Bagi seorang muslim, menjaga kesucian merupakan keharusan yang tak boleh dikesampingkan. Tak sekedar jiwa dan raga yang mesti suci, Islam menekankan pula pentingnya kesucian harta.

Islam bukanlah agama yang anti terhadap hak atas kepemilikan pribadi. Bahkan Islam mengakui dan menjamin hak tersebut secara penuh dan ketat. Perampasan terhadapnya, merupakan aksi kriminalitas yang mesti dikenai sanksi berat guna menimbulkan efek jera. Tradisi potong tangan bahkan tetap “dipertahankan” dalam Syariat Islam bagi yang melakukannya. Sekalipun tidak banyak negara berpenduduk muslim yang mengimplementasikan hukuman ini secara rigid sekarang ini, tetapi hal ini merepresentasikan betapa Islam sangat menjunjung tinggi pengakuan hak atas kepemilikan pribadi ini.

Sekalipun demikian tidak berarti bahwa Islam merupakan agama yang secara apriori cenderung melegitimasi dan melindungi kepentingan kaum berada sebagaimana dituduhkan sementara kaum marxis. Justru hal ini menunjukkan bahwa Islam konsisten menjadi jalan tengah dalam membangun keseimbangan kehidupan sesuai dengan sunnatullah dan fitrah manusia.

Jauh berbeda dengan kapitalisme liberal yang membabi buta dalam usaha melipatgandakan harta, Islam memberikan rambu-rambu yang jelas dan tegas terkait pendistribusian dan pengelolaan hak atas kepemilikan. Agama samawi terakhir ini menekankan betapa pentingnya kekayaan yang dikumpulkan dan dipergunakan harus secara halal dan bijak (halalan thoyyiban).

Islam dikenal sangat keras mengecam perbuatan mengumpulkan harta secara culas. Perilaku seperti mengurangi takaran dalam timbangan, merampas harta janda dan anak yatim, menimbun harta kekayaan, korupsi, judi, pemborosan, kikir dan riba berulang kali dicemooh dalam Al Quran sebagai tindakan yang keji dan pelakunya diancam dengan api (baca: neraka) yang menyala-nyala (QS 83: 36). Hal ini tidak lain adalah untuk menjaga agar kekayaan yang ada di bumi tidak hanya dinikmati oleh segelintir golongan saja (QS 59: 7). Tetapi dapat digunakan sebaik-baiknya untuk kemakmuran bersama. Sehingga tidak berpotensi menimbulkan mudhorot dan bencana sosial dikemudian hari.

Kesucian Harta

Namun demikian, realitanya dewasa ini praktek pengakumulasian harta yang disimpan dalam lembaga keuangan modern menimbulkan kegamangan tersendiri dikalangan umat muslim. Terkait bagaimana seandainya harta yang telah diupayakan dengan peluh keringat dan penuh kehati-hatian ternyata bercampur dengan harta orang lain yang tidak jelas asal-usulnya serta praktek pengelolaan lembaga keuangan yang tidak selektif dan ditengarai sarat akan riba?

Al Quran memang telah menyebut bahwa zakat merupakan salah satu sarana untuk membersihkan dan menyucikan harta yang kita miliki (QS 9: 103). Melalui zakat yang dikeluarkan secara berkala, maka harta yang kita kuasai –yang telah diperoleh secara halal- akan mendapat jaminan kesucian dan keberkahan. Tetapi nampaknya hal ini tidak belum cukup melegakan melihat kondisi pengelolaan keuangan sebagaimana telah disinggung sebelumnya.

Alternatif yang muncul belakangan ini guna meminimalisir katakutan umat tersebut adalah dengan hadir dan berkembangnya sistem ekonomi syariah yang direpresentasikan melalui perbankan syariah. Bahkan hingga bulan Oktober 2013 lalu Bank Indonesia (BI) mencatat bahwa sedikitnya telah tumbuh sebanyak 2.526 kantor Bank Umum Syariah (BUS) dan 399 kantor Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) yang siap melayani masyarakat. Solusi yang mulai disambut positif oleh kalangan umat muslim di Indonesia pada khususnya.

Namun demikian, bila dilihat dari catatan BI minat terhadap perbankan syariah di Indonesia terhitung minim dibanding negara berpenduduk mayoritas muslim lain. Pada 2013 lalu misalnya, BI mencatat bahwa pertumbuhan aset perbankan syariah hanya sebesar 31,8%, mengalami perlambatan bila dibandingkan dengan tahun 2012 yang mencatatkan pertumbuhan sebesar 34,1%. Hal ini selain dikarenakan kondisi ekonomi global yang masih terombang-ambing, pemahaman masyarakat terhadap perbankan ini masih relatif rendah.

Secara sederhana, kelebihan sistem ekonomi syariah ini berada pada konsep akad bagi hasil (mudhorobah) yang disepakati sejak awal transaksi. Sehingga hal ini lebih memberikan jaminan kepastian, kesetaraan dan keadilan terhadap pihak-pihak berkepentingan -sebagaimana yang dicitakan Al Quran. Hal ini cukup kontras bila dibandingkan pola penyesuaian terhadap suku bunga yang diaplikasikan dalam sistem perbankan konvensional -oleh mayoritas ulama diyakini lebih dekat dengan riba.

Selain itu, perilaku perbankan syariah yang lebih selektif dalam menyalurkan pembiayaan memberikan jaminan bahwa modal yang dititipkan oleh nasabah tidak dipergunakan untuk membiayai produk atau jasa yang diharamkan oleh Islam. Oleh karena itu pula, perbankan syariah dipercaya lebih dapat memberikan jaminan rasa aman terhadap harta yang telah kita usahakan dengan cara halal dan baik. Wallahu ‘alam bi al showab.