Entah berlebihan atau tidak,  membeli buku tidak hanya selalu menyenangkan buat saya tapi juga memberi semacam pengalaman spiritual lainnya.

Saya bukanlah pembaca buku yang bisa dibilang rutin,  setiap bulan mesti mengkhatamkan sekian buku. Karena memang terkendala oleh harga yang menurut saya tidak murah,  terutama untuk buku-buku pilihan. 

Bagi saya membeli buku bisa jadi proses yang birokratis,  rumit.  Saya perlu mencari review terlebih dulu atas buku yang akan saya beli,  tentang penulisnya atau tentang pendapat orang mengenainya.  Belakangan saya lebih suka membeli buku selepas mendalami profil penulisnya, bukan tema ataupun judul bukunya.  Bukan apa-apa,  sekali lagi hanya siasat untuk  mengefektifkan rupiah yang mesti saya keluarkan. 

Tentu saya tak mau menghamburkan isi dompet, yang tentu bisa untuk mencukupi barang kebutuhan sehari-hari, begitu saja untuk buku yang diluar genre dan selera saya. Terlebih label best seller seringkali tak mencerminkan kualitas.  Bagaimanapun perlu sedikit referensi agar buku yang akan saya beli nanti tergolong value for money. Sekali lagi karena harga buku di negeri ini tidaklah murah, bagi kantong saya.

Menariknya seringkali setelah buku-buku yang saya beli dibuka dan dibaca, saya merasa buku itu, dimana buku yang saya maksud dalam tulisan ini lebih mengacu pada novela atau kumpulan cerita pendek- tersebut seketika menjadi cermin yang menelanjangi diri saya. Melalui buku-buku ini saya bisa merasai jiwa dalam diri saya sendiri. Bahwa ternyata saya begini atau saya begitu,  semakin saya sadari.

Sering pula buku yang sedang saya baca begitu dekat dengan momen-momen yang sedang berlangsung dalam hidup saya. Entah mengapa bukan satu atau dua buku yang saya baca memiliki kemiripan cerita serta peristiwa. Dan saya merasa ini bukan sebuah kebetulan. Seperti buku-buku itu sedang ingin mengajari saya, menuntun saya mengatasi masalah-masalah yang saya sedang hadapi. Buku, karenanya, seperti memilih saya untuk membacanya dalam momen terbaik dan paling relevan. Entahlah.

Begitupun saya kemudian bisa mengerti kenapa orang bisa begitu atau begini.  Selalu ada motif disetiap tindak-tanduk. Terlepas dari benar atau salah saya menjadi bisa memahami atas apa yang mungkin dilakukan oleh orang lain di dunia nyata.  Sebagaimana kita selalu bisa memahami dan membenarkan mengapa kita melakukan ini atau itu.

Bagi saya perasaan demikian sangatlah bernilai spiritual. Spiritualitas karenanya, menurut saya, tak mesti hanya bisa digali dari teks kitab suci. Malahan jika hanya teks kitab suci saja yang kita pedomani,  yang spiritualitas itu justru berpotensi menjadi kering dan dangkal. Padahal semestinya, masih menurut saya, lapang, semilir dan sekaligus seolah tak tergapai dasarnya. Semakin kita selami, semakin dalam saja rasanya spiritualitas itu seperti tanpa batas. Tiada ujung dan pangkalnya. Seperti luasnya alam semesta.

Sementara bagaimanapun teks selalu terbatas oleh kata, baik makna kata itu sendiri ataupun keterbatasan kita dalam menangkap maksud dari rangkain kata. Selain itu teks perlu ditafsirkan dengan kacamata realitas yang seringkali kompleks dan menghasilkan sudut dan jarak pandang yang tepat.  Multidimensional. Tak ayal bila teks-teks suci yang hanya ditafsir dengan kacamata kuda,  radikalisme dan pemaknaan yang sempitlah yang justru menguasai nalar berpikir kita. Dan buku-buku yang bisa mengasah kompleksitas kacamata kita itulah yang berapapun harganya mesti layak dibeli.  Sekian.