Pepatah populer menyatakan bahwa kebenaran/kebaikan pasti akan menang. Sementara catatan sejarah menunjukkan sebaliknya. Bahwa yang kalah pastilah cenderung menjadi  penjahatnya.

Sekilas kedua pernyataan tersebut memiliki arti serupa. Namun sesungguhnya sangatlah tidak sama. Pada premis pertama menunjukkan bahwa kebenaran/kebaikan pasti akan mengalahkan kejahatan. Sementara pada premis selanjutnya ingin menunjukkan bahwa baik-buruk/benar-salah seringkali dikonstruksi oleh para pemenang. Sehingga munculah pameo yang menyatakan bahwa sejarah adalah catatan para pemenang.

Begitulah sejarah peradaban bangsa-bangsa ditulis. Sebagai contoh misalnya, hampir setiap orang paskaperang dunia kedua memandang Hitler sebagai penjahat perang. Hal ini bisa jadi lebih disebabkan oleh kenyataan bahwa Hitler kalah dalam perang. Coba bayangkan, misalnya, bahwa Hitlerlah  yang menang saat itu. Bisa jadi Ia saat ini akan dipuja sebagai pemersatu Bangsa Eropa atau malahan “nabinya” orang-orang jerman.

Contoh lain misalnya, apa jadinya bila Aidit dkk benar-benar berhasil menggulingkan kekuasaan pada tahun 1955 -bila benar Partai Komunis Indonesia (PKI)  pada saat itu sedang merencanakan makar. Mungkinkah ia akan dipuja seperti Kim Il Sung di Korea Utara atau Mao Ze Dong di China modern sekalipun?

Atau tragedi yang sedang terjadi di Suriah saat ini. Nasib Presiden Suriah, Bashar Al-Assad sangat ditentukan oleh hasil perkembangan final perang saudara yang telah memakan banyak korban tersebut.  Bila pasukan “oposisi” berhasil menggulingkannya maka nasibnya tak lain bakal bisa jadi seperti Saddam Hussein di Iraq atau Moammar Ghadafi di Libya yang selanjutnya lebih dikenal sebagai seorang diktator dan korup.

Hal ini tentu bisa berbalik seratus delapan puluh derajat dari perspektif kita saat ini bila yang terjadi adalah sebaliknya. Apabila pihak oposisi yang berhasil dipadamkan, maka merekalah yang akan disebut sebagai pemberontak. Dan namanya akan dikenang sebagai cemoohan dan contoh paling buruk warga negara. Sementara para pemimpin mereka akan terus dipuja sebagai penjamin keamanan nasional dan kesejahteraan.

Pun demikian hal ini tidak selamanya berlaku penuh/mutlak. Isa AS pun meninggal bukan dalam sebuah kemenangan dalam artian harfiah. Toh, hingga kini namanya tetap abadi sebagai seorang pembela kebenaran. Demikian pula dengan Imam Ali beserta kedua anak tercintanya, Hasan dan Husein.

Lalu pertanyaannya  kemudian adalah bagaimana seandainya bila Nabi Besar Muhammad SAW dahulu gagal dalam menaklukkan Kota Mekkah atau terbunuh dalam sebuah  peperangan melawan orang-orang Qurays? Sekalipun hal ini “mungkin” adalah suatu hal yang mustahil. Wallahualam…..