Jumat terakhir di bulan ramadhan kali ini membawa sedikit berkesan bagi pribadi saya sendiri. Selain tentunya karena hari tersebut adalah hari gajian lalu kemudian langsung disusul liburan, setelah THR-an pula.

Adalah khotbah yang Khotib Jumat kala itu yang menurut saya menarik dan perlu dikekalkan di sini, sekaligus untuk mengejek ingatan saya yang cekak dan aus. Sang Khotib yang menurut “penghakiman” singkat saya merupakan sosok yang cukup moderat dan memiliki wawasan cukup luas dan dalam terkait problematika sosial, harus diakui banyak penghotbah sekarang ini yang hanya sibuk menghapal dalil sehingga lupa wajah masalah  sosial yang sedang mengemuka dan karenanya isi khotbah yang disampaikan cenderung usang dan tidak tepat situasi (out of context)

Saat itu, Sang Khotib, setelah saya edit dan pangkas isinya, menyampaikan bahwa bulan ramadhan -dan juga kehidupan pada umumnya- adalah ajang bagi manusia untuk berlomba-lomba melakukan kebaikan, fastabikul khoirot. Kebaikan dalam rangka apa? Tentunya dalam beribadah pada sang Pencipta, wa maa kholaktul jinna wal insa illaa liyakbuduun.

Ya, menurutnya ramadhan -juga kehidupan- adalah sebuah ajang kompetisi. Layaknya sebuah kompetisi lainnya, yang karena saat ini dan yang lalu-lalu ramadhan selalu tambah menarik saat ramadhan dihibur oleh kompetisi sepakbola, tentunya juga ada wasit sebagai pengadil. Dalam kehidupan, siapa lagi wasitnya kalau bukan Tuhan, menurutnya. Sebagai pengingat dalam Alquran pun, berkali-kali Tuhan disebut sebagai sebaik-baik hakim.

Karena sesama manusia hanyalah sebagai peserta kompetisi, masih menurutnya, Sang Khotib, tidak tepat kiranya manusia saling menghakimi satu dengan lainnya. Karena itu tentunya merebut hak dan yurisdiksi Tuhan sebagai pemegang otoritas sebagai wasit. Tugas manusia, hanyalah mempersiapkan diri dan menjalani kompetisi sebaik mungkin.

Dalam konteks berlomba melakukan kebaikan tentu tidak tepat kiranya jika diisi dengan saling jegal, saling sikut dan daling tunjuk hidung. Karena perlombaan ini bukan untuk saling mengalahkan satu sama lain. Bukan untuk mencari pemenang tunggal. -Argh! Kiranya semua orang berpemikiran demikian, tak perlulah susah-susah Soekarno merumuskan Pancasila.-

Ada semangat yang sama tentunya dengan kompetisi serupa olahraga, misalnya sepak bola -Piala Eropa atau Piala Amerika- yang menghibur saat sahur di malam hari. Meski tentunya tak sepenuhnya sama.

Sering pula dalam kompetisi muncul hasil-hasil diluar prediksi dan perhitungan matematis. Tak selalu yang berpengalaman dan berpengetahuan adalah yang terbaik. Seperti misalnya, tim Inggris yang ternyata tak lebih baik ketimbang Islandia dalam kompetisi Piala Eropa. Tak mesti juga yang pandai ilmu agama dan rutin ibadah ritual lebih baik dalam menjalani kompetisi dari pada yang secara logika manusia nampak baik. Bukankah mata dan logika Wasit, Tuhan, seringkali tak sama dengan logika peserta kompetisi?

Tapi, sangat mungkin tak sesederhana logika seperti itu pula. Maksud saya jika anda berpikir untuk hanya bermodal perilaku sosial yang baik dan tak perlu berpengetahuan dan beribadah ritual agama untuk menjadi lebih baik dan keluar sebagai pemenang, siapa yang bisa menjamin? Saya tidak bisa menggaransi.

Seperti halnya belum ada yang bisa menggaransi kehebatan Italia -kekalahan Spanyol oleh Italia menjadikan tim ini dinilai berpeluang juara- akan membawanya menjadi jawara Pialq Eropa, atau sebaliknya performa pas-pasan Portugal tidak akan membawanya menuju partai puncak dan menang? Siapa yang akan menjamin siapa yang menjadi pemenang diakhir kompetisi yang tinggal sebentar lagi? Anda?