Realitas politik seringkali tak jauh berbeda dengan pertarungan di meja catur. Setiap langkah adalah bagian dari strategi besar baik untuk bertahan ataupun menekan lawan.

Terlebih dengan semakin menguatnya polarisasi kekuatan politik ke dalam dua kutub berseberangan, pertarungan politik menjadi semakin keras bahkan menjurus kasar. Strategi dan manuver politik bakal semakin dipertaruhkan dalam menentukan dominasi kekuasaan selama lima tahun ke depan.

Keberhasilan Koalisi Merah Putih (KMP) dalam menyapu bersih posisi kepemimpinan legislatif (DPR dan MPR) berpotensi menjadi ancaman nyata bagi roda kepemimpinan Jokowi-JK yang diusung oleh aliansi partai yang tergabung dalam Koalisi Indonesa Hebat (KIH). Bahkan secara mengejutkan Hasyim Djoyohadikusumo, petinggi Partai Gerindra sekaligus adik Prabowo Subianto, secara terbuka “mengancam” Jokowi bakal membayar mahal pencalonannya sebagai presiden beberapa waktu lalu.

Perseteruan yang ditunjukkan Hasyim kepada Jokowi sendiri bukanlah pertama kali saat ini. Sebelumnya Hasyim bahkan pernah menagih kembali dana pribadinya yang konon dipakai Jokowi selama kampanye sebagai Gubernur DKI pada 2012 lalu.Sekalipun hal ini telah dibantah oleh Jokowi dan timnya bahkan oleh Ahok -yang saat itu masih tercatat sebagai kader P. Gerindra. Manuver atas kekecewaan kubu Gerindra yang pertontonkan secara kasar oleh pernyataan-pernyataan kontroversial adik mantan menantu penguasa orde baru itu, bagi penulis, bukanlah ancaman sesungguhnya bagi kursi kepresidenan Jokowi kelak. Ada hal lain yang perlu lebih diperhatikan oleh mantan Walikota Solo itu.

Bahaya Laten

Berkaca pada pengalaman dan realitas politik yang telah terjadi, adalah kubu Partai Demokrat yang justru dapat menjadi batu sandungan bagi rezim Jokowi nanti. Sebagai pemenang dua kali pemilihan presiden secara langsung, SBY, harus diakui masih merupakan politisi yang memiliki kemampuam bermanuver paling matang diantara elit politik yang “bertikai” saat ini.

Aksi walk out fraksi demokrat yang disusul dengan terbitnya Perpu no 1 Tahun 2014 tentang pilkada beberapa waktu kemarin sejatinya adalah sebuah “kemenangan” tersendiri bagi partai bergambar bintang mercy ini. Selain berhasil menyelamatkan citra pribadinya di mata masyarakat yang sempat tercoreng oleh ulah seporadis para netizen melalui aksi #ShameOnYouSBY, sekalipun masih sementara perpu itu juga telah berhasil mengegolkan 10 agenda Partai Demokrat di sisi lain.

Dengan bekal pengalamannya sebagai jenderal taktis di dalam tubuh militer, SBY memiliki kemampuan manuver bergerilya yang dapat mendikte dan menciptakan permainannya sendiri alih-alih terbawa permainan lawan. SBY konon juga dikenal sebagai figur yang mampu “menggebuk” lawan-lawan politiknya tanpa harus “mengotori” tangannya sendiri selain pandai dalam memanfaatkan momen untuk membangun citra pribadinya.

Dalam kerangka itulah seharusnya Jokowi dan KIH harus lebih berhati-hati dan waspada. Keputusan Partai Demokrat yang konon menyerahkan jatah kursi ketua MPR untuk Zulkifli Hasan dari Partai Amanat Nasional (PAN) bisa menjadi langkah awal mengusil empuknya kursi kepresidenan.

Sebagaimana diketahui, PAN dibawah kepemimpinan Amien Rais pada waktu itu adalah partai politik yang memiliki pengalaman praktis dalam memakzulkan penguasa -baik melalui kekuatan parlemen ataupun kekuatan di luar parlemen.

Pelimpahan jatah kursi pimpinan MPR bisa jadi merupakan manuver awal bagi P. Demokrat dan SBY untuk “mencungkil” Jokowi dari kursi presiden kelak jika waktunya tiba tanpa harus mengotori tangan sendiri. Sebagaimana yang selama ini banyak ditudukan banyak pengamat bahwa akan kebiasaan “mentung nyilih tangan” atau politik “cuci tangan” yang melekat secara tak kasat mata.

Pembacaan demikian atas realitas politik kekinian tidaklah perlu dipandang berlebihan, dalam meja percaturan politik jegal menjegal bukanlah hal yang ditabukan oleh konstitusi.

Namun yang perlu diperhatikan sebagaimana ungkapan pepatah “dua gajah bertarung pelanduk mati di tengah-tengah”. Persaingan ini berpotensi mengorbankan bidak-bidak catur yang lebih lemah dan sayangnya rakyatlah yang seringkali mengisi peran itu. Wallah’alam……