Hampir selama hidup umur manusia selalu diisi dengan aneka macam pertanyaan. Entah itu tukang sate, selebriti papan atas, politisi senayan hingga juragan kerupuk sekalipun demikian. Tapi apakah setiap pertanyaan liar yang terlintas dalam benak akan perolehan jawaban pastinya? Tak ada yang bisa memberi garansi.

Kehidupan adalah misteri. Begitu kata pepatah galau. Ada yang bilang bahwa hidup adalah anugerah. Golongan ini memang terkesan lebih optimis, meskipun seringkali ingin bunuh diri saat dunia ternyata tak memberikan apa yang diperjuangkan. Sedikit timbul perbedaan, pedang diacung-acungkan.

Pertanyaan yang paling sering diajukan barangkali adalah tentang Tuhan. Tentang asal-muasal kehidupan. Tentang sistem dan aturan main dalam kehidupan. Lalu kemudian tentang apa yang akan berlaku paska kehidupan.  Bila selama kehidupan anda tak pernah bertanya sesekali tentang pertanyaan hidup dasar tersebut, mungkin perlu anda perlu mempertanyakan kewarasan diri anda. Atau, mungkin anda adalah kalangan yang seluruh waktunya habis untuk memikirkan tentang kesenangan uang dan ranjang?

Banyak jawaban yang diantaranya dikemukakan oleh para teolog, filosof, fisikawan, ahli biologi hingga dukun-dukun kampung tersebar bebas di seluruh pelosok jagat. Masing-masing memiliki landasan tolak atau epistemologinya masing.  Entah itu materialis, realis, positifis, iluminatifis, ataupun nihilis.

Semua penganutnya merasa masing-masing jawaban adalah benar. Mungkin memang harus demikian. Karena bila tidak yakin, toh kenapa meraka harus menjadi penganut. Mereka anut tentu karena mereka yakini kebenarannya.

Bila sudah demikian lalu kapan jawaban hakikinya bisa ditemukan? Adakah dialog yang mungkin menjembatani jalan buntu seperti ini? Seringkali forum dialog hanya jadi ajang debat kusir dan saling sindir (hujat-menghujat) antar satu isme dengan isme berikutnya.

Seringkali jawaban akhir dipaksakan  masing-masing pihak tanpa sedikitpun memperoleh kemajuan terhadap jawaban pertanyaan yang diajukan. Dogma tetap menjadi dogma, bahkan semakin karatan. Bisa jadi karena manusia kerap kali memasang kaca mata kuda terlalu dini.  Atau terlalu tinggi untuk mengakui kekeliruan sendiri. Karenanya tak ada progres, tak ada pencapaian. Lalu kemudian saling menyesatkan, saling mengafirkan. Naudzubillah..