Jelang Pemilihan Presiden 2014, praktek kampanye hitam kian pekat menyengat. Melalui sosial media arus utama, baik twitter ataupun facebook, penyebarluasan isu beraroma fitnah, rasis, hingga “dosa masa silam” kian berhamburan di muka umum.

Setuju atau tidak, panggung politik nasional menjadi semakin tidak sehat, bahkan lebih mirip panggung hiburan televisi yang kian sarkastik, dangkal dan bebal. Dinamika politik yang seharusnya jernih, bernas dan luhur pun justru disibukkan dengan hiruk-pikuk gosip murahan serta olok-olokan khas pelawak kemarin sore.

Parahnya lagi, media massa turut berasyik-masyuk menikmati permainan dalam pekatnya kubangan kotor kampanye hitam. Lamat-lamat praktek negatif seperti ini dapat menggerus kondusifitas kehidupan berbangsa kita. Bukan bermaksud menakut-nakuti, tapi bangsa ini masih menyimpan trauma yang cukup besar terhadap konflik berbau kekuasaan -baik horizontal maupun vertikal.

Cukup bisa disayangkan bila dalam segala kemajuan teknologi informasi bangsa saat ini, kehidupan politik negeri ini justru kian terjerembap dan terdegradasi nilai etika serta kualitas para pemainnya. Kita seolah dibuat lupa bahwa kedua kubu yang hari ini paling berseteru adalah pernah “mesra” dan bersatu di 2009 lalu.

Nampaknya kita sudah benar-benar memasuki gerbang amerikanisasi politik  dan segera terjebak dalam  labirin yang ada di dalamnya. Liberalisasi politik ala negeri Uncle Sam kian terasa meresap dalam struktur penyengga dinamika politik negeri ini. Dan tak lama lagi kita akan bersama-sama, tanpa sadar, mengucap sayonara pada tradisi musyawarah mufakat yang pernah dijunjung tinggi para leluhur. Nilai-nilai sosial-politik kita pun semakin bergeser ke barat.

Kembali pada kampanye hitam yang kian pekat menyengat, sudah saatnya untuk memberikan efek kejut terhadap para oknum pelaku dengan memberikan sanksi tegas. Perlu dihadirkan payung hukum yang jelas agar manuver semacam ini tidak bergerak semakin liar dan menimbulkan konflik yang kontraproduktif.

Elite politik perlu menyadari posisi strategisnya dalam menggiring opini publik menuju ke arah yang lebih membangun. Perdebatan publik perlu didorong untuk kembali pada “jalan yang benar”.  Perbincangan mengenai strategi, ide dan konsep pembangunan sosial-ekonomi-politik para calon presiden dan gerbongnya perlu untuk lebih diketengahkan.

Hal ini penting untuk menambah gizi masyarakat dalam menatap hari-H nanti. Agar pelaksanaan demokrasi di negeri ini kembali naik kelas, tak melulu berada di masa transisi. Dan mimpi kesejahteraan pun tak sekedar janji berbalas janji. Wallahu’alam bi al showab….