Hidup, konon, tak lepas dari ruang dan waktu. Segala peristiwa terjadi hanya bila memenuhi kedua unsur tersebut. Mutlak. Tak bisa ditawar lagi. Sesuatu yang tidak me-ruang, karenanya, tak bisa disebut ada. Begitupun sesuatu yang tak tersentuh aliran waktu. Begitulah setidaknya menurut keyakinan ilmu pengetahuan, yang positifistik itu.

Ide, misalnya, sekalipun menurut Plato adalah sumber realitas sebenarnya, tapi “terbantahkan” oleh ketiadaan realitas ruang sebagai prasyarat. Ironisnya, keyakinan ini berhulu pada pemikiran aristoteles, murid Plato sendiri. Tapi ilmu pengetahuan bukanlah dogma, sangat bisa dibantah, bahkan oleh pencetusnya sendiri. Dan hingga hari ini, teori soal ruang inilah yang mendominasi pandangan kita, disadari, disepakati dan direstui atau tidak.

Sementara, waktu masih menyisakan banyak misteri dan karenanya juga kontroversi. Sekalipun sudah ada teori fisika yang menerangkan perihal waktu, salah satunya yang paling fenomenal adalah penjelasan Enstein soal relativitas, toh belum cukup memenuhi harapan dan hasrat kita soal waktu.

Ya, rasa penasaran kita soal waktu seringkali bukan untuk menyingkap keadaannya apa adanya. Melainkan lebih pada perasaan dan hasrat kita akan waktu. Terutama rasa bersalah kita saat menjalani waktu.

Itu juga yang menjadikan imaji tentang perjalanan melintas waktu selalu menarik perhatian kita. Kita selalu berharap bahwa waktu benar berjalan dengan tidak linear (searah dan membentuk garis lurus). Bahwa ada jalan penghubung dalam sebuah jalur waktu, yang memungkinkan kita untuk berbelok dari jalur utama dan kembali. Ataupun kita menginginkan kekuatan untuk melipat-lipat waktu, bahkan menghentikan sementara, sehingga mungkin untuk mempermainkan ruang-waktu tersebut.

Hasrat agar kita dapat kembali memasuki ruang waktu yang lalu dengan kesadaran dan tubuh kita hari ini, diyakini, disepakati dan disadari atau tidak, begitu besar menguasai nalar kita sewaktu-waktu. Adalah dorongan yang seringkali mencuat dari masa lalu yang mengundang kita untuk kembali menyapa dan bahkan memperbaikinya. Dan kita pun selalu, dengan naifnya, merasa yakin akan mampu memperbaiki sebab-akibat yang telah terjadi, jika ada kesempatan mengulang kembali putaran waktu.