Perkembangan teknologi yang demikian pesat, terutama terkait dengan teknologi distribusi informasi, perlahan terasa telah sedemikian rupa menggeser mayoritas sel-sel kehidupan sosial kita sehari-hari. Parahnya perubahan itu sekalipun ada dampak positifnya, tetapi justru terasa lebih kental eksesnya.

Memperoleh dan menyebarluaskan informasi kini memang hanya cukup melalui ujung jari. Hanya dalam satu tarikan  nafas saja, kita mampu mengetahui peristiwa-peristiwa paling aktual di kampung-kampung dunia mana saja melalui portal-portal berita dalam jaringan (online). Bahkan tampilan makan siang yang ada di depan meja makan kita pun seketika bisa diketahui oleh kawan kerabat hingga mancanegara.

Dalam pusaran arus informasi yang serba kilat seperti itulah kini lahir generasi-generasi pseudo intelektual alias intelektual palsu. Para intelektual palsu inilah yang belakangan menjadi pemicu debaran jantung dan memaksa kita lebih cepat tua karena seringkali membuat dahi berkerut.

Adalah fakta bahwa dalam ruang tanpa batas yang kita kenal dengan internet saat ini, setiap orang bisa saja menjadi “ahli” dalam waktu singkat. Ribuan informasi berserakan yang bila sedikit saja mau berkeringat untuk memungut, menghimpun dan memelajarinya,  bisa menguasai bidang apa saja yang kita inginkan.

Misalnya untuk mahir membuat puding, kita bisa mencari ribuan tips dan trik membuat puding yang dibagikan secara cuma-cuma di dunia maya. Asalkan mau tekun belajar dan mencoba dengan serius tidak mustahil jika kita menjadi pembuat puding paling enak di tingkat kecamatan dalam waktu satu-dua hari. Begitu pula untuk menjadi ahli pijat, ahli membuat furniture, ahli memasak ayam goreng atau pun beraneka ragam keahlian teknis lainnya.

Celakanya premis tersebut seringkali tidak berlaku untuk bidang-bidang keilmuan yang sifatnya abstrak, ruang lingkupnya luas dan substansinya mendalam. Seperti agama misalnya.

Setidaknya, untuk menjadikan orang awam “berevolusi mental” menjadi dan benar-benar layak disebut ahli dalam bidang agama dibutuhkan pergulatan yang intens, pengujian yang ketat dan legitimasi dari ahli lainnya atau peer group.

Tetapi sebagaimana laju arus informasi yang tak terbendung, agaknya begitu pula tumbuh suburnya intelektual palsu di bidang agama yang tidak memiliki otoritas keilmuan yang dapat dipertanggung-jawabkan.

Fenomena ini sangat mencolok mata pada perilaku mereka-mereka yang suka mengolok-olok kelompok lain yang tidak sepaham padahal tidak tahu-menahu duduk permasalahan, menyebarluaskan konten berita tanpa kaidah jurnalistik yang jelas dan lebih bermuatan fitnah atau mendiskreditkan, debat kusir mengkritisi hingga menjustifikasi masalah-masalah di luar bidang keilmuan para komentatornya atau bahkan menyalahkan secara membabi buta pihak-pihak tertentu yang justru lebih memiliki otoritas keilmuan dibanding dirinya sendiri.

Sungguh miris sekaligus memprihatinkan melihat kecenderungan-kecenderungan di atas semakin meningkat diantara generasi muda saat ini. Hanya bermodal membaca satu-dua artikel yang tidak jelas sumber dan kebenaran kontennya, banyak yang tanpa tahu malu menyesat-nyesatkan profesor yang bertahun-tahun  berkecimpung dan menyelami bidang tafsir kitab suci. Betapa konyolnya.

Belajar agama memang tidak sesederhana membuat puding, butuh pergulatan dan pendalaman bertahun-tahun bukan hanya untuk sekedar memperkaya pengetahuan keagamaan tetapi juga menginternalisasi nilai-nilai agama kedalam perilaku sehari-hari hingga denyutan jantung terakhir.

Agama tentu bukan diturunkan ke bumi untuk sekedar menghakimi dan menghukumi, melainkan juga sebagai penerang jalan bersama-sama, yang sinarnya sangat berlebih untuk menyinari seluruh makhluk tanpa perlu saling berebut atau saling mengalahkan.

Surga yang luasnya melebihi jarak antara bumi dan langit itu akan sepi dan monoton kiranya hanya dihuni oleh satu-dua kelompok yang seragam. Bukankah demikian?