Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali “menggebrak” publik. Setelah menetapkan dan menahan jendral polisi bintang dua aktif, Djoko Susilo, kini KPK menyematkan status tersangka kepada seorang menteri aktif.

Penetapan status tersangka terhadap Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Andi Malarangeng, dalam kasus mega proyek di dalam kementriannya tersebut diumumkan sore ini (Kamis, 06 Desember 2012). Tak pelak keputusan ini mengejutkan publik.

Pasalnya beberapa waktu belakangan KPK sendiri seolah sedang direpotkan “ulah” Polri yang akan menarik penyidiknya di KPK sebagai buntut kasus simulator SIM yang menyeret beberapa petinggi di institusi penegak hukum tersebut.

Penetapan Menpora aktif, Andi Malarangeng, sebagai tersangka dalam kasus hambalang sebenarnya sudah ditunggu-tunggu oleh banyak pengamat. Hal ini dikarenakan telah dijebloskannya Wafid Muharram, mantan Sekretaris Kementrian Pemuda dan Olahraga. Secara logika tentu hal ini pun jelas mengarah bakal mengarah ke pucuk pimpinan lembaga. Ibaratnya seperti memakan “bubur panas”, memutar dari pinggiran dulu terus menuju ke pusatnya.

Pertanyannya kemudian apakah “bola liar” kasus hambalang ini juga akan “menyasar” menuju Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum, sebagaimana sering ditudingkan oleh mantan bendahara umumnya, M. Nazaruddin di berbagai kesempatan? Setelah sebelumnya juga menyeret Anggelina Sondakh sebagai tahanan KPK.

Ini tentu saja merupakan prestasi besar bagi KPK periode kali ini. Seolah menjawab keraguan berbagai pihak, KPK di bawah komando Abraham Samad terbukti “garang” dan “bertaring”. Terlebih bahwa hasil tangkapan yang dikumpulkannya bukanlah sekedar “ikan-ikan teri”. Namun sudah semakin mauk mengusik kemapanan lingkaran dalam kekuasaan istana. Tak tanggung-tanggung sebagaimana diketahui bahwa Andi Malarangeng merupakan salah satu “orang dekat” Presiden SBY.

Kondisi ini tentu memberi pukulan telak bagi Partai Demokrat menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) 2014 kelak. Hantaman bertubi-tubi terhadap para kader partai pemenang Pemilu 2009 ini menjadi badai ujian yang tak jelas kapan reda hingga sekarang.

Bahkan justru terkesan membesar dan memberikan daya rusak yang luar biasa terhadap citra dan kehormatan partai belambang bintang mercy ini. Padahal sebagaimana sudah banyak diulas oleh banyak pakar bahwa partai ini bukanlah partai yang memiliki basis massa yang mengakar.

Sehingga sangat berpotensi menguras mayoritas suara dan dukungannya yang sebagian besar adalah pemilih mengambang (swing voters). Bila benar demikian maka nasib dan masa depan partai ini ke depan bakal mengkhawatirkan.

Terlepas dari perkembangan politik yang bakal terjadi, prestasi KPK saat ini harus diakui gemilang. Meski belum mampu -dan mustahil mampu-  memenjarakan semua koruptor di tanah air, tetapi dengan kemajuan hingga hari ini KPK di bawah pimpinan Abraham Samad telah membuktikan komitmennya terhadap pemberantasan korupsi di negeri ini bukan sekedar tajam ke bawah.

Namun demikian, harus tetap diingat bahwa  KPK, hingga detik, ini masih “berhutang” penuntasan kasus bailout Bank Century kepada publik.  Dan semoga tak lama lagi KPK juga akan kembali mengejutkan bangsa ini berkenaan dengan kasus megaskandal ini. Semoga….