Perkembangan teknologi dan informasi yang relatif cepat rupanya banyak berakibat menimbulkan kelatahan baru di masyarakat. Paling parah adalah munculnya generasi narsistik yang semakin kental sejak maraknya fenomena sosial media. sekalipun banyak menjangkit generasi yang lebih muda, rupanya sikap narsis ini juga telah mulai menginfeksi generasi yang sedikit lebih tua, bahkan para tokoh bangsa.

Istilah narsis sendiri berakar dari tokoh mitologi yunani kuno yang bernama Narcissus. Alkisah Narcissus merupakan seorang pemuda tampan yang jatuh cinta pada dirinya sendiri. Narcissus memuja diri sendiri setiap kali melihat refleksi dirinya di atas permukaan air. Namun, singkat cerita, kisah hidupnya berakhir tragis karena berujung pada sebilah belati yang ditusukkannya pada tubuh sendiri. Aksi bunuh diri tersebut dilakukannya akibat rasa kecewa yang timbul karena dirinya tak mampu memenuhi hasrat dan keinginannya sendiri.

Mitologi tersebut kini telah menjelma menjadi realitas kebanyakan kita. Betapa seringkali kita merasa bangga secara berlebih pada diri sendiri. Padahal apa yang kita miliki, kita capai dan kita telah lakukan belum tentu sebesar apa yang kita persepsikan.

Tengok saja misalnya, di laman-laman media sosial yang penuh sesak akan foto-foto serta informasi bernada narsis pemilik akunnya. Di ruang terbuka, baliho calon-calon anggota legislatif (caleg) bertebaran menjejali kemana saja mata melihat. Di layar kaca, mulut para pengamat berbusa-busa mengomentari suatu fenomena, yang tujuan sebenarnya adalah agar kembali diundang pada kesempatan selanjutnya. Di mimbar-mimbar, para pendakwah mengkafir-kafirkan yang liyan, merasa diri paling suci. Di ruang politik, para punggawa mendeklarasikan diri, beriklan di tv atau juga turut serta dalam konvensi, siapa tahu ada rejeki jadi orang nomor satu negeri ini. Tak peduli kapasitas atau latar belakang yang mereka miliki.

Semua berbangga diri. Merasa paling berarti. Menilai prestasi paling hebat sendiri. Memaksakan ego/keyakinan sendiri. Hilang sudah kerendahan hati. Orang lain dipandang sebagai pelengkap “dekorasi”. Betapa kita sudah terjangkit patologi?

Berkaca pada kisah tragis Narcissus, tentu kita tak ingin berakhir serupa. Menyadari “penyakit” lebih dini tentu akan lebih mudah untuk merestorasi diri. Sebelum semuanya bertambah semakin parah, mari kita menepi dari kepalsuan ini. Menjalani realita secara lebih bermakna. Berbuat lebih banyak sekecil apapun. Tanpa harus berlebih dalam berbangga diri. Wallahualam…