Dalam sebuah percakapan daring (online) di sebuah grup mini yang saya ikuti bersama teman dan teman (sesuai program pemerintah dalam Grup Berencana, 2 anggota cukup), tiba-tiba saja secara spontanitas, begitu, kami bertukar profesi idaman yang berbeda sama sekali dengan profesi kami hari ini.  Dipicu seorang teman yang mengunggah gambar daftar harga stiker dinding, dan mimpi kecilnya menjadi seorang desainer interior, disusul bersahutan impian profesi idaman satu dan sisanya, lagi-lagi karena cuma bertiga.

Sekalipun awalnya hanya sebuah kelakar, perlahan rupanya hal ini mengusik kehidupan nalar batin saya hari berikutnya. Perihal  mimpi “kecil-kecilan” saya untuk menjadi penulis cerpen atau novel yang saya utarakan saat itu. Dorongan yang sebetulnya saya rasakan semakin kuat dalam diri saya belakangan. Hanya saja keberanian dan kecapakan untuk “melukiskannya”, saya rasa, belum cukup daya. Saya sadar betul bahwa niat saja masih jauh dari cukup.

Di sisi lain benak saya pun tiba-tiba memberondong tanya: sedemikian pengecutkah saya tak berani menempuh angan-angan itu atau begitu pragmatisnya-kah pribadi saya sehingga tak yakin akan proses dan hasil yang dapat dipetik dari menekuni mimpi alih-alih mencari hal lain yang setelah dikalkulasi lebih menguntungkan? Atau saya memang tak yakin akan kemampuan saya sendiri? Atau memang saya tak pernah betul-betul ingin mengarah ke sana, seperti halnya impian seorang bocah saat ditanyai dan dijawabinya ingin jadi pilot, dokter dan insinyur yang sesungguhnya profesi tersebut tak dipahaminya dengan jelas. Atau ini, atau itu yang semuanya hanyalah alasan yang saya susun sendiri sebagai pelipur? Boleh jadi begitu.

Kemudian saya mulai menghibur diri -lagi- dengan menegaskan bahwa tergantungnya mimpi-mimpi kami tidaklah sendirian. Ada banyak, entah ratusan, ribuan, jutaan atau biliunan mimpi serupa yang tertambat entah di planet mana di sudut langit sana. Bersama do’a-do’a yang entah mengapa diacuhkan Tuhan.

Tapi bukanah hidup jika tidak begitu, saya mulai menjawab ceracau dalam pikiran sendiri -seolah-olah bijak tapi bisa jadi hanya sebuah pembenaran atas ketidakcakapan. Tidak semua yang kita inginkan terwujud. Tidak semua yang kita kejar tergapai. Berita baiknya, banyak hal baik yang tidak diduga terjadi. Sebuah kejutan hidup yang kadang kita sebut sebagai keberuntungan, keajaiban, anugrah atau pun mukjizat.

Meski demikian, baiknya mimpi tetap dikejar, sekalipun akhirnya bisa gagal lagi juga. Karena toh masa depan sama misterinya, apakah akan berpihak pada kegagalan atau keberhasilan (oh ya mungkin buat mimpi teman saya yabg terakhir paling sulit tercapai karena dia SMA di jurusan IPS, kuliah di ekonomi studi pembangunan tapi berkeinginan jadi fisikawan/ilmuwan).

Di sisi lain, saya tidak akan menghibur siapapun dengan mengatakan bahwa gagal adalah sukses yang terdunda. Bagaimanapun gagal adalah gagal. Dan karenanya kita perlu belajar lagi dan meningkatkan kompetensi serta kelayakan agar menuai sukses di kesempatan berikutnya (baca= ajang motivasi diri).

Pada akhirnya, semua yang berawal dari kelakar akan berakhir sebagai sebuah kelakar. Bahwa saat saya merasa kami, yang terpisah jarak dengan impian, sebagai domba-domba yang tersesat, teman saya menolaknya. Lalu meluruskannya sebagai gembala yang tersesat karena mengejar domba-domba yang tersesat. Tanpa memperpanjang percakapan saya menyetujuinya, dan mengusulkan untuk segera menyatenya jika sang domba tersesat ditemukan.

Lebih jauh saya bersyukur bahwa kami hanyalah gembala, bukan jomblo yang tersesat dan tak tahu kemana arah jalan pulang, seperti kelakar teman saya lainnya dalam sebuah momen percakapan daring yang berbeda. Hehehe..