Belakangan, ketika dunia terasa makin bising oleh pertengkaran apapun -kamu tahu hari ini orang-orang suka mempertengkarkan apapun melalui sosial media?-, dunia sastra diam-diam mengombang-ambing hati saya.

Mungkin karena saya sedang bosan, stagnan, dan tertawan oleh segala macam ribut di luar sana, dunia sastra yang paradoks itu mampu menjadi pintu ke-luar dari segala ini-itu, meski untuk sementara. Dan saya menemukan secuil makna bahagia karenanya.

Mungkin saya sedang jatuh cinta pada sastra, tapi mungkin juga hanya perasaan suka cinta, meminjam frasa yang saya temui kali pertama di blog eka kurniawan, sementara. Tapi peduli apa dengan akurasi dan detail definisi demikian, bukankah dunia menggelinding dengan banyak kekacauan dan ketidakpresisian? Yang penting bagi saya saat ini, saya menikmati momen kedekatan dengan sastra. Dengan dunia dalam imajinasi kata dari mereka yang liat, sangat menikmati.

Saya belum berpikir panjang tentang kemana rasa nikmat akan sastra ini bakal membawa saya. Saya hanya ingin menikmati dan merayakan keintiman ini. Biarlah segala kemungkinan terbentang di jagad waktu, saya tak mau dan tak butuh spekulasi.