Sepuluh bulan begitu saja melesat tanpa terasa. Sejauh itu pula saya telah pergi meninggalkan keintiman di rumah ini. Kesibukan, kemalasan, kejenuhan dan kejumudan pikir serasa kompak membangun persekongkolan untuk meminggirkan saya dari mahligai kemesraan yang telah terbangun selama tiga tahun belakangan. Selama itu pula, diam-diam terbit kerinduan dalam ufuk hati saya yang terasa semakin mengental, lalu memaksa untuk kembali pulang ke rumah saya di sini. Rumah yang reot dan penuh omong rada kosong.

Latar belakang pendidikan dan pekerjaan rupanya telah menyihir jalan pikir, imajinasi dan kehidupan harian saya hingga membuat otak udang di batok kepala ini terus menerus tenggelam dalam wacana politik tanpa akhir. Menempatkan diri saya seolah sebagai “nabi” yang membawa risalah dan pesan suci untuk senantiasa meluruskan segala kebobrokan, kebencian, kepalsuan, kegetiran dan tetek bengek lainnya yang saya sendiri hingga detik ini tak pernah paham untuk siapa. Toh, segalanya tetap saja mengalir tanpa sedikitpun terpengaruh kuasa tangan saya yang lemah dan berlumpur ini.

Namun demikian, melegakan juga rasanya menyadari betapa naif saya selama ini. Rasanya seperti baru saja terbangun dari tidur panjang tanpa mimpi-mimpi indah. Karenanya untuk merayakan momen tak diharapkan ini saya memutuskan untuk tidak malu-malu mengasihani dan menertawai kedangkalan diri saya sendiri. Saya pikir penting dan perlu sesekali kita mengasihani dan menertawakan diri sendiri. Ketimbang akhirnya ditertawakan atau -amit-amit jabang bayi- sampai menjadi objek belas kasihan orang lain.

Dalam perayaan kepulangan ini, saya mencoba membawa angin baru yang semoga terasa lebih segar di “rumah kontrakan” sederhana sekaligus pengap ini. Bukan untuk siapa-siapa, tetapi untuk dahaga dan syahwat pribadi saya sendiri agar semakin mencintai persetubuhan di ruang yang sunyi dan tidak suci ini. Selain juga sebagai bentuk pengharapan tak terukur dalamnya agar terjadi lompatan gaya bertutur dalam membuang unek-unek dan gagasan yang semakin waktu berlari terasa semakin membusuk di dalam cangkang tengkorak yang volumenya tak seberapa besar ini. Saya memang tidak bertekad untuk meninggalkan sepenuhnya hal-hal yang lalu.Tetapi lama-kelamaan bosen juga jemari ini menjalani ritual penulisan artikel yang belakangan baru terasa kaku, serius, berat dan tidak cool. Pembaruan dan ekspansi kecakapan diri saya pikir perlu untuk terus di asah, terutama dalam wilayah yang kita tekuri.

Dalam kompleksitas dan absurbditas yang berantakan itulah saya kembali menyapa rumah ini. Mencoba mendekorasi ulang suasana kebatinan yang telah lebih dulu menyelimuti segala perkakasnya dengan keyakinan yang baru. Dan -berharap- kembali menghidupkan keceriaan di dalamnya dengan segenap kejujuran dan keterbatasan saya sebagai manusia yang, konon, tercipta dalam ketergesa-gesaan dan perasaan yang senantiasa gelisah. Salam.