Bom bunuh diri terasa semakin intens dan karib menjadi bagian dari tindak kriminalitas “berkerudung” agama belakangan hari. Yang mengejutkan bahkan terjadi dalam hitungan jam jelang hari raya Idul Fitri.

Bagi saya hal ini sangat-sangatlah tidak masuk logika. Aksi bom bunuh diri saja, seluas pengetahuan saya yang sempit,  merupakan hal yang terhitung baru di negeri ini,  apalagi di bulan suci mepet hari paling suci. Mungkin karena keawaman saya dan ketakselarasan rasional, filosofis serta emosional terhadap pelaku -yang juga korban. 

Padahal,  menurut tradisi dan keyakinan muslim,  ramadhan adalah termasuk dalam bulan yang disucikan dan karenanya terdapat larangan untuk mengobarkan perang.  Satu-satunya peperangan yang diharuskan adalah dalam rangka memerangi nafsu biologis -juga ego- diri sendiri.

Tapi entah mengapa tradisi dan keyakinan ini begitu mudah dikangkangi, dengan tindakan bunuh diri jelang idul fitri.  Sebagaimana diyakini bunuh diri adalah juga hal yang dilarang keras bagi seorang muslim.  Bahkan dalam kisah-kisah peperangan di masa kenabian,  Nabi tidak membenarkan sahabatnya yang berperang dengan tujuan -menyengaja- mati. 

Saya tak tahu pasti kapan dan dimana aksi bom bunuh diri mulai menjadi bagian dari apa yang diyakini sebagai jihad di kalangan muslim. Hal ini nyatanya telah lebih dulu populer di kalangan milisi dan pemberontak di kawasan Timur Tengah dan Sri Lanka (terutam oleh Macan Tamil). Kawasan Iraq dan sekitarnya mungkin adalah yang paling sering terjadi aksi demikian ini belakangan.  

Sementara berdasar referensi yang paling banyak dikutip, Robert Pape (dalam bukunya Dying to Win: The Strategic Logic of Suicide Terrorism, 2005), professor ilmu politik dari Universitas Chicago, menyebut bahwa Hizbullah-lah yang mempopulerkan bom bunuh diri pada era modern sekarang ini,  sekitar tahun 1980-an, untuk melawan invasi Israel di Lebanon. Para pejuang Hamas pun melakukan hal serupa hingga saat ini. Namun, menariknya, yang lebih sering melakukannya ternyata adalah para pemberontak Macan Tamil di Sri Lanka yang notabene berlatar belakang Hindu.

Melalui studi tersebut,  Pape menunjukkan bahwa mayoritas perjuangan melalui peledakan diri secara global itu, sejauh penelitian masih dilangsungkan, sesungguhnya lebih banyak didorong oleh motivasi yang bersifat non spiritual, yakni perjuangan nasionalisme menentang kolonialisme.

Namun fakta kini terus bergerak. Terutama sejak dideklarasikannya ISIS di Iraq, sekitar lebih kurang dua tahun lalu, teror bom bunuh diri kian intens dan menyebar bahkan ke benua biru,  eropa. Korbannya pun tak lagi spesifik. Pokoknya hajar dulu urusan belakangan. Keji!

Meski keberadaan ISIS sendiri terus menuai kontroversi dan kecaman, bahkan dari komunitas muslim sendiri, simpatisannya ternyata malah tidak surut dan justru terus bergerilnya di berbagai wilayah di dunia,  termasuk di dalam negeri sendiri.

Selama tahun-tahun ini pula, ISIS nyatanya telah menjadi monster yang memakan banyak korban nyawa, bahkan dengan sadis. Memaksa jutaan manusia lainnya meninggalkan kampung halaman, kelaparan dan menimbulkan ketidakpastian masa depan.

Saya tidak yakin jika Tuhan, Allah SWT, Yang Maha Pengasih dan Pemberi Kasih,  menghendaki wajah islam yang demikian bengis dan norak dan konyol.

Seolah surga dengan segala fasilitas mewah juga kemolekan bidadarinya “dijual” oleh ISIS dengan harga yang demikian miring. Mereka tanpa tahu malu mendaku sebagai pemegang otoritas atas surga dan karenanya bisa seenak udel mengobral tiket masuk ke sana.

Tapi, sebagaimana bazar murah dan gebyar diskon pada umumnya,  selalu saja banyak yang terjebak bujuk rayu dan tergoda. Lalu buta. Gila.