Baru-baru ini lembaga Transparancy International Indonesia (TII) merilis hasil survey yang, sesungguhnya tak terlalu, mengejutkan. Survey bertajuk Global Corruption Barometer (GCB) 2013 tersebut menempatkan institusi DPR dan Kepolisian (POLRI) sebagai lembaga terkorup di tanah air.

Bagi masyarakat sendiri, hal ini sebenarnya tidak terlalu mengejutkan. Pasalnya kedua lembaga ini memang sudah memiliki citra buruk di mata masyarakat beberapa tahun belakangan. Tak hanya dalam mega kasus yang diungkap oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) semata yang belakangan selalu mengisi keriuhan media massa tetapi masyarakat seolah merasakan dan melihat langsung perilaku “nakal” kedua lembaga negara tersebut dalam keseharian.

Tak perlu diperpanjang-lebar bagaimana kedua lembaga tersebut melakukan berbagai kecurangan. Hampir setiap masyarakat semua sama-sama melek soal rekam jejak para aparat dan pejabat di sana. Sekalipun hari ini dipoles dengan citra dan cara apapun serta bagaimanapun, wajah bopeng kedua lembaga ini memang sulit untuk ditutupi.

Ironisnya, sekalipun masyarakat tahu bahwa kedua lembaga tersebut adalah lembaga paling korup dan memiliki potensi korup besar, oleh sebab kewenangan yang besar, rupanya hal ini tidak menjadi alasan bagi masyarakat untuk mengurungkan niat menjadi bagian di dalamnya. Tengok saja bahwa setiap rekrutmen kedua lembaga tersebut selalu dipenuhi para peminat. Bahkan tak jarang menghabiskan dana yang tidak sedikit untuk “melicinkan” keinginan.

Hal ini tentu menarik dan menimbulkan tanya dalam benak. Apakah masyarakat kita ini memang cenderung kepada sesuatu yang korup atau setidaknya berpotensi korup? Sedemikian menggiurkankah bagi masyarakat kita untuk menjadi bagian dari sistem yang korup seperti itu? Atau sebegitu beratkah hidup di negeri ini hingga kita perlu berlomba untuk menjadi bagian dari hal-hal kotor sekalipun?

Mungkin benar kekuasaan selalu menjadi primadona dimanapun. Keseksiannya selalu mampu menghipnotis mereka yang memandang dan menjadikannya bertekuk lutut. Keharumannya mengundang gairah hidung belang di sekitarnya. Dan layanannya membuat siapa saja yang pernah duduk tak mau beralih. Begitukah?

Rasanya kita perlu mengambil momen Bulan Ramadhan ini untuk kembali sejenak memikirkan tentang konsep hidup yang bakal kita jalani. Untuk menjawab pelbagai hal mendasar tentang bagaimana seharusnya kita menjalani hidup. Tentang nilai-nilai kehidupan yang pantas atau tidak untuk kita perjuangkan. Baik secara individual ataupun kehidupan sosial kita.

Atau mungkin zaman memang sudah edan. Dimana yang tidak “ngedan” tidak akan mendapat bagian, sebagaimana ujar pujangga Jawa terkenal, Rangga Warsita. Wallahualam…