Perkembangan dunia digital membawa arus perubahan demikian derasnya pada kehidupan manusia secara hampir keseluruhan. Tengok saja laku keseharian kita yang makin tak bisa dijauhkan dari perangkat gadget dan segala fasilitas yang melekat padanya.

Digitalisasi segala aktivitas sekarang ini memang sungguh di luar bayangan dan begitu mengesankan. Apapun kini bisa dilakukan dalam perangkat berukuran mini yang tak lebih dari genggaman tangan. Mulai dari mengobrol jarak jauh -bahkan dengan tidak hanya satu orang, aktivitas jual beli yang bahkan tak saling bertemu dan mengenal satu dengan lainnya, bertukar pengetahuan dan opini secara terbuka dan tanpa biaya, mengakses berita dan peristiwa terkini dari tempat-tempat yang tak pernah terpikirkan bahkan memesan ojek. Kerja dan inovasi para developer aplikasi digital itu benar-benar sungguh sangat brilian dan berpengaruh.

Begitu lekatnya dunia digital hari ini bahkan tak jarang dari kita yang benar-benar mengawali detik pertama kehidupan kita di pagi hari, hingga sesaat sebelum mata terpejam malam harinya, dengan  melakukan  kegiatan ritual digital, entah sekedar melirik status sosial media, mengikuti perang atau kuliah online di twitter, percakapan sia-sia di grup whatsapp hingga aktivitas serius lainnya di dalam dunia yang konon maya -lebih fana dari dunia yang fana- ini. Tak berlebihan jika dikatakan bahwa saat ini kita lebih mudah percaya -terpengaruh- pada apa yang kita genggam ketimbang orang tua sendiri.

Digitalisasi aktivitas dan kehidupan keseharian juga tak luput mengubah pola-pola kehidupan keberagamaan manusia -terutama generasi muda sebagai mayoritas pengakses internet di Indonesia. Sebuah konsekuensi peradaban yang tak bisa dicegah oleh siapapun -bahkan Tuhan pun terbukti tak berniat mencegahnya. Segala kemudahan dan kecepatan yang ditawarkan dunia digital, tanpa disadari telah menggeser pola-pola hubungan sosial dan komunikasi konvensional. Karenanya mau tak mau juga dibutuhkan kebijaksanaan dan etika yang tak konvensional pula untuk mengikuti segala perubahan (kemajuan) ini.

Sayangnya, kita terlanjur hanyut tanpa bekal yang tepat dalam mengarungi arus deras digitalisasi hari ini. Persiapan kita memasuki ruang dan waktu digital tanpa disadari sungguh singkat, buruk dan payah -jika tak mau dikatakan tanpa persiapan sama sekali. Sebagai bukti, kita seringkali menjadi terlalu reaksioner dan terburu-buru dalam mengambil kesimpulan dan tindakan akan sebuah informasi. Seolah tak kuasa memilah banjir informasi yang mendera ruang digital, tanpa sadar bahkan kita seringkali menjadi agen permusuhan, pemecah belah, penyebar kebencian, fitnah, penistaan dan berbagai subjek yang memperkeruh keadaan lainnya. Lebih buruk dari itu semua bahkan kita tak memperoleh bayaran sepeserpun atas kerja-kerja efektif dalam menciptakan kegaduhan dan kesimpang-siuran yang rentan ditunggangi kepentingan-kepentingan tak kasat mata.

Di sisi lain, seringkali kita lupa bahwa kehidupan keberagamaan kita tidak hanya terlokalisir pada aktivitas ritual keagamaan. Laku dan perangai sehari-hari juga menjadi bagian tak terpisahkan di dalamnya. Tak terbatas hanya dalam dunia material melainkan tentunya juga digital. Dalam arti bahwa nilai dan ajaran luhur keagamaan tidak bisa kita tanggalkan begitu saja dalam pergaulan digital kita.

Sebut saja, misalnya, sifat rendah hati yang semakin kita lupakan dalam bersosial media. Dalam berkomentar atas opini, peristiwa ataupun perilaku seseorang, tak jarang kita terlalu sinis dan menyudutkan pihak-pihak yang tak seiring tanpa pembuktian yang sahih dan argumen-argumen bernas serta rasional, alih-alih justru kata-kata kasar yang menyerang pribadi bahkan cenderung rasis yang dikedepankan. Tanpa malu-malu kita menjadi begitu agresif dan berdarah dingin. Semacam singa dalam diri kita telah mengaum dan kapan pun sedia menerkam apa saja yang tak sependapat dan satu selera dengan pemahaman kita.

Sharing informasi bertendensi, menyesatkan, fitnah dan menyerang pihak-pihak lain secara telanjang, tidak dewasa dan emosional juga tak jarang kita jumpai belakangan. Entah bertema sosial, politik dan terutama beraroma agama, yang sejenis ini rupanya lebih cepat menyebar dan berkembang ketimbang jenis lain yang lebih bermanfaat dan berguna. Laksana setiap diri kita sedang mengemban risalah suci yang harus secepat mungkin ditegakkan dengan tanpa mempedulikan cara-cara yang tepat dan sesuai dalam menyampaikannya. Terorisme dalam dunia digital sungguh lebih deras, liar tapi tanpa melibatkan darah.

Mengumbar aib orang atau kelompok lain juga menjadi bagian tak pernah terlewatkan. Dengan dalih kebebasan berpendapat dan tradisi berpikir kritis, seolah-olah kita sedang merasa puas jika berhasil menunjukkan kegagalan atau kekeliruan pihak-pihak tak seirama, sekali lagi tanpa disertai penguasaan permasalahan yang cukup, argumen mendalam tetapi justru lebih kental bumbu kebencian. Dan saat kita tengah asyik melakukannya, tanpa sadar nalar dan pemikiran kita berangsur-angsur mengalami pendangkalan.

Lebih jauh lagi yang mulai dilupakan adalah bahwa keterlibatan kita dalam sosial media adalah untuk bersosialisasi, menememukan kembali teman sepermainan, merajut jaring pertemanan baru ataupun mengembangkan relasi-relasi bisnis ke depan, bukan untuk mencari musuh dan permusuhan.

Kehidupan beragama tentu menuntut kita meyakini sepenuh hati bahwa apa yang kita yakini adalah paling benar. Tetapi seberapa yakin kita bahwa kebenaran itu sesederhana pengetahuan kita sendiri? Bukankah kebenaran, pengetahuan, dan ilmu Tuhan tak pernah cukup dituliskan bahkan bila seluruh cairan di bumi ini dijadikan tinta dan seluruh batang pohon dijadikan kertasnya -sekalipun ditambahkan sebanyak itu lagi? Lalu mengapa seringkali kita bisa demikian congkak dalam bersosial media? -bahkan saat kita begitu pengecut dalam menghadapi realitas. Entahlah.