Di negeri kami membaca adalah perbuatan tabu lagi sedikit tercela. Kami membaca hanya untuk kebutuhan praktis saja. Seperti menghadapi ujian sekolah, perdagangan, dan kepentingan-kepentingan ekonomis lainnya. Itu pun kami lakukan dengan sembunyi-sembunyi. (karena dicap sebagai kutu buku adalah aib yang mesti kami jauhi)

Menyebarkan bahan bacaan adalah ke-tabu-an yang lebih keji lagi. Dulu tindakan seperti ini akan dicurigai sebagai tindakan subversif. Namun sekarang ini era sedikit berubah, kau hanya akan dituduh radikal jika nekat melakukannya.

Aku tidak tahu benar apa beda subversif dan radikal, hanya saja ku pikir keduanya adalah tindakan yang sebaiknya tidak didekati -apalagi dilakukan- oleh warga negara yang baik. Pemimpin tertinggi kami adalah inspirasi terbaik untuk menjauhi bacaan.

Baginya kerja adalah jauh lebih mulia daripada membaca.

Saking gilanya pada kerja pemimpin tertinggi kami tidak lagi perlu membaca apapun yang akan ditanda tanganinya.

Tidak membaca bahwa negerinya sudah bebas utang dari penyedia dana talangan internasional.

Tidak membaca bahwa bila nyali rupiah menciut, akan banyak perusahaan yang gagal bayar utang yang berakibat pada efisiensi yang berarti akan banyak tenaga kerja yang dirumahkan.

Tidak membaca bahwa saat harga-harga melejit -yang konsekuensinya hidup makin sulit- kriminalitas bakal meningkat.

Tidak membaca apa-apa yang dulu dijanjikannya.

Tidak membaca bahwa warganya telah muak dengan penegakan hukum beserta aparat-aparatnya.

Tidak membaca bahwa warganya telah dipenggal di negeri orang.

Tidak membaca bahwa tidak lebih dari setiap dua hari dalam sepanjang tahun ada bayi yang dibuang begitu saja di jalanan. Dan tidak membaca banyak hal lainnya.

Satu-satunya yang pemimpin tertinggi kami baca adalah naskah pidato, itupun tak pernah di reviewnya lebih dulu.

Meski begitu kami tetap sangat mencintai pemimpin tertinggi kami. Kami bahkan berpegang pada dua prinsip ideologis.

Prinsip pertama bahwa pemimpin tertinggi kami selalu benar. Kedua, jika ada kekeliruan kami akan menutup mata serta telinga dan tetap berpegang pada prinsip yang pertama.

Nb: direpro dari status pada FB saya tertanggal 25 april 2015.