Tiba-tiba saja saya teringat tentang sebuah judul puisi fiktif dalam novel berjudul Salju karya Orhan Pamuk. Judul puisi itulah yang saya gunakan dalam judul tulisan ini.

Novel Salju sendiri masih satu-satunya buku Orhan yang sudah saya baca hingga saat tulisan ini diketik. Saya memang lambat dalam mengenal Orhan, tepatnya terlambat mengenal sastra, lebih-lebih sastra internasional. Lambat sekali, terlalu!

Dalam cerita disebutkan puisi itu lahir dari curhatan seorang pelajar aliyah, Necip namanya, yang dalam hatinya paling dalam mulai meragukan adanya Tuhan. Dan Necip, karenanya, menjadi “ketakutan” memikirkannya.

Saya tak ingin bercerita detail soal novel tersebut ataupun perasaan Necip sendiri, sebagai catatan Necip bukanlah tokoh utama novel itu. Jika anda ingin lebih banyak tahu, bacalah sendiri saja.

Tetapi seperti halnya Ka, penyair yang menjadi tokoh utama dalam novel tersebut dalam menulis puisi, memori soal judul puisi ini tiba-tiba hadir mengusik pagi hari saya yang indah.

Bagi seorang atheis, mungkin mudah menemukan tempat dimana tidak ada Tuhan. Baginya dimanapun bisa menjadi jawaban. Di bumi, di langit, di pasar, di lubang-lubang cacing, di warung remang-remang bahkan di tempat-tempat ibadah.

Namun bagi saya yang berkeyakinan agama, sekalipun sulit dibilang penganut yang ta’at, adalah tidak mudah. Menurut ajaran agama yang saya yakini Tuhan ada dimana-mana. Bahkan dikatakan lebih dekat dari urat leher sendiri. Sekalipun pada hakikatnya Tuhan yang diyakini hanya ada satu, yang karenanya mesti tidak bersifat material.

Ya. Tuhan ada dimana saja. Untuk mencari tempat dimana tiada Tuhan, rupanya tidak semudah itu. Saat saya, misalnya, berbuat hal-hal yang berkonsekuensi dosa pun, saya sesungguhnya sadar ada Tuhan di sana dan tentunya melihat secara terang benderang.

Lalu dimana tepatnya tempat dimana Tuhan tiada? Jika dimungkinkan tempat seperti itu ada, hati para pembenci bisa jadi adalah jawabannya. Yup, di dalam hati orang-orang yang membenci dan memendam dendam, di sanalah Tuhan “tidak sudi” hadir.