Melihat perkembangan politik dewasa ini cukup memprihatinkan -sekaligus  memuakkan. Terutama terkait dengan permasalahan “dapur” di rumah tangga partai belambang bintang mercy, Partai Demokrat.

“Pengucilan” terhadap Anas Urbaningrum dari keluarga besar partai yang telah mengantarkan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)  sebagai presiden terpilih secara langsung selama dua kali periode pemilu ini terkesan demikian dramatis di satu sisi dan penuh intrik di sisi yang lain. Bagaikan dua sisi mata uang yang jatuh menggelinding kemudian berhenti secara perlahan tanpa terjatuh di salah satu sisi dominan.

Dalam kondisi demikian maka kebenaran sejati dan konspirasi yang tersusun rapi seolah hanya berbeda sekian inchi. Tergantung dari sisi dan perspektif mana kita berdiri.

Bermula dari kasus hambalang yang menyeret nama mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, Muhammad Nazaruddin kemudian menggelinding layaknya bola salju yang terus menerus membesar hingga menghantam nama-nama petinggi partai pemenang Pemilu 2009 ini, diantaranya Angelina Sondakh serta trio Malarangeng bersaudara -Andi Mallarangeng, Rizal Mallarangeng dan Choel Mallarangeng.

Bermula dari pelarian Nazaruddin ke luar negeri dan  “tembang sumbangnya” melalui jejaring sosial bergambar, Skype, yang menyebut keterlibatan Anas Urbaningrum dalam kasus tersebut, hingga kini kebenarannya masih samar. Sekalipun telah dipanggil sebagai saksi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), statusnya hingga kini tak juga dinaik-kelaskan menjadi tersangka.

Bahkan dengan beredarnya surat perintah penyidikan (sprindik) KPK,  status mantan Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) tak kunjung terang. Namun demikian penghakiman opini melalui media massa seolah terus menerus “menggebuki” politisi muda yang juga mantan anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) angkatan pertama ini.  Meski demikian Anas memilih tetap tenang dan tak terlalu gegabah dengan menerapkan “strategi bertahan”.

Rilis hasil survey yang dilakukan Saiful Mujani Research and Consultant (SMRC) seolah menjadi babak baru kisruh di tubuh partai yang seolah merupakan “sister group” dari Partai Demokrat yang ada di Negeri Paman Sam, Amerika Serikat, ini. Terdegadrasinya elektabilitas partai yang dipimpinnya ini -berdasar hasil survey tersebut, semakin mengguncang kursi kekuasaan yang diduduki Anas setelah mengalahkan Marzukie Ali dan Andi Mallarangeng ini. Berdasar hasil survey tersebut perolehan suara Partai Demokrat anjlok hingga hanya memperoleh sekitar 8,3 persen suara saja yang merupakan “prestasi” terendah sejak Pemilu 2009 silam.

Drama semakin seru saat Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat, yang adalah Persiden SBY, menjalankan Umroh di Tanah Suci, Mekkah. Berdasar “visi suci” yang -diklaim- diperolehnya setelah menjalankan ibadah suci tersebut, SBY mengumpulkan jajaran Majelis Tinggi -tanpa melibatkan Anas yang merupakan Wakil Ketua Majelis Tinggi- dan selanjutnya “mengambil” alih wewenang ketua umum serta merumuskan pakta integritas yang diam-diam untuk mendelegitimasi dan “membusukkan” posisi Anas. Sebuah revolusi sunyi (silent revolution), meminjam istilah yang dikenalkan Anas sendiri untuk menggambarkan kejayaan partainya dalam pemilu 2009, yang dikemas secara rapi serta “suci”. Pengemasan politik pencitraan seperti ini merupakan salah satu bakat menonjol yang dimiliki jenderal  jebolan AKABRI ini.

“Kudeta Suci” yang dipertontonkan SBY seolah tepat waktu dengan didahului beredarnya isu penetapan status tersangka untuk Anas oleh KPK beberapa waktu sebelumnya. Meski sempat “dibenarkan” oleh ketua KPK, Abraham Samad, toh hingga detik ini belum juga terbukti keterlibatan Anas dalam kasus Hambalang.

Dalam posisinya saat ini, SBY sekali lagi memposisikan diri sebagai “juru penyelamat” yang memperoleh “tugas suci” untuk mengangkat derajat “kaumnya” dari keterpurukan. Sekaligus “memurnikannya” dari para “kafir koruptor”, yang notabene merujuk adalah Anas beserta loyalisnya. Sekalipun KPK belum menaikkan status Anas Urbaningrum sebagai tersangka, namun “kudeta suci” ini telah mendahului “ketok palu” dan “menempeli label” pesakitan bagi Anas secara tidak langsung. Terlebih dengan keluarnya pernyataan SBY yang  “mengintruksikan” agar Anas lebih fokus menghadapi masalah hukum yang membelitnya.

Kejutan-kejutan dalam prahara politik yang melakonkan figur Anas dan SBY ke depan dapat dipastikan akan semakin sengit. Pertarungan panjang dan melelahkan masih sangat berpotensi tersaji sekalipun kekuatan Anas kian hari kian terkebiri. Terlebih dengan berakhirnya kesempatan SBY untuk maju kembali sebagai calon presiden  pada 2014 mendatang masihkah memiliki kharisma positif bagi kelanggengan kekuasaan Partai Demokrat? Atau justru akan meluluh-lantakan citra SBY di detik-detik akhir masa jabatannya kali ini?  Sebuah pertarungan yang akan sarat dengan pertaruhan (red: perjudian). Wallahualam…..