat mengenal salah benar secara jernih dan berujung pada kekerasan membabi buta.

Di satu sisi, upaya melecehkan Islam, terutama figur Nabi Muhammad SAW, seperti ini memang bukan kali pertama. Sebelumnya, film lain berjudul Fitna besutan Geertz Wilder seorang politisi sayap kanan Belanda, pernah memicu kemarahan umat muslim, termasuk juga di Indonesia.

Beberapa versi ilustrasi kartun yang mendiskreditkan Sang Pembawa Risalah Islam ini pun beberapa kali beredar bebas di dunia maya. Tujuannya beragam, mulai dari motif pencitraan politik, ekonomi, fundamentalisme dan ekstrimisme agama, hingga urusan perebutan wilayah kekuasaan.

Kebebasan berekspresi kerap kali menjadi dalih pembenaran bagi tindakan pelecehan tak beradab sepeti ini. Padahal, bagaimanapun tindakan melecehkan ajaran dan tokoh agama lain tak bisa diterima sebagai bagian dari kebebasan berekspresi. Hal ini dikarenakan telah jauh menerabas nilai-nilai toleransi dan kerukunan antar umat beragama yang sangat rawan menimbulkan kekacauan dan konflik kekerasan.

Amerika Serikat sebagai simbol negara ultraliberal memang menjadi langganan objek sasaran kemarahan massa seperti ini. Selain memang negeri Paman Sam ini memiliki rekam jejak hubungan yang tidak harmonis dengan mayoritas umat Islam, terutama kawasan Timur Tengah. Hal ini turut diperuncing oleh posisi negara pimpinan Obama ini sebagai sekutu utama Israel serta kepentingan domestiknya untuk menguasai ladang-ladang minyak di kawasan tersebut.

Namun demikian di lain pihak tak bisa dipungkiri bahwa saat ini, pertumbuhan umat muslim Amerika cukup positif. Harian Republika Online (Kamis, 3 Mei 2012) memberitakan bahwa setidaknya jumlah pemeluk Islam di Amerika Serika naik menjadi 2,6 juta jiwa, atau bertambah sekitar dua kali lipat lebih satu juta jiwa dibandingkan tahun 2000 silam. Kenaikan ini terutama sekali justru terjadi paska tragedi 9-11 yang merobohkan menara kembar WTC.

Rasa penasaran dan keingintahuan warga Amerika Serikat terhadap Islam membawa dampak yang positif terhadap penyebaran Islam di negeri tersebut, meski dalam beberapa hal umat muslim juga mengalami diskriminasi akibat sikap paranoid berlebihan pemerintah Amerika terhadapancaman terorisme di sisi lain.

Selain di Amerika Serikat, Islam diam-diam juga mengalami perkembangan pesat jumlah pemeluknya di belahan benua Eropa. Hasil kajian Pew Research Center, sebuah lembaga penelitian di Amerika Serikat, di tahun 2009 menyatakan bahwa Benua Eropa memiliki sedikitnya 36 juta atau sekitar 5 persen dari total jumlah penduduknya menganut Islam. Rusia tercatat sebagai negara dengan jumlah umat muslim terbesar di benua biru tersebut dengan lebih dari 16 juta penduduknya beragama Islam.

Beberapa catatan statistik tersebut di atas menjadi angin segar bila kita mau sedikit terbuka melihat keadaan. Bukan serta merta meluapkan amarah di depan kedutaan negara adidaya tersebut, sebagaimana yang makin marak terjadi belakangan. Termasuk juga aksi yang dilakukan FPI dan FUI di Jakarta beberapa waktu lalu.

Padahal sebagai pemeluk Islam (Islam juga berarti kedamaian) sudah seharusnya kita menjaga kondusifitas dan kedamaian dalam negeri untuk tidak terpancing dalam tindak kekerasan yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain. Bagaimanapun menjaga kedamaian lebih diutamakan dalam Islam ketimbang jihad dalam peperangan.

Bahkan, dikisahkan bahwa Nabi sendiri justru bersusah payah menjenguk tetangga Yahudinya yang terbaring sakit, meski ketika sehat selalu memusuhi dan juga melempari beliau dengan kotoran najis. Seharusnya akhlak seperti inilah yang wajib diteladani oleh umat Islam, umat yang dijanjikan Tuhan sebagai pembawa kedamaian (rahmat) bagi semesta raya .

Padahal, justru akan lebih berdampak positif dan konstruktif bilamana setiap terjadi momen seperti ini dijadikan sebagai bahan evaluasi serius untuk mempersatukan umat muslim secara keseluruhan. Bukan malah dibalas dengan amarah dan kekerasan buta yang justru bisa merusak kesucian Islam yang sedang berkembang pesat ini. Hal ini penting agar Islam tidak selalu dipandang secara parsial dengan sebelah mata.

Tak bisa dipungkiri bahwa belakangan Islam menjadi pusat perhatian dan sorotan mata masyarakat dunia. Ibaratnya seperti ”seorang gadis ayu”, Islam selalu saja diganggu namun sekaligus juga di rindu.