Meski Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur  Jateng 2013 hanya menyisakan  waktu sekitar 4 bulan tetapi hingga hari ini teka-teki pasangan kandidat yang akan bersaing masih samar. Meski beberapa figur sudah nampang di berbagai spanduk dan baliho di sudut-sudut kota, toh belum ada satu pun partai politik (parpol) yang mendeklarasikan ” jagoannya”.

Agaknya hal ini sangat dipengaruhi oleh belum digelontorkannya rekomendasi dari DPP PDI-Perjuangan terkait pasangan kandidat gubernur dan wakil gubernur Jateng. PDI-Perjuangan, sebagai partai pemenang Pemilu 2009 di wilayah Jawa Tengah, memang menjadi faktor dominan dalam kontestasi pilgub kali ini. Selain sebagai partai yang mampu mengusung kandidat sendiri, sejauh ini pasangan petahana (incumbent)  adalah masih merupakan “bagian” dari partai berlambang banteng dengan moncong putih ini. Sekalipun terdapat keregangan terutama terhadap figur Bibit Waluyo yang dianggap sebagai “kacang lupa kulit”.

Sebagai “pemilik” petahana saat ini PDI-Perjuangan masih terlihat sedikit bimbang dalam menentukan calon yang bakal diusungnya. Hal ini wajar melihat Pilgub Jateng 2013 merupakan ajang pemanasan sekaligus barometer bagi performa mesin politiknya jelang 2014 mendatang. PDI-Perjuangan pun tentu tak lagi rela bila kelak kembali “dibuang sehabis manisnya”. Selain itu perubahan paradigma PDI-Perjuangan belakangan ini dalam mengusung figur dalam pemilukada  menjadikan partai pimpinan Megawati Soekarnoputri ini semakin terlihat matang dan berhati-hati dalam menentukan kandidat. Hal ini semakin mengemuka sejak kemenangan pasangan Jokowi-Basuki di Pilgub DKI tahun lalu.

Sementara itu bagi para kandidat sendiri, menyadari bahwa PDI-Perjuangan masih merupakan “primadona” di Jawa Tengah. Jejaring dan mesin politik yang dimilikinya belum menemui tandingan yang berarti. Karenanya “tiket”  dari si Moncong Putih ini begitu diperebutkan. Sementara parpol lain terkesan menunggu “limpahan penumpang” saja. Bahkan baru-baru ini di berbagai koran lokal menyebut bahwa Rustriningsih (Wakil Gubernur Jateng) dan Don Murdono (Bupati Sumedang) mulai gencar melirik partai Gerindra. Ini di karenakan peluang keduanya semakin pupus untuk menggondol “tiket” dari PDI-Perjuangan.

Pertanyaannya kemudian adalah bila kader sekaliber Rustriningsih pun tidak berhasil membawa pulang “tiket emas” tersebut lalu siapa gerangan yang akan dimajukan oleh PDI-Perjuangan? Sementara Bibit Waluyo sejauh ini masih terus mendapat penolakan dari banyak kader internal PDI-Perjuangan sendiri. Bila bukan kedua petahana tersebut, pembacaan penulis mengarah pada kandidat dari anggota DPR RI yakni Ganjar Pranowo. Peluang besar sebenarnya bisa saja diperoleh Sekjen DPP PDI-Perjuangan Tjahyo Kumolo. Namun demikian hingga detik ini ini tidak nampak pergerakan dari kader senior tersebut.

Melihat kecenderungan rekomendasi yang diberikan DPP PDI-Perjuangan belakangan ini, sebagaimana dalam Pilgub DKI dan Jabar, jatuh pada figur muda, segar, progresif dan visioner ketimbang yang hanya mengandalkan popularitas dan bekal logistik melimpah. Jokowi di DKI dan Rieke “Oneng” Dyah Pitaloka di Jabar merupakan bukti menguatnya kecenderungan tersebut. Terlebih melihat penerimaan positif dari para pemilih atas pergeseran paradigma tersebut.

Lebih jauh sangat mungkin bila nantinya Ganjar akan diduetkan dengan milyarder muda yang saat ini menjabat sebagai Walikota Tegal, Ikmal Jaya. Sebagai penerus dari keluarga pemilik PO. Dewi Sri, Ikmal Jaya memiliki basis kuat di wilayah Tegal dan sekitarnya yang juga telah “dikooptasi” oleh keluarga besarnya. Modal sosial dan ekonomi kedua kandidat ini pun lebih dari cukup untuk membungkam popularitas kedua petahana yang berkuasa hari ini.

Bila benar kedua pasangan tersebut yang akan dimajukan oleh PDI-Perjuangan nantinya, kandidat yang berpotensi mengikuti kompetisi Pilgub Jateng 2013 secara ketat nantinya berkisar 3-4 pasang calon kandidat. Dimana Ganjar Pranowo, Bibit Waluyo dan Rustriningsih dapat beradu secara ketat. Wallahualam………….