Belakangan dunia pendidikan kita penuh sesak oleh beragam polemik. Mulai dari rentetan kriminalisasi guru, bongkar-pasang menteri yang menggawangi, hingga wacana sekolah sehari penuh yang disodorkan oleh menteri baru.

Polemik sekitar dunia pendidikan tersebut begitu bising kita dengar dari layar kaca, baik layar yang menyiarkan siaran berita di tengah ruang keluarga ataupun layar kaca yang kita genggam, tempat kita bersosialisasi secara digital.

Tak sedikit dari kita terpancing, dan  secara suka rela memang menyukai, untuk menyelam sembari minun air dalam kegaduhan demikian ini. Apapun topiknya. Tak peduli kalau sebetulnya tak kita kuasai permasalahannya. Pokoknya hajar dulu urusan bisa belakangan.

Awalnya secara pribadi saya tidak terpikat untuk ambil peran dalam kegudahan-kegaduhan serupa ini. Selain tidak punya cukup bekal kedalaman pengetahuan, debat kusir macam begini lebih banyak berujung pada menengangnya otot saraf leher dan tangan yang kencang mengepal karena kram alih-alih mengalirkan air jernih nan suci mensucikan. Kuldesak. Tak sampai dimana-mana.

Sementara itu tulisan ini memaksa dilahirkan, sebagaimana tulisan-tulisan sebelumnya yang seringkali membuat saya sulit tidur jika tidak segera dibariskan. Mungkin karena hati saya tergelitik, terutama lebih untuk menertawakan diri sendiri, ketika banyak orang kemudian menyentil soal pendidikan karakter. 

Ada yang merujuk pada pola pendidikan Finlandia, Jepang, dan negara lain sebagainya, yang seringkali seolah ingin mentasbihkan diri kita sebagai bangsa yang inferior dan bagian paling menyedihkan lagi ketika kita lihat bahwa faktanya memanglah demikian. Nasib.

Saya tidak tahu bagaimana sistem dan pola pendidikan yang paling tepat untuk kita terapkan bagi seluruh sekolah di pelosok tanah tumpah darah. Seharian penuh atau sekelebat hari, berbasis kompetensi atau berbasis imajinasi, bertaraf internasional atau bertarif internasional, banyak PR atau banyak les, dengan ujian nasional atau tidak.

Yang saya yakini bahwa semestinya bukan sistem tunggal yang harus diterapkan untuk seluruh sekolah dari Aceh hingga Papua. Mesti ada yang diperlakukan secara prioritas berdasar kebutuhan masing-masing wilayah. Sulit? Bukankah sudah tugas pendidikan untuk memudahkan segala kesulitan hidup manusia?

Kembali soal pendidikan karakter, yang  memicu kelahiran tulisan ini, yang konon lebih dibutuhkan dan mendesak. Menurut keyakinan saya, yang seringkali goyah dan meragu, lebih banyak dipelajari anak-anak kita di rumah dan pergaulan sosial -sekarang juga digital- ketimbang di ruang kelas sekolah. Anak-anak kita lebih banyak menduplikasi praktek kehidupan keseharian ketimbang doktrin-doktrin moralitas ala bangku sekolah.

Celakanya seringkali  ruang-ruang tersebut bertolak belakang satu dengan yang lainnya, dan doktrin moral sekolahan paling rentan terpinggirkan.

Sebagai contoh:

1. Sekolahan mengajarkan anak-anak untuk membuang sampah pada tempat sampah melalui ilustrasi cerita atau tugas mencongak mengisi titik-titik dalam sebuah mata pelajaran yang berisi banyak petuah-petuah lainnya yang mesti dihafal satu persatu dalam waktu bersamaan dan tempo sesingkat-singkatnya. Sementara kita, orang tuanya, memberikan pengalaman praktek kerja lapangan harian dengan membuang sampah di pinggir jalan, di aliran sungai atau melalui lubang jendela kaca mobil. Pyaarrrr….

2. Guru sekolah mengajarkan anak kita untuk menaati aturan rambu lalu lintas, dengan cara yang belibet sebagaimana diutarakan dalam poin sebelumnya. Lalu kita, lagi-lagi orang tuanya yang cuma bisa ngomong doang tapi tidak memberi contoh baik, mengajak jalan-jalan berkeliling kompleks tanpa mengenakan helm dengan alasan dekat dan seringkali menerabas lampu merah dengan alasan tidak ada petugas. Brrrrr….

3. Pelajaran sekolah mengajarkan betapa luhurnya berkata jujur dan nistanya sebuah kebohongan, sementara lagi-lagi tiada lain dan tiada bukan kita orang tuanya, meminta anak-anak kita berbohong tentang keberadaan kita ketika misalnya, ada tamu yang tak diinginkan datang. Entah penagih hutang kreditan, tetangga yang suka ngutang atau peminta sumbangan yang kita yakini abal-abal. Pyuuhhh….

4.  Buku sekolah mengajarkan agar kita bisa saling menghargai pendapat orang lain, toleransi. Sementara kita, orang tua yang paling tahu apa yang terbaik bagi anak-anaknya, seringkali tanpa babibu memaksakan ini-itu kepada anak-anak kita yang juga punya dunia, imajinasi dan obsesinya sendiri. Melarang begini-begitu tanpa penjelasan dan diskusi yang masuk akal, atau setidaknya mendengarkan keinginan dan argumentasi anak terlebih dulu. Nyumnyumnyum…

5. Bangku sekolah mementingkan betapa anak-anak kita mesti menepati janji, pentingnya menjaga integritas dengan membenamkan nilai moral bahwa janji adalah hutang. Sementara di rumah kita banyak memberi janji-janji palsu sekedar untuk membuat anak tidak merengek dan menangis, sementara kita tak pernah berniat benar-benar menepatinya. Sudahkah menghitung berapa gunung hutang yang telah kita bangun untuk mereka tanpa sedikitpun rasa bersalah mempertaruhkan integritas di mata mereka?

Beberapa daftar bisa anda tambahkan sendiri, sejauh anda mau jujur bercermin melihat buruk muka sendiri -dan jika boleh saya sarankan sebanyak mungkin mentertawakannya dibanding berupaya membelah cermin yang dapat berpotensi melukai tangan atau menambah buruk muka sendiri.

Begitulah adanya, sudah sering kita bandingkan perbedaan sistem pendidikan negeri ini dengan negara lain, tapi alpa kita bandingkan cara orang tua di sana mendidik dengan yang kita lakukan di rumah.

Tapi bukankah memang begitu fungsi adanya sekolahan? Untuk bisa kita persalahkan atas ketidakbecusan kita mendidik anak-anak kita sendiri.