Konyol. Kata paling presisi untuk merangkum peristiwa yang baru saya lakoni. Dan maaf, sebelum melanjutkan barisan kalimat selanjutnya,  perkenankan saya untuk menertawakan diri sejenak.   
            
                    ******************

Alkisah pagi ini adalah jadwal penerimaan penghargaan komperisi menulis opini/feature yang diselenggarakan oleh Bapermades Provinsi Jawa Tengah dalam rangka memperingati bulan Gotong Royong. Saya tidak mau menyebut ini sebagai kebetulan,  tetapi lebih senang jika kita sebut saja sebagai peruntungan,  bahwa tulisan saya ~yang kacau dan tanpa bentuk~ saya meraih tempat ketiga terbaik kategori umum/PNS.

Kenapa peruntungan?  Menurut perkiraan bukan karena tulisan saya bagus hingga menang di posisi tiga, hanya saja kompetisi demikian memang seringkali sepi peminat. Ya begitulah! Tak perlu menyebut ini ironis,  biasa aja dan mungkin sudah sepantasnya demikian.

Menurut surat undangan yang saya peroleh,  baik melalui email ataupun telepon,  dan tentu juga semua penerima penghargaan lain peroleh,  acara baru dimulai jam 9 setelah jadwal konfirmasi peserta dimulai jam 8.

Sebagaimana acara pada umumnya di negeri ini,  molor dan baru dibuka jelang pukul 10 pagi.  Dengan dimulai seremonial pembukaan dan sambutan dan blablabla. Tibalah kami dipanggil untuk menerima reward secara simbolik.  Setelah dibacakan nama dan judul tulisan masing-masing, pemberian plakat dan voucher dan sertifikat. 

Dua peringkat di atas saya menerima dan menggenggam ketiga items yang saya sebut dengan mulus. Selama prosesi itu pula,  saya cukup salah tingkah dan tak tahu mesti berdiri bagaimana sebelum menerima printilan-printilan di atas.

Saya memasang sedikit senyum kikuk, berdiri agak sempoyongan seperti pohon kering yang diombang-ambing angin.  Pun dengan seragam yang saya balutkan dalam tubuh,  berwarna coklat pucat,  membuat saya seperti seorang Office Boy yang beridiri di tempat tak semestinya. Terjadilah peristiwa canggung itu,  saya merasakan detik demi detik berdentum ditelinga saya dan seolah darah terpompa perlahan ke otak dengan adegan very slow motion.

Situasi bertambah parah saat, beberapa orang mengambil citra diri kami melalui kamera ataupun gawai cerdas dengan jarak yang menurut saya tidak proporsional.  Terlalu dekat. Menghalangi pandangan saya ke depan.  Saya merasa semakin canggung saja.  Padahal berdiri di depan khalayak seperti itu tidak terlalu memberatkan biasanya.  Hanya saja hari ini hari memang terasa lain,  mungkin karena firasat adanya reshuffle kabinet.  Oh ya maaf tak ada hubungannya, setidaknya secara nalar.

Singkat kata,  tibalah giliran saya. Menerima plakat dan bersalaman,  Menerima lembaran sertifikat dan satu item sisanya.  Awalnya masih cukup lancar juga. 

Hingga saya kaget saat pejabat pemberi items tersebut menjulurkan tangan kanannya lagi, meminta kembali bersalaman. Tak ingin mengecewakan dan mempermalukannya,  saya berinisiatif menumpuk segala items di tangan kiri dan saat berjabat tangan plakat terlepas dari tangan kiri dan gubraaakkkk.

Plakat terlepas dari pelukan hingga menggelinding cukup keras dan terbelah menjadi dua. Semua hadirin tampak memusatkan pandangannya pada kecerobohan itu,  seseorang entah dari mana mendesis seolah saya anak umur tiga tahun yang terlalu banyak tingkah.  Saya menghibur diri dan menyelubungi rasa malu saya dengan sedikit mengembangkan senyum dan mengucap beberapa kata penglipur.

Tetapi dalam hati saya sungguh merasa kacau,  konyol. Dan bagaimanapun terasa kecanggungan situasi dan diri tak bisa saya tutupi.

Malu. Sangat malu. Lebih dari sangat malu. Dan memalukan!!!