Rekayasa sistem pemilu, melalui sistem terbuka dengan suara terbanyak, memang dinilai berpotensi meminimalisir praktek “memilih kucing di dalam karung”. Hal ini menjadi angin segar bagi kita, masyarakat pemilih, untuk memegang kembali daulat politik secara penuh. Namun sangat disayangkan, bahwa ternyata diam-diam hajat demokrasi kita cenderung condong menjadi arena “pasar kucing”. Dimana saat kita memiliki kebebasan untuk memilih “kucing yang beraneka ragam belang dan bulunya”, ternyata mayoritas mereka tidak bisa menangkap “tikus”.

Pesta demokrasi 2014 kelak memang hanya akan diikuti oleh 12 partai politik nasional saja. Dari jumlah tersebut terhitung hanya satu yang merupakan partai politik baru, yaitu Partai Nasdem. Sementara sembilan lainnya (P. Demokrat, P. Golkar, PDI-P, PKS, PAN, PPP, PKB, P. Gerindra dan P. Hanura) merupakan partai parlemen dan sisanya adalah partai ekstraparlemen (PBB dan PKPI).

Dari kedua belas parpol tersebut sejauh ini tercatat hanya PKS, PBB dan PKPI yang tidak mengikutsertakan selebritis sebagai bakal calon legislatifnya (bacaleg). Dibanding hajat politik periode sebelumnya, keikutsertaan selebritis memang memiliki “trend positif” yang terus meningkat. Sedikitnya pada Pemilu 2014 nanti akan turut “dihibur” oleh sebanyak 44 pesohor dari berbagai kalangan. Entah memang karena semakin banyak selebritis non job, atau justru para aktifis parpol yang makin kehilangan kepercayaan dirinya.

Mengomentari kentalnya fenomena tersebut budayawan Arswendo Atmowiloto berceletuk bahwa para selebritis yang terjun di dunia politik sekarang ini adalah para selebritis yang pas-pasan. “Pas tidak ada job, dan kebetulan pas dapat tawaran”.

Secara pribadi, penulis menilai bahwa maraknya selebritis yang ditarik sebagai bacaleg semakin menambah panjang daftar langkah “akrobatik” para pegiat partai politik. Pasalnya, rekrutmen selebritis ke dalam sebuah partai politik tertentu tidak melalui penjaringan atau fit and proper test yang sistematik, jelas dan terukur.

Hal ini sekali lagi seolah mengingatkan kita pada pasar kucing yang hanya menawarkan keanekaragaman corak warna dan jenis bulunya saja. Bukan menjual ketangkasannya dalam menangkap “tikus” (baca: menyelesaikan permasalahan sosial). Padahal seharusnya dalam umur demokrasi langsung yang semakin beranjak matang ini menjadikan para pegiat partai politik untuk pandai menghitung kebutuhan riil masyarakat agar tak ditinggal konstituennya. Terlebih dalam kelesuan dan keapatisan masyarakat yang kian bosan melihat dan mendengar wakil-wakilnya bergiliran satu-persatu menjadi pesakitan KPK.

Tak bisa dibantah bahwa selebritis juga memiliki hak sama sebagai warga negara untuk memilih dan dipilih dalam hajat demokrasi. Beberapa selebritis yang sudah duduk di kursi parlemen terlebih dulu pun tak bisa dipungkiri kontribusi positifnya dalam parlemen. Namun, bila meningkatnya populasi selebritis dalam daftar bacaleg tersebut tidak melalui sistem seleksi yang obyektif dan layak tentu hal ini akan membawa dampak negatif yang tidak sedikit, baik secara material maupun immaterial, bagi masyarakat banyak.

Fenomena ini secara terang benderang juga memperlihatkan betapa anolaminya perilaku pegiat partai politik dewasa ini. Dengan semakin sedikitnya jumlah partai politik peserta pemilu ke depan, seharusnya diikuti dengan peningkatan kualitas insan politik yang akan dilibatkan di dalamnya. Setidaknya kesempatan bagi para kader potensial untuk muncul kepermukaan menjadi lebih konkret, bukan malah menarik mereka-mereka yang ahistoris secara politik.

Selain itu, fenomena ini juga semakin mengisyaratkan betapa kian pragmatisnya partai politik di negeri ini. Ideologi politik semakin pudar, digantikan dengan pendekatan ideologistik. Dimana gagasan dan nilai-nilai kebaikan tak lagi memiliki tempat dalam panggung politik. Digusur oleh orientasi sempit yang hanya mementingkan sejumlah materi dan tingkat popularitas sebagai “pompa instan mesin politik”. Padahal sejatinya politik adalah pergulatan ide dan gagasan, bukan sekedar ajang pemilihan idola.

Puncak demokrasi elektoral memang masih setahun mendatang, tapi entah mengapa “awan gelapnya” sudah mulai terlihat tebal. Semoga tidak demikian suram. Wallahu’alam…..

Nb: Awas kucing garong!!!!